HomeTutur KamiJangan Bebani Anak, Tapi Semangati

Jangan Bebani Anak, Tapi Semangati

Tutur Kami

Apa beda menyemangati seorang anak dengan membebani?

Misalnya begini; kita ibaratkan sedang mengikuti sebuah lomba lari seratus meter. Kita bersiap di garis start. Begitu tanda mulai dibunyikan, dengan sekuat tenaga kita berlari menuju garis finish.

Bagaimana agar lari kita bisa lebih cepat?

Gampang.

Suruh saja seekor anjing galak dengan taring tajam mengejar di belakang kita. Alhasil, kita pasti akan berlari kencang sekuat tenaga menghindari kejaran anjing itu. Tak terasa garis finish sudah tercapai.

Atau bisa juga, kita taruh hadiah di garis finish. Kita dengarkan sorakan penonton yang memberi semangat. Kita lihat lambaian tangan orang terkasih di ujung lintasan. Semangat tambah kuat. Dan tenaga untuk berlari seakan berlipat-lipat.

Hasilnya mungkin saja sama; garis finish, namun ternyata dua kondisi tersebut menimbulkan perbedaan besar dalam psikologi kita.

Kadang kala sebagai orang tua kita menginginkan yang terbaik bagi anak. Kita perintahkan anak untuk belajar ini, itu. Mengikuti berbagai kegiatan les yang bisa jadi menyita sebagian besar harinya. Namun tak sedikit anak yang ternyata malah tak bisa menikmati kegiatan yang super padat itu. Anak bisa saja cerdas, tapi tidak tangguh jiwanya. 

Kegiatan itu baik adanya, asalkan dengan syarat bahwa anak melakukan semua itu tanpa merasa terpaksa dan terbebani. Mereka mau belajar dengan gairah dan semangat tinggi. Walaupun tetap saja jiwa anak memerlukan hiburan dan penumbuhan jiwa.

“Kalau motivasi yang kita tanamkan pada anak,” kata Fauzil Adhim dalam bukunya, “maka mereka akan senantiasa memiliki semangat dan kesegaran untuk mengejar cita-citanya. Tetapi kalau ia kita paksa untuk meraih sesuatu yang kita harapkan mereka miliki, maka kitalah yang menjadi anjing penjaga itu. Anak-anak kita belajar bukan karena haus ilmu, melainkan karena takut pada orang tuanya.”

“Namun ada kalanya paksaan terhadap anak itu diperbolehkan, selama hal itu berkaitan dengan haq dan bathi,” lanjutnya.

Maka sudah menjadi tugas setiap orang tua untuk membangkitkan semangat anak, bukan membebani dengan tuntutan-tuntutan yang membuat anak merasa seoalah dikejar anjing. Semangati anak-anak kita, dan jangan bebani dengan sesuatu di luar kesanggupannya. Bangkitkan dalam jiwa anak untuk tidak pantang menyerah, bangkitkan rasa empati dan kepedulian anak, bangkitkan rasa ingin tahu anak untuk selalu belajar. Berikan juga keceriaan pada anak. 

Lantas bagaimana cara menyemangati anak?

Ada banyak caranya. Orang tua bisa dengan cara tidak memarahi anak saat anak tidak bisa atau gagal dalam melakukan sesuatu. Misalnya saat anak belajar naik sepeda dan terjatuh, jangan marahi anak. Tapi berilah semangat. Selain itu bisa juga dengan menggunakan kalimat positif, misalnya saja “Ayo, Nak. Kamu bisa!”

Bisa juga dengan memberikan cerita-cerita yang menumbuhkan motivasi. Bisa juga disisipi dengan menanamkan kepada anak cita-cita yang luhur.

Jadi, Ma. Jangan bebani anak, tapi semangatilah mereka. Jangan kerdilkan jiwa anak yang baru tumbuh.

Teringat sebuah hadits Rasulullah Saw sebagai penutup tulisan pendek ini. “Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”

Beberapa orang di sekeliling Rasulullah Saw bertanya, “Bagaiaman cara membantu berbakti, ya Rasulullah?”

“Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya, tidak pula memakinya.”

Mari kita tumbuhkan semangat pada anak-anak kita. Happy parenting, Ma…

.

.

Oleh: Redaksi Tutur Mama, baca tulisan lainnya dari redaksi dengan klik disini.

Comments

comments

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *