HomeTutur KamiIbu, Jangan Bunuh Rasa Ingin Tahu Anak

Ibu, Jangan Bunuh Rasa Ingin Tahu Anak

Tutur Kami

“Jangn usil tangannya..”

“Jangan banyak tanya tho…”

“Jangan merusak mainanmu itu…”

Itulah yang sering kita katakan kepada anak-anak saat dia menunjukkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu yang berwujud pada “membanting barang,” “memprotoli bagian-bagian maiannnya,” banyak bertanya hal-hal tidak penting. Dan kita, sebagai orang dewasa, bukannya menumbuhkan rasa keingintahuan anak, malah membonsainya.

Jadi, Nak… kamu boleh bertanya, tapi jangan banyak-banyak, dan jangan sulit-sulit. Kamu boleh tumbuh tapi jangan pintar-pintar amat.

Begitukah? Ya, mungkin tanpa sadar kita semua telah membonsai potensi tumbuh kembang anak-anak kita dengan ucapan-ucapan di atas.

Tahukah Bunda, bahwa seorang jenius itu lahir dari sebuah rasa ingin tahu yang begitu besar? Seorang jenius bukanlah orang yang punya otak yang berbeda. Tidak. Otak manusia punya potensi yang sama. Tapi yang membedakan orang jenius dan yang tidak, adalah rasa ingin tahu dan mencari jawaban atas rasa ingin tahunya itu.

Si kecil yang ingin selalu tahu tentang apapun yang ada si sekitarnya, otomatis tidak pernah berhenti berpikir hingga menemukan jawabannya. Otak yang selalu diasah untuk berpikir akan merangsang kecerdasan si kecil. Hal ini dikemukakan oleh David Knopman, seorang profesor neurologi di Mayo Clinic Rochester.

Dan itulah yang dilakukan oleh Albert Einstein.

Tentu kita mengenalnya bukan? Foto-fotonya seringkali menghiasi berbagai media. Eintein adalah ahli fisika yang menemukan teori relativitas dan sebuah persamaan terkenal itu; energi sama dengan massa dikali kecepatan cahaya dikuadratkan. Persamaan yang melahirkan bom atom.

Nah, tapi tak banyak yang tahu bahwa dahulu pada masa kecilnya Einstein ini dikenal sebagai anak yang bodoh.

Einstein kecil sama sekali tidak menunjukkan tanda bahwa ia seorang yang jenius. Bahkan saat kecil ia sering sakit-sakitan, gampang marah dan melempar barang. Selain itu Einstein juga baru bisa berbicara saat ia sudah berusia 4 tahun dan divonis oleh dokter menderita sindrom Asperger yang menurut beberapa ahli berhubungan dengan autisme. Bentuk kepala Eistein juga tergolong tidak biasa yang mungkin disebabkan oleh dyslexia.

Nah, pada suatu ketika… saat Einstein sakit, dia diberi hadiah berupa “Kompas.” Ya, kompas yang menunjukkan arah utara selatan itu. Yang biasa saja bagi kita, namun ternhyata kompas itu begitu berarti bagi Einstein.

Eintesin memandangi kompas itu dari tempat tidurnya, dan bertanya, “kenapa jarum ini selalu menunjuk arah utara dan selatan?”

Rasa penasaran itulah yang membuatnya selalu ingin tahu. Membuat Einstein untuk selalu mencari jawaban. Dan kedua orang tuanya memberikan jalan padanya agar Einstein bisa meluapkan rasa ingin tahunya. Orang tuanya menumbuhkan dan mengarahkan rasa ingin tahu Einstein kecil dengan tepat. Bukan mematikannya.

Dan dari situlah, kita mengenal Einstein sebagai orang yang mengubah sejarah dunia.

Nah, siapa tahu nih ada diantara anak-anak kita yang bakal menjadi “orang besar” bukan? Untuk itu pupuklah rasa ingin tahu anak. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, diantaranya adalah:

Pertama, mengubah rutinitas.

Yuk, sesekali ubah rutinitas harian anak-anak. Cara ini dapat merangsang otak anak untuk berpikir dengan cara berbeda lho, dan akhirnya bisa memancing rasa ingin tahu anak. Tidak perlu rumit-rumit deh, ubah aja rutinitas harian. Misalnya saja, sesekali ganti sabun mandi anak. Biasanya pakai sabun batang, ganti dengan sabun cair. Ganti cat kamar anak juga bisa.

Kedua, berikan kejutan pada anak.

Membelikan hadiah boleh-boleh saja, tapi bila memberikannya dengan cara “surprise” untuk anak tentu akan lebih bermakna. Atau bisa juga sambil bermain “memburu harta karun” yang bisa dilakukan di dalam rumah. Buatlah kegiatan yang mengejutkan dan menyenangkan. Ini bisa memancing kreativitas daya pikir anak.

Ketiga, bersiaplah menjawab pertanyaan anak.

Anak-anak yang ingin tahu umumnya selalu bertanya. Dan pertanyaan itu kadangkala sulit dijawab. Saat orang tua tidak bisa menjawab ini kemudian orang tua malah menyuruh anak untuk diam. Hadeuuh.. Jangan begitu. Sebagai orang tua, kita harus “banyak tahu” dan “sok tahu.”

Keempat, dorong anak-anak untuk bertanya dan ajukanlah pertanyaan.

Sudah bisa menjawab pertanyaan anak? Nah, jangan berhenti. Doronglah anak untuk bertanya kembali. Doronglah anak untuk ingin tahu lebih banyak lagi. Kita juga bisa mengajukan pertanyaan pada anak, ini juga bisa memancing rasa ingin tahu anak lho.

Kelima, ajak anak ke tempat-tempat baru.

Jangan cuma di rumah aja, tapi ajaklah anak-anak untuk menjelajah berbagai tempat baru. Tidak perlu jauh-jauh, tapi jauh juga boleh. Kalau tidak cukup duit buat piknik, bisa kok ajak anak untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Keliling kompleks atau kampung.

Walaupun cuma dekat dan muter-muter, tapi anak kan belum pernah berpetualang ke tempat-tempat itu. Iya kan?

Mari kita menumbuhkan rasa ingin tahu anak, agar kelak dia tumbuh cerdas, dan tak ada yang tahu akan jadi apa anak-anak kita kelak. Mungkin dia akan menjadi Einstein-nya Indonesia. Siapa tahu?

Redaksi Tutur Mama.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *