HomeTutur Untuk MamaKerepotan? Merasa Mengurus Anak Sendirian? Bicaralah, Ma!

Kerepotan? Merasa Mengurus Anak Sendirian? Bicaralah, Ma!

Tutur Untuk Mama

Suatu hari, Ayah sedang libur kerja. Begitu bangun tidur, yang dicari adalah gadget. Setelah itu, Ayah asyik-masyuk dengan smartphone­-nya seharian, seolah bumi ini sudah berhenti berputar. Padahal, sejak subuh, Ibu sudah sibuk mengerjakan ini-itu, mulai dari mencuci baju, menyiapkan sarapan, menyuapi dan memandikan anak, mencuci piring, menyapu, membereskan rumah, menemani anak bermain, memasak, dan sebagainya, dan seterusnya. Sekali-sekali, Ibu melongok ke kamar dan mendapati Ayah masih tidak bergerak dari posisinya tadi pagi. Terdengarlah helaan nafas panjang Ibu.

Apakah Mama akrab dengan ilustrasi tersebut?

Mungkin tidak persis, tapi jika jawabannya adalah ‘ya’, maka Selamat! Mama tidak sendirian J

Bagi Mama yang sensitif dan pemendam perasaan (seperti saya), kelakuan Ayah bisa membuat baper seharian. “Kenapa sih, nggak mau bantuin sedikiiiit aja? Udah nggak sayang ya sama aku?” dan sebagainya, dan seterusnya. Ayah tiba-tiba menjadi tokoh yang super jahat. Kalau Mama yang lebih bisa mengekspresikan perasaannya, mungkin yang muncul adalah rentetan omelan panjang. Namun, apakah benar, Ayah sejahat itu?

Saya menikah pada awal tahun 2015. Selama sembilan bulan berikutnya, saya dan suami tinggal bersama dan meneruskan bekerja. Namun saat akan melahirkan anak pertama, saya memutuskan keluar dari pekerjaan dan melahirkan di kampung halaman. Kami tinggal terpisah selama setahun hingga akhirnya berkumpul kembali.

Kondisi tersebut membuat saya harus beberapa kali beradaptasi. Utamanya, adaptasi dari yang komposisi awalnya adalah “saya dan suami” menjadi “saya, bayi, dan ibu” dan kemudian menjadi “saya, bayi, dan suami”.

Di awal pernikahan, kami hanya tinggal berdua dan masih sama-sama bekerja. Hal itu membuat saya tidak terlalu merasa terusik dengan pekerjaan rumah karena sepanjang hari berada di luar. Pekerjaan rumah dibagi dua sesuai kemampuan kami dan semua berjalan baik-baik saja.

Saat kami kembali bersama setelah tinggal terpisah selama satu tahun, kondisinya jauh berbeda. Pertama, saya sudah tidak bekerja. Kedua, kami memiliki bayi. Ketiga, suami berpindah unit kerja, sehingga tidak bekerja dengan pola 6-1 lagi (6 hari kerja, 1 libur), namun menjadi 2-2 (2 hari kerja, 2 hari libur, shift pagi dan malam).

Kombinasi tiga hal tersebut memunculkan kondisi yang menarik, salah satunya seperti ilustrasi yang disampaikan di awal tulisan ini.

Sebagai mamah muda yang hidup di era gadget minded seperti sekarang ini, keluhan tentang situasi semacam itu kerap ditemui berseliweran di jejaring sosial. Saya, yang sejak sebelum menikah sudah membacai topik seputar komunikasi antara pria dan wanita, ternyata tetap baper ketika dihadapkan pada realita.

Di sela-sela ke-baper-an, saya mencoba-coba cara mana yang paling tepat untuk meminta bantuan kepada suami, khususnya bantuan untuk memomong anak selagi saya mengerjakan pekerjaan rumah.

Berikut ini adalah beberapa cara komunikasi yang saya coba beserta hasilnya.

Cara 1: Cara Implisit / Terselubung

Cara implisit versi saya adalah meminta bantuan pada Ayah melalui ‘percakapan’ dengan anak kami.

“Andara ikut Ayah sebentar ya, Mamah mau masak dulu,” kata saya sambil mendudukkan Andara di dekat suami yang sedang ber-gadgert ria. Biasanya, respons suami saya adalah tidak merespons hahahaha :’D

Saya mencoba cara ini berkali-kali dengan berbagai kondisi, tapi hasilnya lebih banyak tidak berhasil. Kalaupun berhasil, perhatian Ayah hanya bertahan sebentar dan anak kami kembali rewel mencari-cari mamanya.

Setelah yakin bahwa Cara 1 tidak efektif, saya pun memberanikan diri mencoba cara lain.

Cara 2: Cara Langsung

Sebelum membahas cara ini, izinkan saya bercerita sedikit tentang Mama dan Bapak saya. Sebab, cara komunikasi antara keduanya itu cukup memengaruhi mengapa saya tidak menjalankan Cara 2 sejak awal.

Bapak saya adalah lelaki tulen. Dalam arti, egonya sangat besar. Bapak adalah tipe suami yang tidak mau disuruh. Bahkan, kalau salah ucap sedikit saja, Bapak bisa mengartikan permintaan bantuan dari Mama sebagai perintah. Oleh karena itu, Mama saya sangat berhati-hati ketika ingin meminta bantuan dari Bapak. Malahan, kalau masih bisa dikerjakan sendiri, kerjakan sendiri saja (contoh: memasang tabung gas).

Ilustrasi-ilustrasi tersebut membekas dalam pikiran saya dan membentuk pola perlakuan serupa. Saya menempatkan suami seperti Mama menempatkan Bapak. Padahal, suami saya dan bapak saya adalah orang yang berbeda.

Pada suatu kesempatan, saya akhirnya mencoba cara kedua. Hati ini harap-harap cemas menunggu reaksi dari suami.

“Ayah, titip dedek sebentar, ya, ditemeni main. Mamah mau masak dulu,” kata saya sambil—benar—mendudukkan Andara di dekatnya.

Dan ternyata reaksinya adalah:

“Oke.” Lalu mendudukkan Andara di pangkuannya, “Sini Dedek, ikut Ayah main Ninja.”

Dan mereka pun asyik bersama-sama.

Hore! 😀

Selanjutnya, setiap saya perlu waktu untuk fokus mengerjakan pekerjaan rumah (dan suami sedang di rumah, tentu), saya selalu menggunakan Cara 2.

Begitulah, mungkin yang kita perlukan hanyalah BICARA. Yang lebih penting lagi, BICARALAH DENGAN BENAR.

Kita yang tahu, model seperti apakah suami kita.

Seperti bapak sayakah? (raja di rumah, setiap perintahnya harus segera dikerjakan, tidak mentolerir ungkapan yang bernada menyuruh)

Seperti suami sayakah? (santai, bersedia membantu asalkan saya mau meminta, yang berarti hanya membantu jika memang diminta)

Atau seperti apa?

Yang jelas, mengurus anak bukanlah tugas ibu semata. Ayah justru diharapkan dapat berperan besar dalam proses tumbuh-kembang dan pembentukan karakter anak, karena anak yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Dan untuk bisa dekat dengan anak, bonding atau ikatan antara ayah dan anak harus terbentuk sejak dini.

Oleh karena itu, jangan takut dan ragu untuk ‘menyerahkan’ anak pada ayahnya, Ma. Tidak perlu merasa bersalah karena merasa ‘bebas’ dari anak. Mereka berdua membutuhkan ikatan itu. Juga, tidak perlu merasa merana karena merasa mengurus semuanya sendirian, karena pada dasarnya, Mama hanya perlu bicara.

Bicaralah dengan tepat, dan bersiaplah untuk lebih sering tersenyum

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *