HomeTutur Untuk PapaWahai, Ayah.. Bermainlah Bersama Anakmu

Wahai, Ayah.. Bermainlah Bersama Anakmu

Tutur Untuk Papa

Sebagai orang tua yang terkadang penat dan lelah menjalani rutinitas sehari-hari, adakah yang lebih ingin kita dengar melebihi suara tawa anak-anak kita yang riang gembira? Ya. Itulah salah satu pengobat segala lelah, penghibur hati, penawar luka; senyum dan tawa anak-anak kita.

Siapa yang paling banyak berinteraksi dengan anak kesehariannya? Biasanya sebagian besar menjawab Ibu. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, anak lebih terbiasa beraktivitas didampingi ibunya. Apalagi anak balita. Maka tak mengherankan jika kedekatan anak dan Ibu cenderung lebih kuat dibandingkan dengan Ayah.

Apalagi pemikiran yang seringkali masih tertanam di masyarakat kita bahwa tugas seorang Ayah ‘semata-mata’ mencari nafkah. Semua urusan anak diserahkan ke Ibu. Tapi, tahukah Ayah Bunda, bahwa salah satu cara membentuk karakter anak agar kokoh dan tangguh adalah dengan memperbanyak interaksi dengan sang Ayah?

Dan, salah satu bentuk interaksi yang paling disukai anak-anak tentu saja adalah bermain! Berikut ini asyiknya main bersama Ayah yang bisa jadi menjadi hal paling dirindukan oleh anak-anak.

Pertama, Ayah itu kreatif! Ada saja idenya. Ketika saya (ibu) melihat selimut sekedar bisa menjadi selimut, bagi Ayah selimut bisa dibuat goa. Ia mengajak bayi saya masuk ke dalam dan bermain cilukba.

Bola, bagi saya cukup digelindingkan saja. Ayah melemparnya ke atas, kena dinding lalu memantul lagi ke tangannya.

Mobil-mobilan, bagi Ayah bisa sekalian mengangkut boneka. Jadi bonekanya bisa menghampiri sang bayi sambil duduk manis di atas mobil-mobilan yang bisa jalan sendiri. Tongsis itu, Ayah Bunda, oleh Ayah akan jadi garan pancing dan sedemikian membuat anak bisa tertawa-tawa menangkap “umpan” di depannya.

Dan kreativitas itu menular, lho, Ayah Bunda.

Bukan berarti Ibu tidak kreatif, ya! Tetapi dengan aktivitas ibu yang biasanya monoton, terutama ibu rumah tangga yang banyak berjibaku di dapur, sumur, kasur – tak jarang menyebabkan daya imaginasi dan kreativitas bermainnya rada tumpul.

Nah, bersama Ayah seorang anak bisa terstimulus untuk berpikir out of box. Karena dengan aktivitasnya di luar rumah yang lebih beragam, seorang Ayah mampu mengajarkan lebih banyak cara dalam memandang sesuatu, termasuk mainan.

Kedua, Ayah lebih all out ketika bermain. Mungkin karena seorang Ibu suka mengerjakan secara multitasking pekerjaan domestiknya, waktu yang tersedia untuk khusus bermain dengan sang anak pun kadang sekadarnya. Tak jarang disambi memasak, membereskan rumah, mengeringkan baju, dan sebagainya.

Sedangkan seorang Ayah yang memang dalam aktivitasnya cenderung lebih fokus, agenda bermain dengan anak pun biasanya ia luangkan secara khusus – di tengah kesibukan-kesibukannya.

Inilah asyiknya. Totalitas menemani bermain membuat anak merasa benar-benar totalitas juga menikmati agenda bermainnya. Keriangan hatinya sampai-sampai membuat anak mengerahkan seluruh energi untuk bermain.

Bayangkan, jika setelah bermain sang anak tertidur dalam kondisi lelah namun gembira, alangkah pulas tidurnya. Tentu bagi anak ini sangat bagus untuk pertumbuhan. Kondisi jiwa yang terpuaskan berkolaborasi dengan istirahat raga yang optimal.

Ketiga, Ayah lebih kuat secara fisik. Coba, siapa yang lebih kuat meladeni anaknya main kuda-kudaan? Siapa yang berani mengajari anak main panjat-panjatan, lompat kesana-kemari, lari-lari? Itu sebagian kecil dari permainan fisik yang menguras tenaga.

Bagi sebagian Ibu yang saban hari rempong dengan urusan rumah tangga, terutama, menemani anak bermain yang menguras energi tentu cenderung kurang efektif. Ibu pun akan berpikir dua kali, bagaimanapun setelah membereskan pekerjaannya ia lebih butuh istirahat. Maka pilihan bermain ‘pasif’ menjadi andalannya. Misal, anak disediakan sekardus mainan sementara ia bisa ngeteh atau ngopi, meskipun tetap sambil siaga jika ada panggilan dari sang buah hati.

Padahal, di awal pertumbuhannya anak perlu dilatih kekuatan fisik dan motoriknya. Salah satunya dengan permainan-permainan yang mengolah-ragakan tubuhnya. Ya, biar sekalian para Ayah ikut olah raga juga. Kan kalau Ibu sudah otomatis olah raga. Maka alternative permainan out door seringkali sangat dirindukan anak-anak.

Mereka bisa tertawa lepas dengan aneka bentuk gerak aktifnya. Resiko jatuh dan sebagainya tetap ada. Tapi ini tak mengurangi daya tarik bagi anak-anak untuk terus bermain dan bermain lagi.

Keempat, bermain bersama Ayah akan membangun kedekatan hati. Karena anak terlahir sebagai hasil kerja sama dari dua orang yaitu Ayah dan Ibu, maka menjadi keniscayaan agar anak-anak pun dekat dengan kedua orang tuanya. Tidak cukup hanya salah satunya.

Melalui permainan, anak dan orang tua sama-sama mendapat kesempatan untuk membangun kedekatan emosional.

Bagi anak laki-laki, figur Ayah sangat berpengaruh untuk membentuk mental bagaimana ia akan menjadi laki-laki dewasa setelahnya. Bagi anak perempuan, terpenuhinya kebutuhan jiwa akan kasih sayang seorang Ayah membuatnya tidak mudah mecari perhatian lawan jenisnya di luar rumah. Kedua sisi ini, baik untuk anak laki-laki dan perempuan, katanya sangat diperlukan terutama ketika anak-anak menginjak usia remaja, lho, Yah-Bun.

Kedekatan dengan orang tua berpengaruh luar biasa pada kepercayaan dirinya sebagai manusia merdeka.

Kelima, sarana pendidikan dan penanaman karakter. Dalam al Qur’an, kisah yang diabadikan dalam pendidikan anak adalah kisah para Ayah. Cerita Lukman menasehati anaknya, atau Nabi Ibrahim mendidik putranya, memberi kita kesadaran bahwa pendidikan yang dilakukan oleh para Ayah sangat mengena di jiwa sang anak.

Di jaman kita yang serba digital ini, membangun interaksi yang menyenangkan lebih bisa diterima sebelum melakukan kerja-kerja pendidikan, termasuk kepada anak-anak kita. Maka, bermain harapannya bukan sekedar mencari kesenangan. Tetapi dengan bermain diharapkan bisa menjadi salah satu sarana efektif untuk mendidik dan menanamkan nilai-nilai keluhuran.

Kedekatan hati yang terbentuk setelah puas bermain, cenderung membuat anak lebih mudah menerima omongan dan nasehat orang tuanya.

Well, Daddy, have a fun day with your toddlers.

Ditulis oleh: Wahtini, baca tulisan lain dari Wahtini disini. 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *