HomeTutur KamiIbuku Bukanlah Guru yang Baik

Ibuku Bukanlah Guru yang Baik

Tutur Kami

Suatu malam, saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku mengerjakan PR yang diberikan guru di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga. Rumahku memang hanya memiliki dua kamar, ruang dapur, satu kamar mandi dan ruang tamu.

Ibuku sedang melipat baju di kursi. Ada bajuku, baju ayah, dan baju ibu sendiri. Pelan-pelan tanpa suara dia melakukannya. Mungkin agar aku tidak terganggu.

“Duh, kok angel yo… [duh, kok sulit ya],” kata saya.

Mendengar hal itu, ibu hanya diam. Matanya memang memandang saya, tapi dia tak berkata satu patah pun.

Ibuku memang berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Mungkin bagi ibu yang lain, saat melihat anaknya kesulitan, akan segera membantunya. Dalam hal ini saat anak sedang kesulitan mengerjakan PR, kebanyakan ibu akan menejelaskan pada anak.

Dia akan memberikan contoh. Memberikan petunjuk untuk menyelesaikan rumus matematika secara sederhana dan mudah dipahami.

Ibuku hanya membiarkanku saja.

Padahal seorang ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Saat ini jamak didapati ibu yang juga menjadi guru. Mengenalkan anak cara membaca sejak dini. Memberikan berbagai mainan edukatif. Membacakan buku cerita untuk anak. Mendorong dan memotivasi anak untuk berprestasi.

Sewaktu kecil aku juga pengen ibuku seperti itu. Saat aku belajar, aku ingin ibuku berada di sampingku. Mengajar. Seperti dalam gambar-gambar iklan.

Namun ibu seperti itu hanya ada dalam imajinasiku saja. Walau aku ingin sekali, tapi hal itu tidak akan bisa terjadi. Paling pol mentok ya seperti adegan diatas, aku sedang belajar sedangkan ibuku sibuk aktivitas lainnya.

Bila yang disebut sebagai ibu adalah guru bagi anak-anaknya, adalah seorang ibu yang mengajarkan anaknya huruf abjad. A-B-C-D-E-F dan seterusnya, sampai anak bisa membaca, maka ibuku bukanlah guru yang baik.

Bila yang disebut sebagai ibu adalah guru bagi anak-anaknya, adalah seorang ibu yang mendampingi anak belajar, mengajarkannya memecahkan rumus kimia atau fisika dengan cara sederhana, atau membantu anak mengerjakan PR, maka ibuku bukanlah guru yang baik.

Bila yang disebut sebagai ibu adalah guru bagi anak-anaknya, adalah seorang ibu yang memberikan teladan rajin membaca untuk anak. Membacakan cerita untuk anak sebelum tidurnya, maka ibuku bukanlah guru yang baik.

Ibuku tidak bisa mengajarkan matematika, malah kadang soal hitung-hitungan dia lebih banyak bertanya padaku. Ibuku tidak bisa mengajariku membaca, bahkan dia malah menyuruhku untuk menuliskan namanya pada amplop saat mau hadir di kondangan.

Ibuku bukannya tak mau melakukan semua itu. Bukan. Tapi memang ibu tidak mampu melakukannya.

Ibuku adalah ibu tipe jaman dahulu. Ibu yang hanya mengenyam pendidikan cuma sampai kelas 2 SD, dan belum sempat bisa membaca dan menulis dengan lancar.

Ya, ibuku bukannya tak mau menjadi guru bagiku. Hanya saja dia memang tidak bisa. Ibuku buta huruf. Dan seorang guru yang baik adalah yang tidak buta huruf.

Ibuku cuma bisa berpesan, “sekolah sing pinter yo, Le… [sekolah yang pintar ya, Nak].” Dan ibuku cuma bisa membiayai sekolahku hingga jenjang perguruan tinggi.

Ibuku mungkin bukanlah guru yang baik, tapi dia ibu yang terbaik bagiku. Selalu.

Selamat Hari Guru.. Untuk guru-guru dan ibu yang menjadi guru bagi anak-anaknya, di seluruh Indonesia… 

Ditulis oleh: Rini Kusuma, Redaksi Tutur Mama.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *