10 Hal Ini Adalah Kesalahan Dalam Mendidik Anak, Nomor 4 Sering Dilakukan

10 Hal Ini Adalah Kesalahan Dalam Mendidik Anak, Nomor 4 Sering Dilakukan

Ada banyak kesalahan yang bisa jadi kita lakukan sebagai orang tua. Kadang membentak anak, kadang marah sama anak, kadang tidak menghargai jerih payahnya.

Aku sendiri saban hari seringkali merenungi hal itu. Itu ku lakukan setiap kali memandang wajah anak yang tertidur pulas.

“Anak ini adalah buah hatiku,” pikirku. Akulah yang mengandung dan melahirkannya. Setiap hari aku melihatnya tumbuh. Perlahan-lahan mulai dari hari pertama sejak ia menangis di dunia ini, hingga kelak entah sampai waktu kapan.

Anakku adalah sebuah harapan. Harapan ia akan menjadi anak cerdas, tangguh, berkarakter mulia, dan berbakti pada orang tua. Tapi kadang aku sendiri yang dengan disadari atau tidak disadari malah meruntuhkan harapan itu. 

Sehari sebelumnya aku malah menakuti-nakuti anak yang ku harapkan tumbuh sebagai anak pemberani. Kemarin ia menangis keras. Lama. Spontan saja aku bilang pada anakku yang usianya baru 1,5 tahun kalau ia nangis terus nanti bisa diculik sama hantu.

Anakku menatap wajahku. Aku bilang lagi, “Tuh, hantunya disana lho. Mau diculik hantu?”

Ia lalu diam. Walau masih sesenggukan. Tapi ia terlihat berusaha menangis tangisnya.

Aku baru sadar bahwa menakuti-nakuti anak ternyata bisa membuatnya tumbuh menjadi seorang penakut: takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakutinya. Misalnya: takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita tentang hantu, jin dan lain-lain. Dan yang paling parah, tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri.

Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakuti-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak akan semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.

Ternyata setelah ku baca-baca lagi tentang dunia parenting, setidaknya ada sepuluh kesalahan yang mungkin dilakukan oleh para ibu. Kesalahan mendidik ini sebenarnya wajar saja, dan sangat mudah ditemukan pada setiap ibu.

Dan ku rasa memang sulit untuk menghindarinya. Untuk tidak melakukannya. Kadang selalu saja keceplosan. Spontan. Tak sadar. Dan karena itulah aku sadar, bahwa menjadi seorang ibu ternyata sebuah proses belajar yang tak pernah berhenti. Tak ada lulusnya.

Yang pertama sudah aku sampaikan di atas.

Yang kedua, kesalahan yang sering kita lakukan adalah mendidik anak menjadi sombong, congkak terhadap orang lain. Kita suruh anak untuk pamer baju pada temannya, misalnya begitu. Sikap yang benar adalah rendah hati. Percaya diri namun tetap rendah hati. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

Yang ketiga, membiasakan anak-anak hidup bermewah-mewah dan berfoya-foya. Kadang aku juga berpikir, bahwa anak-anakku tidak boleh merasakan kesusahan hidup yang ku alami dulu. Namun sebagai orang tua kadang kebablasan. Malah cenderung membiasakan anak untuk hidup bermewah-mewah, mementingkan dirinya sendiri, dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar.

Anak harus punya empati. Punya kepedulian terhadap nasib orang lain yang mungkin kurang beruntung.

Yang keempat, selalu memenuhi permintaan anak. Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya: si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru.

Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaannya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.

Yang kelima, hampir sama dengan diatas. Yaitu selalu memenuhi permintaan anak saat ia sedang menangis, terutama saat ia masih kecil. Ini namanya anak tantrum. Anak yang ngambek dan ngamuk saat keinginannya tak terpenuhi. Justru bila memenuhi permintaannya akan emmbuatnya menjadi anak yang lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

Yang keenam, terlalu keras dan kaku dalam menghadapi anak, melebihi batas wajar. Misalnya, dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lain. Ini kadang terjadi, ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

Yang ketujuh, terlalu pelit pada anak-anak, melebih batas wajar. Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya, mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan berbagai cara. Misalnya: dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain.

Yang kedelapan, tidak mengasihi dan menyayangi anak. Apa yang dibutuhkan agar anak kelak dewasa menjadi orang sukses dan berbakti pada orang tua? Didiklah dengan penuh rasa cinta. Saat kita marah pada anak, bukan karena kita membencinya. Tapi karena kita cinta padanya. Sikap yang dilandasi cinta akan tampak pada raut wajah dan perilaku. Ia terpancar dari dalam diri.

Yang kesembilan, hanya memperhatikan kebutuhan jasmaninya saja. Anak itu punya jasmani dan rohani. Terkadang kita hanya memperhatikan penampilan fisiknya. Memberikan makanan bergizi pada anak itu wajib dan perlu, namun memberikan “makanan” pada rohani anka juga sangat perlu. Ajarkan anak untuk beribadah sejak dini. Berikan pendidikan moral dan karakter.

Anak juga harus dididik agar tumbuh cerdas otaknya. Berkepribadian baik. Bisa dibaca disini aja tipsnya  13 Tips Mendidik Anak Cerdas.

Yang kesepuluh, terlalu berprasangka baik pada anak. Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman-teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba anaknya jadi nakal, lalu kaget. Padahal sebenarnya orang tua dahulu kurang perhatian.

Mungkin uraianku diatas terlalu panjang. Tapi kesalahan-kesalahn itu memang seringkali dilakukan. Termasuk olehku. Sebagai orang tua maka tak ada yang namanya berhenti belajar bukan? Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Happy parenting ya… ^_^

.

.

Oleh: Rini Kusuma, Asal Jogja, tulisan ini terinpirasi dari berbagai kejadian dan referensi.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu