HomeTutur Untuk MamaIbu Yang Galak Tapi.. Ibu Yang Baik Tapi..

Ibu Yang Galak Tapi.. Ibu Yang Baik Tapi..

Tutur Untuk Mama

“Gak apa-apa Nin, kalo anak-anak salah ditegur aja, gak apa-apa di marahin aja,” jawab saya di telepon saat mendengar laporan dari ibu saya tentang bagaimana sikap anak-anak selama dititip dirumahnya saat saya menginap di bidan.

Secara general mereka sholih, sangat kompak dan saling menjaga dan mengurus sesama saudara, namun wajar pasti saja ada perkelahian-perkelahian kecil diantara mereka serta sikap yang belum bijak khas anak-anak.

Setelah menutup telepon, saya diskusi dengan anak-anak tentang kejadian apa saja yang terjadi selama menginap di rumah nenek mereka. Setiap anak saling bercerita termasuk bercerita tentang bagaimana perbedaan respon antara ibu saya dan saya dalam melihat perilaku anak-anak.

“Nin mah kita main pillow fight aja langsung woi….woi…woi,” komentar Shiddiq.

Kami semua tertawa.

Memang Nin Ani dan saya punya nuansa parenting yang berbeda. Seingat saya dulu kami kurang bebas berekspresi untuk mengeksplore lingkungan apalagi membuat berantakan. Saya sering mengingatkan anak-anak kalo tenaga nenek dan kakek itu berbeda dengan tenaga ibu dan bapak. Jadi saya meminta mereka untuk menyederhanakan eksplorasi mereka jika sedang di rumah nenek mereka.

Nin Ani pun mengakui bahwa tenaganya saat ini sudah berbeda dibanding dulu saat mengurus kelima anaknya.

”Kalo dulu mamah masih muda, masih energik. Kalo sekarang mamah sudah gampang capek. 2 hari dititip anak-anak kamu sehari besoknya plek tidur tepar. Tapi dulu anak-anak mamah sih gak kayak anak-anak kiki yang aktif. Dulu mah da gak ngerti, gak pakai pola asuh. Abis disuapin kenyang makan, anak-anak dikasih tontonan doraemon. Mamah asik aja kerja nyuci piring dan beres-beres sendiri. Makanya salah semua dikerjain mamah, jadilah kalian gak terbiasa kerja. Mamah sih seneng dititipin anak-anak sekali-kali, anak-anak Kiki juga soleh-soleh. Cuma mamah bingung takut salah didik. Mau kasih nonton juga bingung yang boleh film apa. Pokoknya sama nin mah sesekali aja lah buat liburan. Nin bingung gak bisa ngedidiknya. Kalo belajar mah sama ibu bapaknya aja. Sama Nin mah bagian senang-senang aja”.

Anak-anak pun mengakui bahwa mereka bisa mendapatkan banyak hal yang diinginkan dari sang nenek, seperti nenek kakek pada umumnya yang begitu memanjakan cucu. Namun mereka juga mengakui kalo sang nenek juga galak dalam hal melarang. Neneknya pun tertawa saat saya membahas komentar anak-anak tentang ini.

“Jadi menurut kalian siapa yang lebih galak, ummi atau nin?” tanya saya.

Mereka serempak kompak bilang bahwa Nin lebih galak. Tiba-tiba Ali menyeletuk, ”Tapi Nin itu INKONSISTEN. Galak tapi manjain.”

Hahaha saya tertawa mendengar komentar anak-anak.

Galak tapi inkonsisten.

Sebuah fenomena yang sering sekali terjadi dalam dunia parenting. Saya jadi teringat percakapan lain bersama Ali saat Abang Shiddiq sedang mendapat konsekuensi berupa menjemur pakaian.

Salah satu aturan di rumah kami, ”Siapa yang jahil terhadap saudara berarti sedang kelebihan energi. Siapa yang kelebihan energi silahkan menyalurkan energi pada tugas yang diberikan Ummi agar energinya bermanfaat.”

Saat itu Ali berkomentar, ”Kalau Ummi itu tegas, kadang sadis tapi baik. Tapi sebenernya lebih susah daripada orang tua yang galak, marah-marah dan membentak tapi abis itu ya udahlah…. gak papa.”

Hahahaha saya tertawa mendengar komentar Ali.

Saya pun bertanya pendapatnya tentang mana yang lebih baik. Ia pun mengiyakan bahwa ibunya selama ini melatih mereka untuk belajar bertanggungjawab dan mengambil konsekuensi dari setiap perbuatan meski tanpa teriak-teriak marah. Sementara ada banyak orang tua yang sering berkomentar marah-marah tapi anaknya tidak dilatih untuk menyelesaikan masalahnya, kadang orang tua tersebut malah turun menyelesaikan masalah yang dibuat anaknya setelah puas marah-marah.

Pernah suatu hari Shiddiq memohon dan menarik kaki saya untuk mencabut konsekuensi skors bermain diluar yang saya berikan sementara saya tetap tenang, tidak marah-marah tapi tidak juga bersedia mencabut kembali konsekuensi yang di berikan. Dengan tenang ummi hanya mengingatkan, ”Ummi hanya ingin kamu mengingat hari ini supaya tidak diulang lagi perbuatannya. Di rumah kita punya aturan, siapa yang tidak siap bersikap baik di public area silahkan menenangkan diri di private room sampai siap untuk kembali bersikap baik di public area.”

Waktu itu saya beri ia skors menenangkan diri di rumah, tidak bermain keluar selama 3 hari karena ia melakukan sebuah perbuatan jahil pada teman yang memicu anak tersebut marah dan kemudian balas membully anak saya dengan bantuan teman-temannya.

Sementara ia pun tidak bisa menahan emosi dan kembali marah dengan perlakuan bully mereka. Di kasus lain, pernah saya memulangkan Shiddiq dan tidak mengikutkan kegiatan jalan-jalan bersama saudaranya saat ia tidak mampu mengontrol sikapnya di ruang publik.

“Abang ngantuk, abang error, abang tidak bisa mengontrol diri. Abang pulang ikut ummi, kita tidur. Ingat aturan di rumah kita siapa yang tidak siap bersikap baik di public area dia harus menenangkan diri di private room.”

Ia pun ikut pulang setelah tidak berhasil merengek meminta saya mencabut konsekuensinya. Tak lama kemudian di jalan ia tertidur.

Ya begitulah kometar Ali.

Katanya saya tegas, kadang sadis tapi baik. Mungkin beberapa contoh percakapan dibawah ini menggambarkan suasana ketegasan dalam parenting dirumah saya.

“Praaaaang!!!!!” Suara gelas atau piring pecah. “Silahkan ambil sapu dan sekop, silahkan dibereskan. Masukan pecahan kaca dalam plastik lalu buang. Pakai sendal kalo takut luka. Next time tolong lebih berhati-hati.”

Tidak marah-marah tapi tidak juga saya bantu kecuali yang melakukan ketidaksengajaan masih berusia batita.

“Iringi kesalahanmu dengan kebaikan. Silahkan pikirkan kebaikan apa yang mau kamu lakukan pada xxxx,” kata saya selesai persidangan dan memutuskan siapa yang salah dalam suatu kasus dan bagaimana tingkat kesalahannya. Anak-anak yang mendzholimi saya minta untuk melakukan kebaikan kepada pihak yang terzholimi.

“Yang tangan, kaki dan lisannya, tidak aman bagi orang lain, Silahkan mengamankan diri di ruangan sepi sampai tenang dan siap untuk bergabung kembali,” kata saya jika mendapati ada anak yang tangan, lisan atau kakinya berbuat dzholim. Bahkan pada beberapa kasus balita, saya menyampaikan kalimat ini sambil menggendongnya dan menenangkan di ruangan yang lebih sepi, seperti kamar misalnya.

“Silahkan pergi ke ruang tramploline. Salurkan energi kalian disana sampai habis. Mohon tidak menyalurkan energi disini,” kata saya jika melihat anak-anak yang sudah berbuat yang tidak sewajarnya di dalam rumah akibat kelebihan energi yang dimilikinya. Kebetulan kami punya ruangan seperti gudang yang berisikan arena trampoline. Ruangan itu sering kami jadikan tempat penenangan diri dan pelampiasan energi dengan melompat di trampoline bagi anak-anak yang membuat keonaran di rumah akibat kelebihan energinya.

“Sepertinya ummi dapat relawan baru untuk menguras kamar mandi. Siapa yang kelupaan belum menyiram?” Aturan di rumah kami, siapa yang kelupaan menyiram toilet saat beristinja berarti ia yang menguras toilet pekan itu. Jika yang kelupaan Faruq yang berusia 5 tahun, biasanya sedikit dikurangi porsi kerjanya. Misal hanya bagian kloset atau menyikat dinding.

Jika saya menemukan anak-anak mulai kelebihan energi dengan saling menganggu, jahil atau bertengkar biasanya saya memberikan pengumuman. “Hari ini masih tersisa pekerjaan xxxxxx. Silahkan bagi yang kelebihan energi bisa memgambil pekerjaannya.”

Hahahaha anak-anak biasannya langsung mengontrol diri mereka agar tidak kebagian pekerjaan ekstra.

Konsekuensi…..konsekuensi…..oh konsekuensi….. semua dibuat ummi selogis dan senatural mungkin. Main lalu berantakan….. ya bereskan. Masak-masak, bikin aneka minuman sampai dapur kotor yaaaa bereskan. Art and craft dan berantakan, yaaaa bereskan. Setelah bikin kue, bermain ice skating dengan terigu yang tumpah-tumpah yaaaa……silahkan vacuum cleaner sendiri.

Teras basah setelah main perang-perangan air, yaaaaa…. silahkan pel teras dan garasi. Ada anak ngamuk gedor-gedor pintu kamar mandi “Harga pintu itu 250 ribu ya. Kalo rusak tolong ganti dari uang tabungan ya,” kata ummi dengan tenang.

Seketika itu ia sadar dan berhenti ngamuk dengan cara tersebut. Anak nangis dan rewel “Ummi gak ngerti kamu ngomong apa, silahkan nangis dulu ya di sana sampai tenang, kalo sudah tenang kita bicara.”

Anak pun menahan diri dari menangis karena ia tau ia tidak berhasil merebut perhatian saya dengan menangis”.

“Tidak memukul, tidak melempar!!! atau ummi tenangkan di kursi merah ya sampai tenang,” Fatih yang berusia 2.5 tahun langsung bisa menghentikan tantrum dalam bentuk merusak, karena ia mengerti jika tangannya tidak berhenti menyakiti atau merusak barang ia akan digendong ummi ke kursi makan (high chair) berwarna merah yang ummi tempatkan di tengah ruangan sehingga ia kesulitan memanjat turun.

Ummi akan berada disamping kursi merah Fatih sampai ia berjanji untuk tenang dan berhenti menyakiti atau merusak. Aa Ali sangat hafal jawaban saya jika ia melobby saya utuk sejenak melanjutkan programmingnya di sela-sela pelajaran homeschooling “atur aja……!!!!” Karena aturan tentang jadwal dan target homeschooling untuk usianya sudah jelas terperinci dalam sebuah perjanjian. Jam berapa ia maksimal harus selesai dan apa saja yang harus dilakukan dalam durasi waktu tersebut.

Ia juga mengerti bahwa akan ada penghilangan hak-hak tertentu saat ia terlambat atau tidak menyelesaikan target dalam 2 pekan. Maka saya tak perlu banyak-banyak marah saat mendapatinya tidak memanfaatkan waktu homeschooling dengan baik.

Aa Ali biasanya sangat mengerti saat saya melontarkan kalimat “Aa, waktu terus berjalan ya A!” Ia mengerti sinyal itu. Segera ia hentikan kegiatan “iklannya” dan kembali pada pekerjaan homeschoolingnya.

Yaaaa begitulah…. yang membedakan galak atau tidak galak itu kadang hanya nada biacara dan pilihan kata. Keduanya menginginkan anak untuk menghentikan perilaku buruk yang mereka lakukan. Tapi ada banyak orang tua yang terlihat galak tapi sebenernya rapuh dalam konsistensi mendidik.

Sebaliknya saya berusaha bagaimana ketegasan dan keteguhan dibalut dengan kelembutan dan disajikan diatas piring kasing sayang agar mereka mengerti bahwa cinta dan kasih sayang tak berarti memberikan segala hal yag mereka minta.

Cinta dan kasih sayang berarti memberikan dan membantu memilihkan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhiratnya meski terkadang sangat berat untuk dijalankan saat ini.

Inilah sepenggal kisah dari ummi yang baik tapi tegas dan terkadang sadis dengan konsekuensi yang harus dilakukan anak-anaknya.

(di copy paste dari facebook Teh Kiki Barkiah atas seijin penulis)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *