HomeTutur Untuk PapaJadilah Ayah yang Baik Atau Tidak Sama Sekali

Jadilah Ayah yang Baik Atau Tidak Sama Sekali

Tutur Untuk Papa

Hari masih muda. Matahari juga baru beberapa menit lalu keluar dari peraduannya, muncul begitu saja. Membuat apapun yang ada di permukaan bumi menghangat dan tampak jelas. Yang putih terlihat putih, yang hitam terlihat hitam. Sebelumnya, beberapa menit lalu, saat hari masih remang, saya sempat keluar, membawa Alif dalam pelukan. Ia antusias sekali. Selalu senang jika diajak keluar ruangan, menyaksikan alam bebas yang lebih luas.

Saya berceloteh banyak hal kepadanya, mengajarkan nama-nama benda yang dilihat. “Itu, yang berwarna hijau, namanya daun, Bang. Mereka tertiup angin, makanya goyang-goyang,” kataku perlahan.

Ya, saya tahu, Alif memang masih kecil. Belum bisa berkata apa-apa? Hanya sorot mata dan raut wajahnya saja yang berubah, ketika melihat hal-hal baru. Mungkin dia penasaran. Atau, boleh jadi, raut wajah itu sebenarnya pertanya, “Abi, itu yang bentuknya kecil-kecil dan jumlahnya banyak di atas pohon, apa ya? Kok bergoyang-goyang?”

Bagi saya, seorang balita seperti Alif ñsaat ini usianya baru lima bulan, harus didengarkan banyak kosa kata, diajak banyak bicara, bercerita, atau membaca apa saja.

Seperti saya, selalu menjelaskan apapun kepadanya.

Sorot matanya berbinar ketika melihat kendaraan roda dua melintas, saya katakan, “Itu namanya motor, Bang. Kendaraan yang banyak digunakan orang-orang untuk bepergian. Dia bisa bergerak dengan bahan bakar minyak. Kita berdoa ya, semoga nanti diberi rejeki dan bisa membelinya, buat Ummi biar bisa ngajak Abang jalan-jalan.”

Lalu ketika Alif mengalihkan pandangan ke atas, ada burung yang tetiba lewat, saya jelaskan, “Nah, kalau yang itu, namanya burung, salah satu hewan dari bangsa unggas. Dia bisa terbang menggunakan dua sayapnya. Salah satu keagungan Allah.”

Kedua bola mata Alif mengerjap-ngerjap, senang. Lima detik kemudian, ia melihat langit. Ada segerombolan kecil awan putih yang terbang pelan. Berjalan ke arah utara.

“Itu bukan burung, Bang.” Kataku menerangkan, “Yang putih itu namanya awan. Dia bergerak karena ada angin yang meniupnya. Bukan karena ada sayap.”

Ketika saya menjelaskan banyak hal ke Alif, hebatnya, dia selalu mendengarkan, memandang wajah saya. Entahlah, apa yang ada di benaknya.

“Oh, Abang pengen bisa terbang seperti burung?” kata saya menebak asal, “Insya Allah, tahun depan kita pulang ke Bengkulu, Bang. Nah, kita nanti pakai pesawat. Kita bisa terbang deh kayak burung. Lebih tinggi, malah!”

Tidak sampai disana. Tidak hanya ketika Alif memandang penasaran pada beberapa hal saja sebenarnya. Bercerita dan menjelaskan banyak hal kepadanya, juga saya lakukan ketika saya habis bepergian. Seperti kala itu, saat saya pulang telat karena mengisi pelatihan di sebuah kampus di Bogor.

“Maafin, Abi ya, Bang,” Saya berujar sambil menggendong Alif. Dia anteng sekali di pangkuan saya. “Abi pulang telat. Soalnya, tadi Abi ngisi pelatihan di Bogor. Pesertanya rameee banget, Bang. Mereka kakak-kakak mahasiswa yang ingin belajar nulis katanya.”

Alif memandang saya, mendengarkan. Sesekali Ia bergumam dengan bahasa yang saya tak mengerti.

“Apa?” kataku pura-pura tidak mendengar, “Abang ingin bisa menulis juga? Beneran?”

Lagi, Alif bergumam. Sorot matanya menggemaskan.

“Iya, nanti kalau Bang Alif udah besar, Abi ajarin nulis deh. Tapi janji ya, nulisnya harus setiap hari. Biar tulisan Bang Alif semakin bagus terus. Katanya, menulis itu keterampilan loh, Bang. Jadi, semakin sering dilakukan, akan semakin baik hasilnya.”

Alif diam, mengarahkan pandangan ke arah lain.

Begitulah, saya paham sekali, bahwa di masa-masa awal pertumbuhan manusia, indera pendengarannya berkembang lebih pesat dan lebih dominan. Karenanya, Ia harus diajarkan banyak kosa kata. Didengarkan banyak kalimat agar perbendaharaannya semakin banyak dan kuat.

Apakah Alif mengerti semua yang saya katakan?

Saya tak yakin. Tapi sepertinya tidak. Jikapun selama ini, saat saya ajak dia bercengkerama, bercerita banyak hal, Ia selalu antusias mendengarkan ñsesekali malah menimpali dengan bergumam, boleh jadi, Ia hanya senang saja. Bukan karena mengerti.

Ia senang karena ada yang perhatian. Ia senang karena ada yang memperdulikan.

Alif memang begitu, saat saya dan istri sibuk sendiri ñentah karena sedang menulis atau larut dengan ponsel masing-masing, Ia ngambek. Menangis. Meminta perhatian kami.

Jika bisa berbicara, Alif mungkin saja akan protes, “Abi sama Ummi nih, aku kok dicuekin sih! Aku tuh pengen main-main sama Abi dan Ummi. Eh, malah sibuk sendiri-sendiri.” 

Maka, maafkan Abi dan Ummi ya, Bang Alif.

Anak adalah amanah yang suatu saat nanti, akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah. Karena hal inilah, saya berusaha mendidik Alif dengan sebaik-baiknya pendidikan. Saya ajak ia bercengkerama tentang hal-hal mulia. Sekali lagi, Alif memang belum mengerti. Tapi itu tak penting. Jauh lebih penting adalah, dia merasa kedekatan antara saya dan dirinya terjalin erat.

“Nanti, kalau udah besar. Di sekolah harus sering berbagi ke teman-teman. Bawa bekal dari rumah agak banyak, kasih temannya kalau ada yang kelaparan.”

Nah, karena semua hal yang saya lakukan ke Alif, dari lahir hingga lima bulan ini, dia benar-benar menjadi lengket ke saya. Sampai-sampai mertua saya bilang, ìSubhanallah, ya. Alif lengket banget sama Abinya. Barusan nangis kejer, dipegang Abinya langsung diem. Kayak televisi yang dimatikan begitu saja.î

Itu kejadian beberapa bulan lalu, saat Alif nangis entah karena apa. Saya gendong dan bertilawah, dia langsung diam. Memandang wajah saya penuh kehangatan.

“Mas, terimakasih ya, sudah menjadi Abi yang hebat buat Bang Alif,” ujar istri saya suatu malam, “aku bersyukur banget, Alif bisa lengket sama Abi. Nggak kebayang aja, sama bapak-bapak yang cuek ke anaknya. Nggak mau bantu mengasuh. Sibuk kerja di luar hingga larut malam. Kalau Abi kayak gitu, pasti aku stress banget.”

“Semua orang tua, pasti sayang ke anaknya,” jawab saya singkat.

“Tapi tak semua orang tua bisa dekat ke buah hatinya, Mas.”

Lalu mengalirlah beberapa cerita dari belahan hati saya, Ella. Bahwa ada temannya yang mengeluhkan sikap suaminya, bilang, “Suamiku mah boro-boro. Jangankan bantu nyuci popok atau nggantiin baju, lah wong anakku nangis aja dia ogah-ogahan nggendongnya.”

Ah, semoga saja saya tidak demikian. Saya berharap juga senantiasa berusaha, bisa menjadi ayah yang baik untuk semua anak-anak saya nanti. Ayah yang ketika nama saya disebut oleh sesiapa saja, maka anak-anak saya akan dengan bangganya berujar sambil berteriak, “Itu adalah ayah saya!”

Begitu!

Tulisan ini ditulis oleh Bang Syaiha. Sumber asli silahkan bisa kunjungi web Bang Syaiha disini.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *