HomeTutur Untuk MamaOrang Tua Terbaik Bukanlah Orang Tua yang Tanpa Salah, Tapi..

Orang Tua Terbaik Bukanlah Orang Tua yang Tanpa Salah, Tapi..

Tutur Untuk Mama

Sampai sekarang mungkin aku belum bisa melupakan kejadian saat aku masih kecil dahulu. Waktu itu malam hari. Seperti biasa, aku, kakak perempuan, ayah, dan ibu berada di ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Menonton televisi.

Sedang aku sedang asyik bermain kertas. Membuat burung-burungan, origami, dan lainnya. Entah karena sebab apa, tiba-tiba kakak perempuanku merebutnya. Sontak aku marah. Dan terjadilah keributan kecil diantara kami berdua.

Celakanya, secara tak sengaja aku memukul kakakku. Dia menangis kesakitan. Ayah Ibu yang melihatnya langsung membentakku. Bahkan ayah sempat memukulku. Sedangkan ibu sudah terlihat menenangkan kakak.

Kata mereka aku nakal. Aku berani memukul kakakku sendiri. 

Mendengar itu, aku menangis. Lalu tanpa berpikir panjang, lari keluar rumah.

Aku lari sambil menangis. Untungnya rumah-rumah tetangga sudah tutup sehingga tak ada yang melihatku. Aku berlari di gang-gang rumah. Tidak tahu kemana. Hingga sampai di ujung jalan, aku bingung, “mau kemana lagi?”

Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Tapi aku masih takut untuk bertemu ayah ibu. Aku masih takut dimarahi. Akhirnya aku memutuskan untuk bersembunyi dibawah meja di teras bagian depan rumah yang dikontrakkan. Meringkuk sambil menahan tangis.

Sebagaimana telah di ketahui, bahwa rumahku itu memanjang yang terdiri dari dua bagian “rumah.” Rumah yang menjadi tempat tinggalku bersama keluarga ada dibagian belakang. Lebih kecil dari bagian depan yang dikontrakkan sebagai tambahan uang keluarga.

Aku meringkuk sambil menangis. Mungkin cukup lama, karena waktu itu aku merasa tertidur. Sebelum dibangunkan oleh ibu. Lalu digendong ayah untuk pulang. Mungkin mereka diberitahu oleh orang yang menghuni rumah kontrakan itu, bahwa aku berada di situ.

Itulah sepenggal pengalaman masa kecilku dahulu. Sudah berpuluh tahun berlalu, namun masih teringat dengan jelas. Kini aku telah tumbuh dewasa, sudah tidak pernah lagi bertengkar dengan kakaku. Sudah menjadi orang tua.

Dan pengalaman masa kecil itu, secara langsung dan tak langsung harus aku sadari turut mempengaruhi bagaimana saat ini berhubungan dengan buah hati.

Dr Mary Main, seorang peneliti, mengatakan bahwa cara mendidik yang paling berpengaruh pada anak didasarkan dari pengalaman orang tua. Bahkan, penemuan ini juga menjelaskan bahwa masa kecil merupakan komponen terpenting, ketimbang status sosial, ekonomi, trauma, lingkungan, dan budaya, saat orangtua mendidik anaknya.

Dr Main pun kemudian mengembangkan Adult Attachment Interview untuk membantu seseorang yang tidak memahami masa kecilnya. Sebab, mereka cenderung memiliki pola komunikasi yang tidak aman dengan buah hati mereka.

Hal ini disebabkan karena trauma dan kenangan masa lalu yang mempengaruhi emosi saat mengasuh anak. Setelah berani mengingat masa lalu, saran Dr Mary, kita bisa merefleksikan dan memahami hal-hal yang dulu menyakiti masa kecil. Dengan demikian, kita pun bisa menghindari melakukan hal yang sama pada buah hati.

Kadang pun aku melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang orang tuaku lakukan dahulu. Misalnya saja gampang banget menyalahkan anak. Anak membuat berantakan makanannya, dengan gampang kita marahi dia. Padahal anak usia satu tahun memang belum bisa makan dengan benar dan tanpa tumpah.

“Kita melakukan kesalahan, bahkan yang sangat tidak kita harapkan, dalam mengasuh anak-anak. Itu merupakan hal yang lumrah. Yang paling penting, hati kita harus tetap jernih; berusaha untuk senantiasa berbenah. Ingatlah perkataan yang ditulis oleh Hisham Attalib dan kawan-kawan tersebut, “Keep parenting lighthearted. Tell yourself that although we may commit “stupid” mistakes innocently, you cannot spell “STUPID” without U & I,” kata Fauzil Adhim, pakar parenting.

Ayah Ibuku mungkin dahulu berbuat salah bila dilihat dari sudut pandang parenting modern. Tapi bukan berarti mereka orang tua yang tidak baik. Tidak, bukan seperti itu.

“Anda sama dengan saya: sama-sama masih jauh dari seharusnya,” lanjut Fauzil Adhim.

“Boleh jadi Anda jauh lebih baik daripada saya. Dan itu berarti, kita berada pada titik untuk berubah, berbenah dan menunjukkan kepada anak keinginan kita untuk berbenah tersebut. Semoga anak-anak terinspirasi untuk senantiasa berbenah. Jika ada yang mengatakan, sekali berbuat salah selamanya tidak dapat kita perbaiki, maka ingatlah bahwa dia bukan Tuhan. Kita bukan ingin memudah-mudahkan diri berbuat salah. Bukan pula meremehkan kesalahan. Tetapi kita perlu ingat bahwa jika Tuhan senantiasa membuka pintu kesempatan untuk berbenah.”

Orang tua terbaik bukanlah orang tua yang tak pernah berbuat salah, tapi ia berbenah. Sadar, dan terus belajar memperbaiki diri. Maka, mari kita berbenah terus untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Happy parenting yaa..

Ditulis oleh: Rini Kusuma, asal Jogja. Terinspirasi dari kisah nyata.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *