HomeTutur Untuk MamaMemeluk, Jurus Rahasia Para Ibu

Memeluk, Jurus Rahasia Para Ibu

Tutur Untuk Mama

Setelah 30 menit berkutat di dapur menyelesaikan ikan tongkol bumbu woku, Ammar memanggil dari kamar. Dia menunjukan notes Abinya, meminta menyobek kertas berisi catatan di buku itu. Tentu saja itu catatan penting dan secara pribadi saya melarang, tapi saya mencoba bernegosiasi.

“Itu bukunya Abi. Ammar minta izin dulu sama Abi kalo mau nyobek. Kalau boleh, nanti Umi sobekin.”

Oke, mengulur waktu sejenak. Ammar melaju ke Abinya, saya kembali ke dapur. Saat sesi touching terakhir memasukan kemangi, gula dan garam, tangis Ammar meledak sambil berteriak.

“Umi, sini thoooo!”

Ia ogah ditenangkan Abinya.

“Tunggu sebentar Mas, 5 menit.” Jawab saya dari dapur.

Anda tahu, saat perempuan berkata 5 menit bisa jadi maksudnya satu jam bahkan lebih. Sampai urusannya kelar, sampai dandanannya cling, sampai-sampai Anda bisa pergi menyelamatkan dunia terlebih dulu sambil menunggu ‘5 menit’ versi perempuan.

Okay, itu sewaktu masih gadis. Nah, kalau sudah jadi mamah muda tentu berbeda.

Jika ada ibu yang mengatakan “Tunggu bentar, 5 menit,” maka ia akan datang dalam 300 detik. Tidak kurang, tidak lebih. Panggilan anak itu selalu menyalakan alarm emergency di kepala para Ibu. Wuzzz.. secepat kilat saya sudah berada di hadapan Ammar yang terduduk sambil menangis.

“Kenapa mas?”

“Huaaa…huaaa,” dia menangis.  “Kata Abi, Ammar tidak boleh sobek kertas Abi.”

“Oooh, itu kan kertas Abi. Ammar pake buku ini aja,” saya berdiri, melihat sekeliling lalu mengambil satu buku tulis kecil,– milik saya — yang sudah penuh coretannya.

“Enggak mau. Ammar mau yang itu. Itu kertas Ammar, bukan Abi!”

Lah, anak ini kok ternyata yang diminta kertas Abinya. Jadi dia bukan minta kertas, tapi “harus” kertas punya Abinya. Duh.. duh..

Saya melihat ke arah suami saya, minta pertolongan. Abinya angkat bahu seolah berkata, “Your job, Honey…”

Hhhh… saya menghela nafas panjang. “Baiklah, ini tantrum keduanya hari ini. Belum juga jam 9 pagi,” batin saya.

Ammar memukul kaki saya beberapa kali sambil merengek. Saya terduduk memandangnya. Antara lelah urusan dapur dan kehabisan stok ide mengatasi tantrum anak. “Kertaaasssss…. huaaaaa…,” dari mulutnya keluar segala pinta diselingi tangisan menyoal kertas Abi.

Tiba-tiba datang pula Hira, adik Ammar mendekati kami.

“Nen.”

Satu kata yang lebih dari cukup untuk mengartikan apa kebutuhannya sekarang. Yang tidak bisa diwakilkan Abinya. Oke, artinya saya mengurus dua anak dengan kebutuhan yang berbeda sekaligus, BERSAMAAN.

Saya duduk menyusui Hira sambil menatap Ammar yang masih tantrum. Sesekali ia memukul kaki saya, merengek minta notes Abinya, menangis lagi, begitu berulang-ulang. Saya hanya menatapnya datar. Membiarkan ia mengeluarkan emosinya. Tidak ada kekuatan untuk bicara, membela diri apalagi menjelaskan sesuatu di saat ia meledak. Tidak akan masuk akal. Namun, sebelum saya ikutan nangis karena lelah dan mati ide, dalam hati saya berkata,

“Ya Allah, saya harus ngapain? Limpahkanlah kasih sayangMu agar saya bisa mengasihi anak-anak. Agar saya bisa menyayangi mereka dengan baik…”

Ajaib, mendadak ia mendekat dan memeluk saya. Nemplok tiduran di sebelah adik Hira yang asik minum ASI. Masyaallah, Ammar cuma ingin dipeluk ya Allah. Kenapa saya sampai lupa? Bukankah dari dulu doa dan pelukan itu adalah obat ajaib bagi anak-anak?

Saya akhirnya nangis diam-diam diantara keduanya. Kali ini bukan karena lelah mengurus anak tantrum, melainkan, menyadari betapa besarnya kekuasaan Allah. Betapa mudahnya Ia membalik hati anak yang sedang marah dan menenangkan hati saya.

Sebenarnya cara menenangkan anak sederhana saja. Namun kadang karena sudah tertutup dengan segala lelah, capek, dan mungkin stres, kita tidak menyadarinya. Padahal anak itu tidak butuh yang “aneh-aneh.” Dia tidak minta ibunya berubah menjadi Rangers Pink untuk mengusir monster jahat atau Peri Cantik yang bisa mengabulkan semua keinginannya. Tidak.

Dia cuma minta dipeluk aja dengan lembut.

Satu tangan saya memeluk Hira, satu lagi mengusap punggung Ammar. Isak tangisnya sudah berhenti. Tidak ada sepatah katapun diantara kami. Diam menikmati kasih sayang Allah pada kami.

Sampai 30 menit kemudian,

“Hmm, adek minumnya udah?”

Hira menggeleng ogah lepas.

“Hmm, mas Ammar mau geser bentar?” Ammar menggeleng memeluk kaki saya.

“Umi kesemutan nih. Gimana kalo kita bangun dulu ambil minum?”

Ditulis oleh: Yosi Prastiwi, ibu dua anak. 

Comments

comments

4 Comments

julianti krismawati

Masha Allah,,sama sekali bunda dengan apa yg sering saya alami,abang umur 23bulan,adiknya umur 5bulan,,kadang lupa utk beri pelukan kpd si abang kalo sdg tantrum,krn sdh cape dgn urusan dapur+sumur,,trimakasih bunda utk sharingnya,sangat membantu,smoga kita semua ibu2x hebat diberikan kesabaran dan kesehatan utk membimbing anak2x amanah Allah SWT,amin Ya Rabbal Alamin

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *