HomeTutur Untuk MamaSaat Rasanya Tak Mampu Lagi Menanggung Beban Kehidupan, Ingatlah Mah, Ada Makhluk Kecil yang Bergantung Padamu

Saat Rasanya Tak Mampu Lagi Menanggung Beban Kehidupan, Ingatlah Mah, Ada Makhluk Kecil yang Bergantung Padamu

Tutur Untuk Mama

Saat menulis judul tulisan ini, saya berpikir, apa kata-kata yang saya pilih sudah tepat. Karena sangat mungkin, sumber keletihan jiwa raga Ibu justru bersumber dari bayi mungil yang baru saja lahir ke dunia. Saat anak saya masih berumur di bawah enam bulan, saya pun pernah mengalami ‘keletihan’ macam itu. Sekarang, saat bayi kecil itu sudah melewati ulang tahun pertamanya, ternyata saya masih mengalaminya. Hanya saja kali ini sumbernya berbeda. Hahaha…

Menjadi wanita memang tidak mudah. Apalagi wanita yang baru menyandang status tambahan dari yang tadinya ‘istri’ menjadi ‘istri dan ibu’. Banyak (termasuk saya) yang ternyata masih mengalami culture shock setelah melahirkan anak pertama, padahal sudah membekali diri jauh-jauh hari dengan membaca segala macam informasi tentang cara merawat bayi.

Mendengarkan cerita-cerita dari para senior pun sudah khatam. Tapi begitu mengalami sendiri yang namanya bangun setiap dua jam sekali setiap malam, menyusui sambil terkantuk-kantuk sendirian karena tinggal berjauhan dengan suami (ini mah curcol hahaha), dan frustasi karena belum terampil menidurkan bayi, rasanya ingin sekali kembali ke masa ketika masih gadis. Ketika kebebasan mengatur hidup ada di tangan sendiri.

Tapi bagaimanapun juga, para Ibu yang membaca tulisan ini pasti setuju bahwa anak kita adalah anugerah tak terhingga dari Yang Maha Kuasa.

Makhluk kecil yang ajaib, yang tumbuh membesar di dalam tubuh kita, kita gembol ke mana-mana sampai sembilan bulan, hingga akhirnya berhasil keluar setelah perjuangan hebat. Sumber kebahagiaan yang tak terhingga. Dan sumber kekuatan yang begitu besar.

Mengurus bayi seorang diri bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi kita bahagia dan bersyukur karena bisa merawat anak dengan jerih payah, keringat, dan air mata kita sendiri, tapi di sisi lain kita seolah merasa terjebak pada kondisi yang tak punya ujung pangkal. Hidup bergulir dengan rutinitas yang itu-itu saja dan mendatangkan rasa penat dan letih.

Saya mengklaim diri saya tidak mengalami baby blues, apalagi post partum depession, tapi pernah suatu kali, pikiran untuk bunuh diri melintas dalam kepala saya. Saat itu, Andara, anak saya, mungkin masih berumur sekitar empat atau lima bulan. Saat itu, saya sedang duduk sendirian di ruang keluarga sambil menggendong Andara.

Saya merasa sangat lelah dengan hidup ini. Saya lelah melakoni rutinitas harian, saya lelah menahan kerinduan pada suami, saya lelah berada di rumah terus, pokoknya saya lelah. Lalu saya berpikir, enak kali ya, mati. Nggak ngerasain apa-apa lagi. Lepas dari semua rasa lelah ini.

Pikiran untuk bunuh diri sedikit demi sedikit semakin terasa menggoda. Saya tahu, saya sangat bodoh kalau sampai benar-benar bunuh diri, tapi nyatanya saya menikmati memikirkan kemungkinan untuk melakukan itu. Sepertinya akan lega sekali jika bisa bebas dari beban yang saya rasakan saat itu. Tapi sepertinya juga akan sakit lebih dulu sebelum mati (saya memikirkan pisau atau lompat dari ketinggian). Dan ketika pikiran-pikiran mulai menjadi liar, Andara menggelayut ke badan saya, minta disusui.

Saya menunduk menatap wajah polos itu dan tertegun.

“San, bodoh banget kamu kalau mau mati sekarang. Ada makhluk yang hidupnya bergantung sama kamu. Buat makan sendiri aja belum bisa…”

Lalu omongan Mama saya melintas di kepala:

“Makhluk kecil yang lemah…”

Seketika saya sadar sepenuhnya. “Aku akan bertahan hidup demi anak ini.”

Dan alhamdulillah saya masih diizinkan hidup sampai menulis cerita ini.

Waktu pun bergulir.

Saya sudah sempat sebutkan bahwa saya tinggal berjauhan dengan suami. Alhamdulillah, selang beberapa bulan setelah ‘insiden niat bunuh diri’ itu, kami sekeluarga dikumpulkan kembali.

Ternyata, berdekatan ataupun berjauhan, masing-masing mendatangkan kondisi yang harus disikapi secara bijak.

Ada kalanya rumah tangga berjalan tak seperti yang kita inginkan. Ada ketidakpuasan-ketidakpuasan yang dirasakan baik oleh suami maupun istri, yang bisa memicu pertengkaran berlarut-larut jika tidak kunjung diselesaikan. Saat masih berjauhan dari suami, saya harus bergelut dan berdamai dengan diri sendiri karena merasakan kekosongan yang tidak bisa tergantikan. Namun saat sudah berdekatan, saya (kami, lebih tepatnya) ternyata justru harus lebih mampu mengatur batin masing-masing, agar tidak mencetuskan pertengkaran yang bisa terdengar anak berumur satu tahun.

Suatu saat, keinginan untuk bunuh diri kembali melintas dalam pikiran saya. Bahkan tidak hanya sekali, tapi DUA KALI.

Kondisi saya bahkan lebih buruk dibanding ketika pikiran itu melintas pertama kali. Anak yang semakin besar mendatangkan tantangan baru, yaitu memastikannya makan dengan benar. Andara termasuk anak yang mood-nya naik turun dalam ber-MPASI, dan ketika digabungkan dengan fisik yang terkuras dalam mengurus rumah tanpa asisten, saya mengalami serangan rasa frustasi yang membuat diri merasa begitu terpuruk.

Saya merasa tidak becus menjadi istri dan ibu, saya merasa tidak becus mengurus anak, saya merasa gagal. Saya menangis. Saya lagi-lagi ingin mati saja.

Sulit untuk mengontrol pikiran tetap jernih di saat emosi mengambil alih tubuh sedemikian rupa, tapi saya bersyukur masih bisa menahan diri sampai beberapa saat. Dan ketika tangisan mereda dan logika kembali berfungsi, saya mendapati diri sedang memandangi Andara.

Saya bersyukur Tuhan masih menjaga saya tetap waras.

Saya bersyukur Tuhan masih mengingatkan saya bahwa bunuh diri merupakan sebuah dosa yang teramat besar. Dan, tentu, saya bersyukur Tuhan sudah menitipkan si kecil yang tertidur dengan wajah begitu polos, yang suka sekali berdiri sambil berpegangan pada kedua kaki saya, yang akan bergoyang ke kanan dan ke kiri saat mendengar irama apapun, dan nyengir dengan menampakkan gigi-gigi kecilnya ketika melihat saya menawarkan bakpao.

Sungguh, Nak, kamu adalah kekuatan yang dahsyat bagi Mamah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan keberkahan hidup padamu. Dan untuk semua Ibu yang membaca tulisan ini, yakinlah bahwa kita ini kuat, lebih kuat dari yang kita kira. Jika suatu saat kondisi menjatuhkan kita ke titik terendah, selalu ingatlah bahwa Allah tidak memberi cobaan lebih dari yang sanggup ditanggung hamba-Nya.

Temukan kekuatanmu, Mah! 🙂

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *