HomeTutur Untuk MamaMah, Jangan Buru-Buru Berprasangka Buruk Pada Anak. Biarkan Anak Mengungkapkan Perasaannya Dulu..

Mah, Jangan Buru-Buru Berprasangka Buruk Pada Anak. Biarkan Anak Mengungkapkan Perasaannya Dulu..

Tutur Untuk Mama

“Tidak ada alasan! Pokoknya tiduuur!”

Setidaknya demikian bila kita tak mau menerima alasan dari buah hati, kenapa mereka belum juga tidur siang. Alasan adalah suatu hal yang diungkapkan untuk mengokohkan pendapat. Bisa juga keterangan yang dipakai untuk menguatkan pendapat.  Hal yang menjadi pendorong seseorang melakukan suatu hal.

Kita, sebagai ibu atau orangtua kerap tidak mau menerima alasan anak-anak kita, bila apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan kehendak kita. Orang tua kadang langsung menghakimi anak, tanpa memberikan kesempatan padanya untuk “menjelaskan” duduk perkaranya dahulu.

Saya memiliki pengalaman yang mungkin bisa kita jadikan pelajaran bersama. Apa yang dilakukan anak sulung saya, saat usianya baru saja masuk angka lima.

Siang itu, udara Yogyakarta terasa menyengat. Bila dari dalam rumah, lalu ke luar, maka kita akan memicingkan mata karena silau. Dan bila dari luar rumah, baru masuk ke rumah, maka semua tampak gelap. Keringat berlomba untuk meluncur dari pori-pori. Saking panasnya, hidung yang menghela napas, seolah menghela uap. Suara ayam seolah mengundang anak-anak mereka untuk berteduh. Dan saya memanggil anak sulung saya, memintanya untuk tidur siang.

“Aku enggak mau tidur ah!” jawabnya membuat saya terkejut.

Dua mata bulatnya melihat saya. Satu hal yang dia lakukan untuk melihat, bagaimana reaksi saya. Rasanya ingin menggendongnya langsung, dan membawanya ke kamar mandi. Cuci kaki, tangan, dan antar ke tempat tidurnya. Tapi, hari itu saya sedang ingin mengetahui alasan apa yang membuatnya tidak mau.

Biasanya, dia akan bertanya, “Kenapa sih tidur siang terus?” Dan saya akan menjelaskan, sambil tangan mengambil buku cerita. Tanpa dia sadari, saya membuatnya menuju kamar mandi, dan kamar tidurnya, bersiap tidur. Usai memberi penjelasan, saya akan membacakan buku cerita untuknya. Sungguh, saya ingin hal itu berjalan mulus, terus-menerus dan akhirnya benar menjadi kebiasaan. Sayang, kerap kali apa yang kita harapkan, tidak lah sesuai dengan kenyataan. Seperti yang saya alami, sulung saya menolak keinginan saya untuk tidur siang.

“Lho, kenapa?” tanya saya mencoba memberinya peluang menjawab.

Kedua matanya masih melihat wajah saya. Saya melihat jam dinding hijau di dekat TV. Jarum jam dinding sudah saling dekap di angka dua. Jika dia  tidak tidur siang, sore, menjelang malam, mereka biasanya ribut. Ada saja bahan yang bisa dijadikan objek keributan. Entah berebut mainan dengan adiknya, minta makan, atau hal lain. Ujungnya akan ada yang menangis, atau kompak membahana serupa paduan suara.

“Ya. Enggak mau tidur ah!” jawabnya menyulut rasa penasaran.

Anak saya berlalu. Anehnya, dia membawa sepasang sepatu hitam berpelat merah miliknya. Lengkap dengan kaus kaki. Apa mungkin dia mau main bola? Kok aneh, ya? biasanya juga main bola bertelanjang kaki. Apalagi, bola plastiknya kan rusak.

Demi mengikuti rasa penasaran, saya membiarkannya pergi. Adiknya yang berusia tiga tahun kurang satu bulan, mengekor. Sepertinya mereka berdua sedang kompakan.

Bulan itu, tempat tinggal kami sedikit diperluas. Kami dibantu dua orang tukang. Mereka sudah ada di tempat kami sejak pukul 08.00 -16.00. Jadwal mereka sangat teratur, saya jarang mendapati pak tukang terlambat, atau mundur waktu pulangnya.

Aktivitas yang mereka lakukan, kerap mengundang rasa ingin tahu kedua balita saya. Mereka selalu saja bertanya, dan saya bersyukur, sebab, pak tukang pun dengan sabar selalu menjawab.

Saya berdiri di dekat jendela. Gorden hijau berkibar-kibar tertiup angin. Embusan yang terasa sejuk pada saat seperti ini. Tangan ini menyibak gorden. Dari jendela, saya dapat melihat semua aktivitas pak tukang. Dan, saya terkejut mendapati dua anak saya yang dari kejauhan sedang melakukan sesuatu. Perlahan, ada yang menusuk kedua ujung netra saya. Jadi, ternyata ada alasan yang begitu mulia, kenapa anak saya tidak mau tidur siang.

Anak berkaus merah, dengan celana pendek hitam, sedang mendorong ember kecil. Di atas boncengan sepeda roda tiga milik adiknya, ember itu bergundang-guncang. Saya berjinjit, ternyata, ember itu penuh dengan adonan semen dan pasir. Adiknya mendorong dari belakang. Anak sulung saya berusaha memegangi, untuk menjaga keseimbangan ember kecil itu di atas boncengan.

Sigap, dia menurunkan ember seraya bersuara, “Egh!” Menyeretnya ke bawah jendela tempat tinggal yang sedang dibangun. Dia menumpuk beberapa corn block di bawah gawangan jendela. Saya sempat menahan napas saat kaki kecil itu menapakinya. Napas terdengar terengah, keringat membanjiri kening, namun, wajahnya sangat bersemangat. Jauh lebih ceria dibanding saat dia mendapatkan benda keinginannya.

Saya melihat dua kaus kakinya. Warna putihnya sudah bercampur cipratan semen. Kaus kaki sebelah tampak lebih panjang dari yang lain. Kaki kanannya menaiki gawangan, bagian bawah jendela. Dia naik, memindahkan ember kecil itu dengan tangan dan kaki gemetar. Saat ember sudah di atas gawangan jendela, dia turun.

“Pak, ini, Pak!” katanya terlihat bangga.

Pak tukang menerima ember kecil itu. Dan anak saya kembali, lincah membawa ember kecil yang sudah kososng. Sementara adiknya sudah siap menunggu sambil memegang dorongan sepeda roda tiganya.

Dada saya sesak.

Rasa haru yang begitu dalam, melihat pemandangan itu. Bersyukur saya tidak langsung memarahinya, sebelumnya. Tidak memaksa untuk tidur siang. Demi membantu orang lain, dia rela mengorbankan waktu tidur siangnya, demikian kalimat positif yang saya susun untuknya.

“Bila kita menutup hati, maka saat itu juga kita tidak bisa melihat kebaikan yang  ada.”

***

Sebagai ibu, atau orangtua, alangkah baiknya bila kita melonggarkan hati untuk mendengar, menyimak alasan putra-putri kita. Bila mereka menolak, atau mengusulkan hal lain, yang jauh berbeda dari keinginan kita. Jangan buru-buru merasa kita pasti benar. Bukankah pada akhirnya benar menurut kita, belum tentu baik untuk mereka?

Setidaknya, ada beberapa poin yang bisa saya catat sebagai pembelajaran, dari apa yang dilakukan sulung saya :

Tidak ada salahnya menahan/mengunci mulut, ketika anak-anak kita membantah, atau memberikan argumen tentang apa yang mereka lakukan. Kemudian dengarkan mereka.

Sikap keras kepala kita untuk memaksa mereka agar patuh tanpa alasan, hanya akan melukai, dan bisa jadi menutup peluang pengembangan diri atau karakter baik mereka.

Pada waktu, atau hari lain, beri mereka penjelasan tentang keinginan kita yang baik bagi mereka. Saya juga memberi penjelasan tentang manfaat tidur siang bagi anak-anak seusia sulung saya. Memang, hasilnya tidak langsung membuat mereka patuh 100%, tapi, kita sudah melakukan apa yang sebaiknya kita lakukan.

Puji mereka dengan alasan yang mereka buat, bila itu alasan yang benar. Dan arahkan bila alasan yang mereka buat masih keliru.

Bagaimana pun, mereka adalah makhluk yang suci. Mereka belum memiliki dosa, dan kitalah yang akan menjadikan mereka seperti apa saja.

Anak-anak bisa menjadi :

Penyejuk hati : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S : Ali Imran :14).

Cobaan : “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar.” (Q.S : Al Anfal : 28).

Musuh : “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan, dan tidak memarahi serta mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S :At-Taghabuun : 14).

Anak yang Lemah : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S : An-Nisa’ : 9).

Semoga kita bersabar.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *