HomeTutur Untuk MamaSebelum Kamu Menikah dan Jadi Mamah Muda, Sebaiknya Baca Ini Dulu..

Sebelum Kamu Menikah dan Jadi Mamah Muda, Sebaiknya Baca Ini Dulu..

Tutur Untuk Mama

Ceilee.. nasehat? Gaya betul guwa! Biarin dah! Walau belum genap 2 tahun umur pernikahan kami, tetep aja saya udah ngerasain bedanya lajang dan nikah. Bedanya single and double. Bedanya kesepian seorang diri dan kesepian bahkan saat ditemani. Ya, barangkali ini sekaligus nasehat khusus buat diri saya pribadi.

Langsung aja, yes!

Pertama, jangan nikah karena baper.

Lihat teman seangkatan nikah, baper. Lihat adik angkatan nikah, apalagi?! Ditanyain tetangga kapan nikahnya, baper. Dibully karena belum nikah, kelenger.

Baper itu wajar. Tapi menjadikan kebaperan sebagai alasan untuk buru-buru menikah adalah sangat tidak wajar. Kamulah yang akan menjalani pernikahan dan hari-hari setelahnya. Maka biarkan saja omongan orang. Kalo memang belum siap nikah, ya jangan coba-coba.

Nikah karena trend itu juga bahaya. Ikut-ikutan nikah sih, bisa aja. Tapi ikut-ikutan berharap cerita bahagia kan sering tidak ketemu caranya.

Setelah menikah tidak menjamin kamu bebas dari baper. Malah peluang baper bisa jadi lebih besar. Tetangganya punya mobil, baper. Temennya bikin status tentang istri atau suaminya aja bikin baper 😀

Nanti setelah nikah, kamu akan ditanya,

“Sudah isi, belum?” ini tidak jarang sangat bikin baper 😛

“Sekarang tinggal dimana? Owh, masih ngontrak?”

Namanya juga manusia, suka aja nanya-nanya. Padahal kagak diperhatiin amat jawabnya.

Justru sebelum menikah kita semestinya berlatih mengendalikan kebaperan-kebaperan kita. Itu salah satu tolok ukur kematangan jiwa. Untuk bisa menerima orang lain hidup bersama kita, tak jarang kita harus melapangkan dada, mengerem kata-kata, dan memperbaiki banyak hal dalam kebiasaan kita.

Kedua, hati-hati jika menikah karena berharap sekadar ingin dimengerti, ingin ditemani, ingin dilayani, dan ingin selalu diberi.

Sering, kan, kita dengar orang mengeluh pengen nikah gegara hal sepele. Stress ngadepi kerjaan numpuk, ngeluh pengen nikah. Capek ngadepi cucian numpuk, ngeluh pengen kawin. Ngadepi tarif bis naik, ngeluh pengen punya ojek pribadi. Alamak! Memangnya ‘serendah’ itu engkau memandang orang yang akan kau cintai seumur hidupmu? Memangnya kalo sudah punya istri trus kerjaanmu jadi nggak numpuk? Kalo sudah punya istri trus cucianmu ngga bikin mabuk?

Keinginan mendapatkan kebahagiaan tentu wajar. Tapi tidak bisa berjalan jika tidak diimbangi dengan memberikan kebahagiaan pada pasangan. Harapan untuk selalu dimengerti, mendapat dukungan, dikuatkan juga wajar. Tetapi sebaliknya, ada kalanya pasangan juga butuh dimengerti, menerima support, dan disemangati.

Kadang, harapan melangit itu menyakitkan. Apalagi berharapnya pada manusia. Ingat, pasangan kita juga manusia. Berharap terlalu tinggi berpeluang menerima kenyataan yang menyakitkan hati.

Tak jarang kita dengar komentar negatif pasangan muda tentang pasangannya.

“Capek, deh. Ternyata istriku begini-begini..” Mudah sekali mengumbar aib istri.

“Suamiku tidak seperhatian dulu,” ini juga terlalu gambang menghakimi suami.

Saya pernah mendapat nasehat dari guru ngaji saya sebelum menikah. “Salah satu kunci kebahagiaan dalam pernikahan adalah berlomba-lomba untuk memberi.” Fyuh. Berat prakteknya. Kalo sudah terbawa emosi, apalagi sambil ngurus bayi, pengennya menuntuuutt aja! Menuntut pasangan mengerti. Menuntut pasangan memberi lebih banyak perhatian. Menuntut uang belanja tambahan. Ups. Ini mah kebutuhan, ya, bu-ibu. 😀

Ketiga, jangan menikah karena pilem.

What? Ya! Tidak sedikit anak muda yang tergila-gila cerita asmara dalam drama Korea, Jepang, China, India, Amerika dan segala rupa bangsa. Terhipnotis cerita muluk-muluk romantisme yang mempesona. Akhirnya, nikah pun dengan bayangan indah seperti dalam pilem-pilem dan artis-artis yang jadi idolanya. Impian hidup sempurna pun kandas ketika bertemu kenyataan yang, aduhai, penuh nestapa.

Kita justru harus banyak belajar dari para kakek buyut kita. Belajar bagaimana dalam keterbatasan mereka menjaga keutuhan rumah tangga. Pada kehidupan mereka yang sederhana, romantisme yang nyaris tak terlihat mata, kesulitan yang bertubi-tubi menyapa. Dan mereka sangat tangguh menjalani semuanya.

Ya, nonton pilem tetep boleh-boleh aja. Ambil bagian-bagian yang menginspirasi untuk jadi bekal perjalanan mahligai rumah tangga. Eaa..

Keempat, jangan menikah karena pengen punya anak yang lucu. Lho? Iya! Di balik kelucuan anak itu tersimpan kerewelan luar biasa, tau! 😀

“Ih, lucunya. Comelnya.” Sambil cubit-cubit pipi bayi orang. Walaupun kadang ini cuma bercanda, ya. Tidak jarang itu tertanam di bawah alam sadar bahwa punya anak itu akan selalu lucu. Bisa stress ntar menghadapi anak saat tidak lucu.

Segera tobat deh kalo kepenginanmu cuma itu. Seluruh anak bayi di dunia ini, insya Allah lucu. Jadi tanpa kamu pengen juga insya Allah bakal dapet. Tapi siap tidak dengan segala kerempongan yang membersamai hadirnya kelucuan itu?

Udah itu aja nasehatnya. Wkwkwk, boleh aja dianggap tidak penting. Karena kalo mau yang penting, konsultasilah pada para pakar parenting. Eniwei, jangan takut menikah jika memang siap. Pepatah dalam bahasa Jawa itu berbunyi, “Yen wedi aja wani-wani. Yen wani aja wedi-wedi.”

Oiya, saya pernah membaca tulisan Ustadz Cahyadi Takariawan, bahwa salah satu konsekuensi orang yang siap menikah adalah siap untuk terus memperbaiki diri. Wow! Bagi saya ini menohok sekali. Setelah menikah banyak hal yang akhirnya terasah. Bagaimana mengelola perasaan, cara komunikasi, dan tentu saja manajerial domestik. 

Ya. Dengan tulisan ini saya sekaligus ingin kembali me-refresh makna pernikahan.

Menikah berarti membangun visi-misi lebih hebat. Saling menanggung beban, saling menguatkan. Secara teori mudah rasanya membayangkan, tapi ketika menjalani benar-benar butuh komitmen yang tak terkalahkan.

Untuk seluruh pasangan yang menikah karena Allah, semoga kelak Allah kumpulkan dalam surga yang abadi.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *