HomeTutur Untuk PapaDear, Suami… Ini Alasan Bahagiakan Istri Saat Ia Hamil

Dear, Suami… Ini Alasan Bahagiakan Istri Saat Ia Hamil

Tutur Untuk Papa

“Sayangku, kamu nggak pingin sesuatu, nggak pingin aku belikan apa gitu po?”

“Maksudnya?”

“Ya pengen apa gitu. Kayak teman-temanmu yang lain di klub drumband bumil itu lho?”

Saya mencoba memancing dengan pertanyaan kepada istri di awal usia kehamilannya. Soalnya dia  tidak pernah meminta sesuatu seperti kebanyakan ibu hamil. Saya menanyakannya untuk mengingatkan, barangkali istri saya lupa atau mungkin sungkan menyampaikannya. Sedikit khawatir juga sih, kalau-kalau justru pertanyaan macam ini malah dimanfaatkan demi kepentingan pribadi semata.

“Oh, ngidam? Emang kalo aku ngidam, sayang pasti akan mengabulkannya?”

Tuh kan, saya bilang juga apa. Melalui lirikan matanya, saya melihat ada sebuah rencana cerdik nan membahayakan yang akan segera mengancam.

Ngidam merupakan satu dari sebagian hal seru yang akan dialami di sela kebahagiaan para pasangan yang akan segera dikaruniai momongan. Hal yang terkadang ditunggu-tunggu, namun bisa juga dikhawatirkan mereka. Sebelum hamil biasanya akan timbul pertanyaan, nanti kalau hamil bakal ngidam apa ya? Atau mungkin sebuah pengharapan, semoga ngidamnya jangan yang aneh-aneh deh.

Apa sih sebenarnya ngidam itu? Benarkah kalau ngidamnya tidak kesampaian, anaknya jika sudah lahir  nanti akan ngeces?

Ibu hamil, menurut gambaran medis, tubuhnya akan menyesuaikan diri. Tubuh secara alami akan meminta kebutuhan asupan-asupan nutrisi tertentu yang dibutuhkan.

Selain itu, secara psikologis perasaan ibu hamil juga akan terpengaruh. Seperti rasa ingin diperhatikan pasangannya. Hal ini akan memicu sifat manja dan cari-cari perhatian. Sehingga ibu hamil akan cenderung menginginkan yang aneh-aneh. Mungkin akan timbul rasa puas ketika suaminya bersusah payah berkorban, jumpalitan mencari sesuatu yang diinginkannya. Ketika kebutuhan batinnya telah terpenuhi, maka dia akan merasa bahagia.

Jika si ibu merasa bahagia, kebutuhan nutrisinya juga terpenuhi maka janinnya akan sehat. Hal ini masuk di akal.

Kondisi hamil memungkinkan kondisi fisik mengalami penurunan kondisi sehingga membutuhkan asupan zat yang lebih dari biasanya. Semisal tubuh lemah sehingga membutuhkan sesuatu yang manis untuk menambah energi. Hal ini oleh otak diolah dan diteruskan ke lidah seolah-olah ngidam es dawet.

Begitu juga saat tubuh menginginkan vitamin C, ngidamnya jambu kluthuk. Ketika tubuh membutuhkan karbohidrat, maka sang ibu hamil tiba-tiba kepingin bubur jagung.

Namun tidak selalu wanita hamil mengalami ngidam, begitu menurut pengalaman teman-teman dalam grup whatsapp Papa Muda Gemesh. Istri saya mungkin adalah salah satu diantaranya.

Tentu ini sesuatu yang patut saya syukuri. Tidak terbayang manakala sedang tidur pules, saya dibangunkan istri pada tengah malam. Di luar rumah hujan lebat disertai angin kencang, sedang deras-derasnya, sedang kencang-kencangnya. Mendadak dia kepingin makan ayam ingkung dan kudu dipenuhi saat itu juga. Ayamnya juga harus yang mempunyai bulu berwarna putih mulus pula. Piye jal?

Ada sebuah penelitian yang mengungkap bahwa perubahan hormon dalam tubuh ibu hamil mempengaruhi juga kinerja indera perasa. Hal ini menyebabkan perubahan dalam cara menanggapi aroma atau rasa tertentu. Selera makan ibu hamil pun akan terpengaruh. Saya kira, inilah sebabnya kenapa ada seorang ibu hamil yang anti dengan bau keringat suaminya sendiri.

Kondisi fisik dan psikologis semacam ini yang sebenarnya dialami oleh para ibu hamil. Pengalaman yang berkembang kepada cerita-cerita aneh dengan bumbu-bumbu heroik dan mitos-mitos yang ada di tengah masyarakat mengenai orang ngidam.

Saya sendiri pernah mengalami repotnya meladeni orang ngidam. Sudah cukup lama, saat itu saya masih perjaka. Si jabang bayi yang dikandungnya sudah lahir dengan selamat, sehat dan tidak ngecesan. Kini sudah berusia tiga tahun.

Dini hari saya terbangun karena dering ponsel, telepon dari seorang teman yang tengah berada di luar kota. Teman tersebut minta tolong agar dibelikan bubur ayam yang dijual tidak jauh dari tempat tinggal saya untuk istrinya yang sedang hamil muda. Dilandasi rasa solidaritas dan semangat pencitraan sebagai calon suami yang berkualitas, saya pun menyanggupi. Cuma beli bubur saja, enteng. Begitu pikir saya.

Hanya perkaranya tukang bubur ayam yang dimaksud itu  terkenal laris. Saya harus mruput, berangkat pagi-pagi sekali supaya tidak kehabisan.

Sehabis subuh saya berangkat, kebetulan hari libur. Tukang bubur itu memang laris sekali. Saya harus berdiri sekian lama untuk mengantri bersama pembeli lainnya demi sebungkus bubur ayam.

Bergegas saya mengantarkan bubur ayam ke tempat tinggal istri teman saya yang jaraknya lumayan jauh. Untuk menuju ke sana saya harus melewati jalan yang cukup terjal. Motor saya lajukan cukup pelan namun bubur ayam dalam kotak styrofoam itu tetap saja terguncang-guncang dalam perlindungan plastik kresek yang saya cantolkan. Alhasil, sampai di tujuan wujudnya sedikit belepotan.

Begitu menerima dan melihat wujud pesanannya, istrinya teman saya menolak. Sepertinya dia kehilangan selera. Lalu, saya diomeli.

Apa-apaan ini? Sudah bangun pagi-pagi, antrinya lama, menempuh jarak sekian jauhnya ee… lha kok dapatnya omelan. Bukan istri saya sendiri pula. Lagian buburnya utuh tidak berkurang, masih hangat, hanya tampilannya saja yang kurang menarik. Saya yakin, rasanya masih enak.

Setelah puas dengan omelan, bubur itu habis juga, nasibnya berakhir dalam sistem pencernaan saya. Dan benar keyakinan saya, rasanya masih enak. Istri teman saya masih mecucu sambil melihat saya makan dengan lahap.

Memang begitu tabiat orang hamil. Sering kali merepotkan. Teman saya hanya tertawa di ujung telepon begitu saya menceritakan kejadiannya.

Kehadiran sosok suami dalam sebuah periode kehamilan dalam wujud perhatian dan kasih sayang. Istri akan cenderung cari perhatian dengan ancaman serius: ini permintaan si jabang bayi lho, Pa! Pokoknya mama nggak mau nanti kalau anak kita ngeces terus!

Sifat manja dan caper dari ibu hamil bolehlah dikatakan wajar, mengingat kondisinya lebih berat dari saat-saat ketika tidak atau belum dalam kondisi hamil. Perubahan-perubahan secara hormonal dan emosional membuat ibu hamil menginginkan apa yang dirasakannya juga harus dirasakan juga oleh pasangan.

Karena pemikiran tersebut maka ia akan terlihat lebih manja dari biasanya, terkesan tidak mandiri serta mengajukan permintaan yang aneh secara terus menerus pada suaminya sebagai bentuk kompensasi atas kehamilannya yang dianggap beban berat tersebut. Enaknya buat barengan, kok nggak enaknya dirasakan sendiri.

Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk menyalahkan jabang bayi yang mintanya aneh-aneh saat ngidam. Kasihan, belum lahir saja sudah disalah-salahkan.

Perlu juga diingat bahwa dalam menghadapi ngidam harus lebih cermat dan waspada dalam memilih makanannya. Sebaiknya menghindari ngidam makanan yang justru berbahaya bagi kesehatan janin, atau mungkin makanan yang dilarang oleh agama.

Namun yang terpenting adalah bagaimana pentingnya menyambut kehamilan ini secara bersama-sama dengan gembira, penuh rasa syukur dan juga kesabaran. Sehingga tidak akan ada anggapan bahwa hamil adalah sebagai beban yang merepotkan. Kehamilan yang disambut dengan penuh kebahagiaan akan berdampak pada kenyamanan ibu hamil pada periode masa kehamilan. Perhatian penuh dari keluarga terutama sang suami juga dibutuhkan untuk mendukung mentalnya. Dalam hal ini, menjalin komunikasi yang efektif sangat diperlukan.

“Jadi… sayang kepingin apa?”

Saya melanjutkan pertanyaan saya kepada istri.

“Aku nggak ngidam aneh-aneh kok, suamiku. Aku hanya minta kamu selalu setia berada di dekatku. Itu saja.”

Ciyeeeee…

Ditulis oleh: Sigit Surro,

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *