HomeTutur Untuk MamaYang Tersisa dari Menteri Anies di Mata Mamah Muda

Yang Tersisa dari Menteri Anies di Mata Mamah Muda

Tutur Untuk Mama

Saya ingat betul anjuran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, kala itu. Saya ingat karena saya excited dengannya.

Anjuran yang membuat mamah-mamah muda generasi Y berbondong-bondong mendukungnya. Walau itu hanya sekadar anjuran, yang sifatnya tak wajib. Tapi bagi saya, hal itu sungguh sangat terasa di dada.

Anjuran itu hanya berupa himbaun untuk mengantar anak sekolah pada hari pertamanya.

Banyak yang mendukungnya. Banyak yang kemudian berbondong-bondong memamerkan foto selfienya saat mengantar anak ke sekolah. Jadi trending topic di twitter dan media sosial lainnya.

Persoalan mengantar anak ke sekolah mungkin hanyalah kejadian biasa. Tetapi bagi kelas menengah, mamah muda, kejadian ini adalah persoalan penting. Ini merupakan wajah mamah muda dalam parental involvement. Yaitu merupakan upaya orang tua dalam membangun hubungan yang intim dengan anak.

Hubungan ini, kata Yuswohadi, mengombinasikan antara keinginan dari orang tua supaya dapat aktif terlibat dalam berbagai aktivitas anak dan komitmen orang tua untuk mendidik anak sesuai dengan harapan.

Keinginan orang tua terlibat dalam setiap aktivitas anak bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai yang baik. Selama ini, orang tua bertujuan melihat bahwa proses pendidikan atau penanaman nilai-nilai pada anak tidak dapat dilakukan sekadar melalu cerita pada anak, melainkan menjadi role model untuknya.

Mengantar anak ke sekolah mungkin hanya kejadian sederhana, tapi efeknya luar biasa. Selama ini kebanyakan orang tua menganggap hal ini tidak penting, tapi berkat anjuran Anies Baswedan, hal itu menjadi penting untuk dilakukan.

Bukan sekadar ritual dan kebiasaan, tapi ia menjadi makna. Menjadi trend. Menjadi seolah-olah kalau Bunda tidak ngantar anaknya ke sekolah, maka Bunda belum menjadi seorang Mamah yang baik. Walaupun ukuran Mamah yang baik sebenarnya tak cukup di ukur dari hal itu semata.

Bahkan ia menganjurkan agar menghimbau para pimpinan agar para pegawai untuk memberikan toleransi bila ada yang terlambat masuk kantor karena mengantar anak ke sekolah.

Bagi orang tua yang luar biasa sibuk, apalagi di era saat ini yang persaingan mengejar karir amat ketat, mengantar anak ke sekolah bisa jadi adalah waktu yang sangat berharga.

Berharga? Ya, berharga. Karena kenangana itu tak akan hilang walau Bunda sudah memasuki usia dewasa. Masih ingatkah dahulu waktu memakai seragam pertama kali? Takut-takut saat tiba di sekolah dan ada teman-teman baru yang belum kenal.

Masih ingatkah saat kita berkali-kali melihat ke jendela, hanya untuk tahu bahwa Ibu masih menunggu disana. Kejadian ini adalah kenangan yang secara tidak lansgung turut membentuk karakter kita.

Sebenarnya mengantar anak ke sekolah bertujuan tak hanya mengantar anak sampai di gerbang sekolah. Orang tua hendaknya bertemu langsung dengan guru dan menitipkan anaknya pada guru tersebut untuk dididik. Ini menjadi tanda bahwa pendidikan anak tak hanya urusan sekolah semata, tapi orang tua perlu terlibat.

Masih banyak kasus bukan, bila ada anak nilainya jelek yang disalahkan adalah gurunya. Tapi cobalah perhatikan bagaiaman anak di didik di rumah, apakah orang tua juga sudah mendidik anak dengan baik?

Kini Anies Baswedan tak lagi menjadi Menteri. Banyak yang menyayangkan pemecatannya, tapi beginilah politik. Dipecat jadi menteri, kini hendak jadi gubernur ibukota. Tak perlulah kita pusing karenanya. Yang tersisa dari Anies Baswedan cukuplah kita lakukan dengan ketulusan hati. 

Masihkah Bunda mengantar anak ke sekolah?

ditulis oleh: Widya, Asal Jogja. 

Yuk, follow juga LINE@ Tutur Mama, yaitu @tuturmama atau klik aja disini. 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *