HomeTutur KamiBeginilah Cara yang Benar Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Pada Anak

Beginilah Cara yang Benar Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Pada Anak

Tutur Kami

Seorang anak yang usianya masih satu tahun tidak bisa membedakan; baju jelek dengan baju bagus. Ia tidak bisa membedakan mana yang bahannya dari katun ataupun dari katun KW. Anak usia tiga tahun juga tidak peduli, berapa harga baju yang ia kenakan. Ia juga tidak peduli apa merk sepatu yang dipakai.

Bagi mereka, anak batita itu, yang penting adalah mana yang Mama atau Papa berikan pada mereka. Lalu setelah itu mereka akan berjalan dengan gagahnya.

Eits, tak berapa lama Mama dan Papanya lalu memberi tahu si anak.

“Pakai baju itu harus yang bagus. Yang bermerk yaa, ini sudah Papa belikan,” kata si Papa.

Akhirnya lambat laun, si anak yang tumbuh dewasa nantinya akan malu bila ia memakai baju yang tidak ada merknya. Ia tidak percaya diri memakai baju yang merknya tidak terkenal. Mungkin karena tidak sama dengan teman-temannya yang lain.

Saya juga lalu teringat dengan kisah lainnya, tentang seorang anak yang baru belajar bicara.

‘’..aaaawaaattttt…….,” katanya sambil menunjuk pesawat yang lewat di angkasa.

“Pesawat, yaa… Bilang lagi, pe..sa..wat…,” ujar ibunya membenarkan.

Namun anak itu masih belum bisa mengucapkannya dengan jelas. Ia masih terbata-bata. Dan si ibu, dengan semangat dan sumringah, tetap saja bersabar untuk mengajarkan anak bicara dengan benar.

Tidak hanya kata pesawat, si ibu lalu menunjuk apa saja di depannya sambil mengucapkan nama benda-benda itu pelan-pelan pada si anak.

Waktu berlalu, anak telah tumbuh. Kini ia lancar bicara. Akibatnya, seringkali si anak bertanya ini itu pada Mamanya.

“Ini apa, Ma…?”

“Kalau itu apa ya Ma..? Kok pesawat bisa terbang ya, Ma? Papa kemana? Kerja? Dimana Papa kerjanya? Kapan Papa pulang?”

“Ma, ikan itu minum enggak ya Ma? Bobo enggak kalau ikan itu?”

Anak itu banyak bertanya. Dan Mamanya kewalahan menghadapi pertanyaan anaknya. Pertama karena si Mama juga tidak bisa menjelaskan secara detil semua pertanyaan anak. Kedua, karena itulah si Mama lalu merasa sebal.

Jengkel anaknya banyak bertanya. Akhirnya ia berkata, “Diam ah. Banyak tanya kamu!”

Si anak kaget. Menunduk. Akhirnya ia takut untuk bertanya kembali. Lambat laun hal itu akan terbawa sampai ia dewasa, dan ia tumbuh menjadi orang yang malu untuk mengajukan pendapat di depan umum.

Ma, Pa..

Bukankah hal itu seringkali kita dapati dalam kehidupan sehari-hari? Yang bila direnungkan, maka bisa jadi penyebab utama anak tidak percaya diri adalah karena orang tua keliru mendidiknya saat kecil.

Lantas apa yang mesti kita lakukan?

Fauzil Adhim, seorang pakar parenting, menulis dalam bukunya mengenai hal ini, orang tua sebaiknya berhati-hati dalam memberikan ransangan pada anak di usia hingga enam tahun. Ransangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat anak-anak lebih cerdas, tapi juga potensi mereka akan berkembang.

Menguatkan jiwa anak, sekaligus rasa percaya dirinya, bisa dilakukan dengan mencontoh apa yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah Saw. Fauzil Adhim mendasarkan pendapatnya pada kutipan khutbah Rasulullah Saw saat haji wada’.

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehoramtan kalian, sama mulianya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang bukan Arab, kecuali karena takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Inilah ajaran, tulis Fauzil Adhim dalam bukunya Positive Parenting, yang membuat sahabat-sahabat Rasul dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar.

Kepercayaan diri mereka tinggi karena mereka yakin bahwa kemuliaan tidak terletak pada pakaian yang dikenakan tapi pada takwa. Mereka tidak merasa lebih rendah, namun di sisi lain tidak merasa lebih tinggi alias tidak sombong.

Inilah rasa percaya diri yang tepat tidak merendahkan diri dan tidak pula merendahkan orang lain. Yang ada dalam dirinya adalah kepercayaan diri yang dibarengi dengan kerendahan hati.

Maka mendidik anak agar punya percaya diri bukanlah dengan mengatakan kepada anaknya tentang bagusnya baju yang dipakai dan itu membuatnya tampak ganteng atau cantik. Mendidik percaya diri pada anak bukan pula dengan menghalangi dan menghambat rasa ingin tahu anak.

Tidak.

Namun dengan cara menanamkan keimanan dan ketakwaan sejak dini mungkin.

.

.

Oleh: Redaksi Tutur Mama, baca tulisan lain dari redaksi disini. 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *