HomeTutur KamiKenapa Ibu Tidak Boleh Berkata “Kamu Bodoh” Pada Anaknya?

Kenapa Ibu Tidak Boleh Berkata “Kamu Bodoh” Pada Anaknya?

Tutur Kami

Coba Bunda bayangkan bila anak Bunda baru masuk sekolah selama tiga bulan, lalu ia dikeluarkan dari sekolahnya. Bukan karena anak nakal atau berbuat onar, tapi karena anak dinilai lambat belajar dan lemot.

Bayangin deh, dan apa yang Bunda rasakan? Sedih? Kesel? Marah? Lalu bayangin juga deh apa yang akan Bunda katakan pada anak.

Apa Bunda bakal mengatakan “Kamu ini buat masalah di sekolah ya?! Jadi anak kok bandel banget!! Makanya kalau disuruh belajar itu nurut!”

Apa Bunda akan seperti itu?

Kalau iya, berarti bisa jadi Bunda telah menghambat calon ilmuwan terkenal di seluruh dunia. Karena hal itu bukanlah yang dilakukan oleh Nancy, Ibunya Thomas Alva Edison.

Tak banyak yang tahu tentang Nancy, tapi kalau Thomas Alva Edison si penemu lampu pijar pasti banyak yang kenal. Tapi tahu gak sih kalau sebelum Thomas jadi penemu terkenal dan kaya raya, dia dididik oleh ibunya dengan penuh rasa kasih sayang? Dan ini yang tidak banyak orang tahu.

Nah, sebenarnya saat berumur 7 tahun, si Thomas Alva Edison ini punya kekurangan pada pendengarannya. Dia menjadi agak tuli. Akibatnya di sekolah dia terkenal sebagai anak bodoh dibandingkan teman-temannya yang lain.

Ibaratnya, si Thomas ini diajari sama gurunya satu tambah satu saja gak bisa-bisa. Salah terus. Suatu ketika dia pulang ke sekolah sambil membawa selembar surat dari gurunya.

Ibunya membaca surat itu. Yang intinya adalah Thomas adalah anak yang sangat bodoh dan sangat sulit diajari segala sesuatu. Karena itu dia dikeluarkan dari sekolahnya.

Tentu Nancy tidak memberitahu isi surat itu kepada Thomas. Tapi dia mengatakan kepada pihak sekolah bahwa, “Anak saya bukanlah anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik  dan mengajarinya.”

Apa yang Nancy lakukan?

Dia selalu mendorong anaknya untuk melakukan apa saja yang disukainya. Setiap kali Thomas mengalami kesulitan ibunya selalu berkata; “Thomas kamu anak hebat Nak, kamu pasti bisa menemukan jawabannya ! Mommy percaya itu sayang..!”

Dan setiap kali Thomas berhasil menemukan jawaban dari masalahnya Nancy selalu dengan antusias menanggapi cerita anaknya, ia selalu berapi-api menanyakan bagaimana sampai akhirnya Thomas berhasil menemukan jawabannya. Nancy juga selalu memeluk anaknya mana kala anaknya berhasil dalam melakukan sesuatu; sambil selalu mengucapkan “Kamu memang anak kebanggaan Ibu, Nak…..”

Mungkin Thomas memang “bodoh” dalam ukuran seorang siswa. Nilainya jelek. Tidak cepat menangkap pelajaran. Tapi cara ibunya mengatakan “fenomena” itu pada anaknya itulah yang membedakan. Faktanya memang Thomas nilainya jelek, tapi cara Nancy memberitahu anaknya -yang berbeda dari orang kebanyakan- ternyata menghasilkan sesuatu yang berbeda dan luar biasa.

Itulah seorang ibu. Dia tidak ikut-ikutan orang-orang kebanyakan yang mengatakannya “bodoh” pada anaknya. Tidak. Dia tidak terpengaruh pada omongan orang. Dia yakin bahwa buah hatinya bukanlah orang bodoh.

Coba deh bandingkan dengan kondisi kita saja. Misalnya saja saat anak memainkan bajunya yang sudah dilipat rapi, langsung dimarahi. Padahal mungkin anak hanya ingin tahu. Saat anak usil nyoba-nyoba sesuatu, langsung kita hentikan. Kalau itu hal berbahaya bagi anak sih tidak mengapa.

Betapa dengan mudah orang tua menghakimi anak. Mengatakan anak saya tidak bisa seperti anak-anak yang lain. Tidak cerdas seperti anak-anak yang lain. Padahal kita bisa meniru apa yang dilakukan Nancy pada Thomas.

Dia besarkan hati anaknya. Dia tidak melabeli anaknya. Tapi dia pupuk dengan rasa cinta dan kasih sayang. Kesabarannya dalam mendidik anak berbuah hasil yang sungguh bisa berpengaruh besar pada sejarah dunia.

Selama hidupnya Thomas Alva Edison telah mematenkan lebih dari seribu penemuan atas nama dirinya. Mulai dari mesin penerima telepon, bola lampu listrik, gramophone dan kamera film. Penemuan besarnya membangkitkan industry-industri besar, seperti industry listrik, rekaman, serta film, yang akhirnya memberikan manfaat dan mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia.

Dan itu semua tidak bisa dilepaskan dari pengasuhan Ibunya.

Ibunya tidak hanya mengajarkan pada Thomas tentang membaca, menulis dan berhitung. Tidak! Bukan sekadar itu. Tapi dia juga membangun rasa percaya diri anaknya. Menumbuhkan rasa keingintahuan dan kemauan belajar pada anak. Dia tidak membatasi pelajaran apa yang mesti Thomas kuasai, tapi dia menunjukkan jalan bagaimana agar dia belajar.

Selain itu, Nancy juga mengajarkan kedisiplinan, pantang menyerah, gigih, tidak mudah berputus asa dan berjuang. Nancy Matthews Edison adalah seorang ibu yang memiliki tekad luar biasa untuk mencerdaskan anaknya. Dengan sifat kasih sayang, pengertian, dedikasi, dan ketekunannya, ia berhasil membesarkan seorang ilmuwan yang sangat berjasa bagi dunia.

Buktinya setelah Thomas berhasi menemukan lampu pijar dengan melakukan percobaan 999 kali, surat kabar memberitakannya dengan kalimat, “Thomas Alva Edison, akhirnya berhasil membuat lampu pijar yang tahan selama berhari-hari, setelah ia mengalami 999 kali gagal menemukan logam yang cocok digunakan untuk lampu pijarnya.”

Thomas kaget luar biasa membaca berita itu; segera saja dia datangi kantor redaksinya dan melayangkan protes atas pemberitaan yang tidak tepat.

Esok paginya pada surat kabar yang sama keluarlah Ralat yang berbunyi;

“Thomas Alva Edison, akhirnya berhasil membuat lampu pijar yang tahan berhari-hari, setelah ia “BERHASIL” menemukan 999 logam yang tidak cocok digunakan untuk lampu pijarnya.”

Tahu letak perbedaan kalimat di atas?

Itulah hasil didikan ibunya.

Ditulis oleh: Redaksi Tutur Mama

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *