HomeTutur KamiAnak Juga Bisa Stres, Kenali dan Tangani Dengan Cara Ini…

Anak Juga Bisa Stres, Kenali dan Tangani Dengan Cara Ini…

Tutur Kami

Sebelumnya saya hanya tahu bahwa bayi rewel karena mungkin dia lapar. Selain itu saat anak susah tidur, yang lengket terus sama ibunya hanya karena anak ingin bermanja-manja dengan ibunya. Tapi ternyata perasaan seorang bayi pun hampir sama dengan orang dewasa.

Bedanya kita -orang dewasa- bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, dengan bicara, namun bayi tidak bisa. Ia belum bisa ngomong apa yang ia rasakan.

Tak pernah saya membayangkan bahwa seorang bayi juga bisa stress. Dunia anak yang ceria, yang hanya karena kita berciluk-baa, dia akan ketawa menggemaskan, tersimpan perasaan untuk stres.

Hal itu saya ketahui setelah membaca artikel parenting yang judulnya langsung meruntuhkan asumsi kita semua; Bayi Juga Bisa Stres. (Walaupun tingkat stres anak, tentu saja berbeda dengan orang dewasa).

Katanya, ada gejala-gejala tertentu yang bisa dilihat pada bayi saat ia sedang stres.

Pertama, rewel dan menangis. Menangis, ya. Apa yang bisa dilakukan bayi? Cuma menangis. Saat ia lapar, ia cuma bisa menangis. Tidak bisa ngomong, “Mamah, aku lapar neh. Minum susu dong.” Tidak bisa.

Menangis adalah tanda paling mudah untuk kita kenali bila bayi sedang stres. Bila bayi sering menangis tanpa sebab, dan semakin lama dan keras suara tangisnya, bisa jadi ia sedang stres.

Kedua, murung. Bisa terlihat dari raut mukanya. Bisanya ceria, biasanya tertawa memperlihatkan giginya yang baru ada dua buah. Bila anak terlihat murung dan enggan diajak bermain, itu adalah salah satu gelaja anak sedang stres.

Ketiga, tidur gelisah. Anak batita sangat membutuhkan tidur nyenyak dalam masa pertumbuhannya. Bayi kadangkala tidak tidur nyenyak. Nah, kita harus waspada bila bayi kecil kerap tidur gelisah. Terlebih bila bukan karena popoknya basah, haus atau lapar.

Keempat, perubahan kondisi fisik. Stres bisa menyebabkan anak sulit makan sehingga berat badannya berkurang. Selain itu stres biasanya menyerang organ paling lemah, misalnya kulit. Tanpa pemicu alergi, kulit seseorang bisa menunjukkan gejala alergi karena stres.

Kelima, tidak mau lepas. Anak maunya di gendong terus? Ditinggal lima meter saja dia sudah menangis? Biasanaya anak gak begitu, tapi entah kenapa tiba-tiba tingkahnya jadi nempel mulu kayak perangko?

Lantas apa saja yang menjadi penyebab anak stres? Ternyata cukup banyak. Diantaranya adalah:

  • Kebutuhan dasar tidak terpenuhi. Lapar atau haus dan tidak segera memberinya makanan atau minuman. Sering ditinggal sendirian sehingga kurang perhatian.
  • Rasa sakit dan tidak nyaman. Bayi tidak dapat mengatakan jika bagian mana dia merasa sakit atau tidak nyaman. Bila orang tua atau pengasuh tidak bisa mengenali sumber penyakit itu, bayi bisa stres.
  • Ayah dan ibu bertengkar. Bayi bisa sangat peka dengan kondisi emosi orang tuanya. Dia bisa merasakan situasi tegang dari ekspresi wajah dan nada bicara yang tinggi dan keras.
  • Tertular ibu. Ibu stres dapat menyebabkan bayi ikut stres, karena cara menangani bayi akan menjadi tidak tenang. Bayi dapat merasakan tekanan otot saat digendong, ekspresi wajah dan nada suara ibunya.
  • Sering pindah rumah. Menyebabkan anak tidak memiliki ‘home base’ yang memberinya rasa aman dan nyaman. Meski anak tetap dalam pengasuhan ibunya, ibu yang tidak mudah beradaptasi dapat mempengaruhi pengasuhannya pada bayi.
  • Berganti-ganti pengasuh dalam waktu singkat. Menyebabkan sering terjadi perubahan cara mengasuh. Bisa muncul perilaku menarik perhatian orang dengan cara negatif, misalnya sering menganggu, dan anak juga jadi mudah rewel atau mudah marah.

Mungkin Bunda kemudian bertanya, apa yang harus dilakukan bila anak menunjukkan tanda-tanda diatas? Sebagai orang tua kita tentu tidak ingin anak stres dan mengganggu tumbuh kembangnya bukan?

Bunda.. hal pertama yang harus dipahami adalah kita mengenali tempramen anak. Menurut artikel yang saya baca tadi, ada tiga tipe tempramen anak, yaitu mudah, sulit dan slow-to-warm.

Bayi dengan temperamen mudah takkan sulit beradapatasi dengan perubahan. Sebaliknya, bayi bertemperamen sulit lebih mudah stres karena sulit beradaptasi. Sedangkan bayi bertemperamen slow-to-warm-up bisa beradaptasi tapi butuh waktu lebih lama.

Mengenali tempramen bayi bisa dengan cara sejak ia dibawa pulang dari rumah sakit. Bayi dengan temperamen sulit akan terus menangis padahal secara fisik tak ada masalah, serta semua kebutuhannya sudah terpenuhi.

Setelah Anda kenal temperamen anak, bantu ia lepas dari stresnya dengan cara:

Memenuhi kebutuhan dasarnya. Seperti makan, minum dan kasih saying secara konsisten. Kebutuhan dasar terpenuhi membuat bayi merasa tenang dan aman.

Menciptakan lingkungan yang kondusif, berikan kehidupan stabil untuk anak. Ciptakan suasana rumah yang nyaman huni, tidak berisik, sejuk dan damai. Hindari bertengkar di dekat anak. Perbaiki pola hidup orang tua agar tidak stres.

Ada juga hal lain yang perlu diketahui oleh Bunda, yaitu stres karena lapar, haus atau kurang perhatian dari orang tua segera lenyap bila kebutuhan itu terpenuhi. Namun, Bunda harus tetap waspada karena berhenti menangis bukan berarti bayi sudah tidak stres.

Bunda.. Ada banyak hal tentang anak yang kalau diteorikan bisa jadi ratusan buku. Kadang ada juga Bunda yang berkata, “ah, itu cuma teori aja mudah. Prakteknya sulit banget.”

Saya setuju dengan itu. Bukankah karena praktik jadi orang tua yang sangat sulit, itu artinya tidak ada kata berhenti belajar sebagai orang tua?

Bukankah begitu, Bund..? 🙂

Semoga ulasan di atas bermanfaat yaa..

Oh, iya.. Bila bunda ingin mendidik anak cerdas sejak dini, Bunda bisa juga membaca tipsnya disini yaa 13 Tips Mudah Mendidik Anak Cerdas Sejak Dini.

Happy parenting.. ^_^

Comments

comments