HomeTutur Untuk MamaHati-Hati Krisis Paruh Baya Pada Mama Muda

Hati-Hati Krisis Paruh Baya Pada Mama Muda

Tutur Untuk Mama

Duling… sebuah pesan masuk ke whatsapp saya. Dari seorang sahabat, mama muda bahagia beranak dua.

“Aku mau curhat say, maha penting ini masalahnya…. “

“Kamu inget kan si Joko teman kita dulu…,” lanjutnya.

Dan dia pun menuturkan dari awal hal ikhwal yang membuatnya gundah gulana beberapa waktu ini. Terkait dengan laki-laki masa lalunya yang tiba-tiba masuk lagi ke hidupnya setelah sekian tahun tanpa kabar.

Bagaimana dia sepertinya “merasa” jatuh cinta lagi pada mantan gebetannya berbelas tahun silam itu. Mantan gebetan yang kondisinya juga tak jauh beda dengannya, sudah berkeluarga.

Bagaimana dia mulai merasa nyambung dan nyaman ngobrol via watsap dengannya, menunggu-nunggunya sekedar say hello atau laporan mau apa dan kemana hari ini.

Bagaimana dia cengar-cengir sendiri membaca balasan-balasan yang ditulis si dia untuknya.

Bagaimana dia mulai merasa ‘kehilangan’ saat si dia tak menyapa sehari saja.

Bagaimana dia merasa deg-degan dan salah tingkah hanya karena rencana mau bertemu dengan dia yang pada akhirnya gagal berjumpa.

Bagaimana dia bingung dengan sikap si dia terhadapnya yang tampak seperti kode-kode rumit pedekate.

Bagaimana dia kepo terhadap masa lalu si dia saat mereka terpisahkan ruang dan waktu bertahun-tahun. Siapa cinta matinya, bagaimana sifatnya dan lain-lainnya.

Bagaimana dia galau dengan perasaannya sendiri, antara rasa bersalah terhadap keluarganya dan ‘rasa itu’ yang muncul kembali dan begitu menggebu-gebu.

“Kamu tahu kan si Joko itu first love ku,” katanya,

“Hanjuk ngopo cint, first love is not special,” jawab saya.

(Yang spesial itu cinta terakhir dan itu selama-lamanya. Pinjem quotenya ya Mas Tere, semoga diijinkan. Kan nggak saya pakai buat nge-caption-in foto selfi monyong-monyong di depan menara Eiffel)

Saya termenung sesaat. Bukan kali ini saja kasus-kasus macam ini melintas di hidup saya. Dari mulai KDRT, perselingkuhan hingga perceraian.

Fenomena macam apa lagi ini?

Iseng saya gugling-gugling dan menemukan beberapa tulisan terkait situasi ini.

Tampaknya sahabat saya itu sedang mengalami puber kedua atau lebih tepat jika disebut krisis paruh baya (midlife crisis). Seorang ahli psikologi menyatakan pubertas kedua sebagai masa-masa ketika kehidupan seseorang kembali melewati periode ‘badai dan stres’ disertai dorongan gairah yang menggebu-gebu, pada usia sekitar 35-40 tahun.

Krisis paruh baya ini bisa terjadi pada siapa saja, pria maupun wanita. Tak peduli mereka sudah berkeluarga atau beranak-pinak.

Pada wanita, krisis ini di ditandai antara lain: jadi lebih senang berdandan, ingin terlihat menarik lagi secara penampilan, senang dipuji cantik terlebih oleh lawan jenis, merasa jenuh kepada suami, mulai merasa tertarik dengan pria lain selain suaminya dsb.

Banyak hal yang melatarbelakangi munculnya krisis ini. Kejenuhan dalam rumah tangga, kehilangan ‘rasa’ yang dulu begitu menggebu-gebu.

Kebutuhan emosional yang kurang terpenuhi atau terabaikan seperti kurangnya pujian dari orang-orang sekitarnya. Suami yang jarang menyatakan kekaguman atau rayuan pada istrinya, kurang menghargai atau merespon perubahan-perubahan kecil yang dilakukan istri untuk menyenangkan suami dan sebagainya.

Keinginan berkasih sayang secara timbal balik dengan pasangan yang bertepuk sebelah tangan.

Dan ketika ada laki-laki lain masuk dengan segala gombalan, pujian, rayuan dan basa-basi semacamnya pada saat seperti ini, Buuumm…!!! menggalaulah hatinya. Seolah menemukan kembali ‘rasa-rasa’ yang tak diperolehnya lagi dari pasangannya saat ini. Berbunga-bunga, bersemangat, merasa benar-benar dihargai, dibutuhkan dsb.

Bisa juga krisis ini terjadi hanya sekedar untuk ajang pembuktian diri bahwa ‘aku yang sekarang bukanlah aku yang dahulu’. Aku yang gak pede, cupu dan pemalu. Lihatlah aku saat ini, mature, menarik, smart, dan percaya diri. Nyesel kan kamu dulu mengabaikanku?

Yang harus benar-benar dicamkan di sini adalah beri batasan agar krisis paruh baya itu tak berlanjut pada perselingkuhan!! Ingat pepatah:

“Karena krisis paruh baya setitik rusak pernikahan bahagia.”

Apa sih yang masih tersisa dari sebuah pernikahan? Iya. Komitmen!! Bukan lagi cinta berapi-api, menggebu-gebu, meledak-ledak nan bergelora melainkan cinta yang hangat, kecil tapi terus menerus, intens.

Beberapa hal di bawah ini mungkin berguna untuk dijadikan bekal melewati krisis paruh baya ini

Pertama, Tutup semua pintu peluang yang memungkinkan timbulnya ‘rasa tak biasa’ di hati

Batasi interaksi tak penting, terutama dengan lawan jenis. Toh dalam agama dijelaskan ketakbolehan untuk berdua-duaan dengan lawan jenis. Chatting ngalor ngidul gak jelas tanpa ada keperluan termasukkah dalam berdua-duaan itu? Kalian tahu pasti jawabannya. Tinggal mau atau tidak mendengarkan kata hati nurani?

Ingat ya, perselingkuhan itu tidak diawali dari ranjang tapi berawal saat kau mulai merasa nyaman ngobrol dengan lelaki selain suamimu.

Kedua, Sebelum dilanjutkan ngobrol seru, ada baiknya untuk mencoba bertukar posisi sejenak.

Bayangkan jika kau jadi istri ‘teman’ chatmu dan suatu saat ngonangi suamimu lagi chatting berdua berhahahihi gak penting dengan teman perempuannya dulu.

Atau jika itu terlalu sulit, coba bayangkan jika suamimulah yang sedang melakukan percakapan akrab penuh canda dan emoji warna-warni dengan teman sekolah perempuannya dulu, tanpa melibatkanmu.

Sakit, jealous?? Itu yang istrinya juga rasakan.

Ketiga, Komunikasi yang berkualitas bukan hanya sekedar formalitas.

Berbincanglah dengan sepenuh hati, bukan hanya sekedar ngobrol karena kau istrinya dan dia suamimu.

Jangan kebanyakan hengpon-an, medsos-an, dan chatting-an.

Reboisasikanlah cinta kalian, karena cinta pun butuh diperbarui. Lakukan hal-hal yang dulu membuatmu cinta setengah mati dengan pasanganmu.

Keempat, Sadarilah bahwa kamu hidup di dunia nyata bukan di dunia drama.

Kisah hidupmu itu gak seunyu cerita-cerita korea atau AADC dua. Tabrakan tak sengaja dengan oppa-oppa superganteng dan jatuh cinta pada pandangan pertama atau duduk sebelahan di kereta dengan pria yang ternyata tetangga masa kecilmu kemudian ce-el-be-ka. Duuhh non, itu cuma ada di film-film.

Kelima, Jangan terlalu memanjakan ‘rasa’.

Menikmati berlama-lama di dalamnya. Sudah tahu itu gak benar, menggalaukan dan menggelisahkan, masih juga dipupuk-pupuk dan dipuk-puk. Cinta itu rasional dan realistis.

Keenam, Bersyukurlah dengan apa yang kau punya.

Materi yang mencukupi, anak-anak yang sehat, suami bertanggungjawab. Masih kurang bahagia? Rela menukarnya hanya demi memuaskan ‘rasa yang sesaat’ itu dengan resiko kehilangan segala anugerah maha indah itu? Your choice say

Ketujuh, Kuatkan doa.

Mintalah Tuhan untuk selalu menjaga hati kita yang super labil ini. Mintalah Dia untuk menjauhkan kita dari godaan syaiton yang terkutuk yang dengan segala daya upayanya selalu berusaha menjauhkan kita dari jalan-Nya.

Saya diminta sahabat saya itu untuk menuliskan cerita ini, dengan pengantar “Siapa tahu bisa menyadarkanku dan banyak orang lain yang mungkin mengalaminya.” Haha, geli saya.

Dia sebenarnya paham benar dengan persoalan yang dialaminya plus segala solusinya. Dia hanya butuh didengarkan, didukung, dikuatkan, ditegaskan, dan diingatkan.

Bahwa yang kamu lakukan itu salah. Bahwa yang kau usahakan itu sudah tepat. Bahwa kamu harus tegas. Bahwa aku mengerti yang kamu rasakan saat ini. Bahwa aku mendukungmu keluar dari persoalan ini. Bahwa aku ada untuk mendengarkan ceritamu. Dan bahwa-bahwa yang lain.

Itulah wanita. Sayangnya sedikit sekali yang memahami kebutuhan wanita yang satu ini, termasuk para bapak-bapak di luaran sana. Hahaha..

Comments

comments

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *