HomeTutur KamiCara Melihat Cinta Seorang Istri

Cara Melihat Cinta Seorang Istri

Tutur Kami

Cinta seorang wanita, kata suamiku, bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Entah itu secangkir teh, kopi, atau bahkan susu.

Saat suamiku berkata seperti itu, aku tak langsung memahaminya. Namun aku tak begitu kaget dengannya. Suamiku memang suka dengan hal-hal begitu; mengait-kaitkan berbagai macam hal yang ada dengan sesuatu yang ia mau.

Bukan kali ini saja ia mengatakan padaku soal cinta yang tidak bisa langsung ku pahami. Dulu sewaktu kami belum menikah, ia seringkali berkata bahwa cinta itu seperti hujan. Pikirku itu cuma rayuan gombal saat kami sedang duduk-duduk menanti hujan reda.

“Jadi begini, mulai dari pilihan suhu air. Ia akan tahu kapan waktunya menyajikan minuman yang panas; hingga membuat si peminum harus meniup-niupnya dulu. Ia juga tahu kapan menyajikan minuman yang tidak terlampau panas tapi juga tidak dingin; yang bisa diselesaikan dengan sekali dua kali teguk,” lanjutnya.  

Aku hanya mendengarkan saja. Mencoba memahami maksud perkataannya.  Saat itu kami sedang berbaring berdua di kamar.

Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Dari takaran gula. Ia tahu seberapa pas takaran itu. Seberapa manis harusnya minuman yang ia sajikan. Tidak terlampau manis agar rasanya tidak hilang, namun juga tidak kurang agar tidak pahit atau hambar,” katanya.

“Dari cara mengaduknya. Adukannya akan terlihat pada air dalam minuman yang ia sajikan. Membentuk pusaran yang mengalir halus atau beriak-riak tak beraturan. Kamu bisa melihat suasana hatinya hanya dari pusaran dari segelas minuman yang ia sajikan.”

“Cinta seorang wanita bisa dilihat dari caranya menyajikan segelas minuman hangat. Yang tiba-tiba ada di atas meja makan setelah kamu mandi. Setiap pagi. Setiap hari. Tanpa pernah dirinci berapa pengeluarannya per hari.”

Aku mulai mengerti apa yang ia katakan.

Suamiku ini, sejak kecil dulu selalu terbiasa meminum susu coklat hangat sebelum pergi sekolah. Sejak ia duduk di bangku TK hingga lulus kuliah, hal itu terus dilakukan saban pagi. Maka lebih dari lima belas tahun, tiap pagi suamiku akan minum susu coklat hangat.

Bukan buatannya, juga tentu saja buatanku, tapi buatan ibunya. Ibunya yang penuh ketulusan dan keihklasan dan jauh dari kata lelah membesarkannya.

“Aku tak akan bisa membuat susu coklat seperti buatan ibumu, Mas,” kataku.

“Bagaimana mana mungkin aku bisa mengalahkan secangkir susu buatan ibumu yang telah kau minum ribuan gelas selama puluhan tahun?”

Suamiku tersenyum. Ia memandang wajahku sesaat, menatap mataku sebelum akhirnya berkata, ”Aku tak memintamu untuk mengalahkan susu buatan ibu, Sayang. Aku cuma berkata bahwa cinta seorang wanita bisa terlihat dari cara dia menyajikan minuman.”

Aku tersenyum mendengarnya.

“Aku akan membuatkanmu susu hangat tiap pagi, bukan karena ingin mengalahkan susu buatan ibumu. Tidak. Hanya ingin membuktikan pada ibu, bahwa anaknya jatuh di tangan yang tepat.”

Ia memandangku. Tersenyum. Lalu mengecup keningku dengan lembut.

“Kau lihat, anak-anak kita. Kelak saat mereka besar, aku juga ingin mendengar bahwa mereka akan mengatakan; tidak ada yang bisa mengalahkan susu hangat buatan Mamanya,” kata suamiku menutup pembicaraan mesra malam itu.

.

.

Dari: Redaksi Tutur Mama, terinspirasi dari novel Cinta Didalam Gelas, karya Andrea Hirata. Disajikan kepada para Mama agar bisa menjadi sebuah inspirasi yang makin menambah rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *