HomeTutur Untuk MamaBegini Cara Menidurkan Bayi yang Enak Buat Ibu

Begini Cara Menidurkan Bayi yang Enak Buat Ibu

Tutur Untuk Mama

Tidur adalah salah satu kebutuhan utama bayi setelah ASI. Kualitas tidur sangat berpengaruh pada mood bayi dalam beraktivitas ketika terjaga. Bayi yang merasa puas karena kebutuhan tidurnya terpenuhi cenderung bisa bermain lebih asik, tidak rewel, aktif namun tetap terkendali. Sementara bayi yang masih merasa kurang pemenuhan tidurnya cenderung rewel, banyak minta gendong, sering merengek, hampir selalu minta ditemani, dan susah konsentrasi.

Kualitas tidur juga sangat menunjang pertumbuhan bayi. Karena itulah, salah satu indikasi kesuksesan seorang ibu adalah kemampuannya menidurkan bayinya.

Semua ibu memiliki cara khas tersendiri dalam menidurkan bayinya. Sebagai bumud (ibu muda) yang menangani anak pertama secara mandiri tanpa orang tua dan asisten rumah tangga, saya mendapati banyak pengalaman yang begitu menggoda.

Saya mengalami (mungkin tidak semua ibu mengalami) masa-masa dimana bayi saya terbangun dari tidurnya dan menangis keras-keras, dalam jangka waktu lima belas sampai tiga puluh menit, bahkan lebih, tanpa henti. Pengalaman itu benar-benar membekas.

Sampai sekarang masih menjadi misteri tentang apa penyebabnya hingga akhirnya sembuh sendiri. Alhamdulillah, sekarang bayi saya sudah lewat 9,5 bulan. Jadwal tidur sudah teratur. Kualitas tidur terlihat dari keceriaan dan keaktivan selama bermain. Berat badan naik sesuai kurva pertumbuhan. Dan perkembangan motorik-emosional terlihat normal.

Bagi saya waktu sejenak sebelum tidur itu adalah salah satu waktu yang sangat berkualitas bagi bayi dan bagi ibu bayi. Quality time ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membangun kedekatan antara ibu dengan bayinya, menanamkan beberapa kebiasaan baik, hingga menjadi moment yang pas untuk mengulas sekaligus mensyukuri aktivitas seharian yang telah dilewati. Berikut ini pengalaman saya, semacam ritual yang biasa saya jalankan sebelum akhirnya bayi terlelap dalam buaian.

Pertama, memastikan tempat tidur nyaman. Kita secara umum sepakat bahwa membersihkan dan merapikan tempat tidur menjadi salah satu tolok ukur kenyamanan beristirahat.

Saya tipikal ibu yang lebih suka jika bayi saya tidur di samping saya, satu ranjang. Mungkin karena tradisi di rumah kali, ya? Tidak biasa memisahkan tempat tidur bayi dan relative lebih nyaman saat bayi bisas sewaktu-waktu mendapat perlakuan ketika merengek minta nenen, dan lain sebagainya. Bagi Anda yang terbiasa memisahkan tempat tidur bayi, perihal kebersihan pun tetap menjadi keniscayaan.

Perlu dipertimbangkan apakah sprei butuh diganti, selimut dihamparkan atau justru dilipat rapi (faktor udara panas, misalnya), memastikan tidak ada mainan di atas tempat tidur, sampai berapa jumlah bantal dan guling yang diperlukan. Ini semua penting demi keleluasaan ibu untuk menidurkan bayi, misalnya karena dia harus berpindah ketika menyusui, dan sebagainya.

Kedua, perhatian terhadap pakaian dan tubuh bayi. Biasanya sebelum tidur saya ganti popok bayi. Jika sebelumnya ia sempat bermain dan beraktivitas yang menyebabkan berkeringat, baju yang dipakai pun saya ganti. Aktivitas cuci tangan dan kaki memberi sugesti positif untuk merasakan efek nyaman dan bersih.

Pakaian dan tubuh ibu juga penting, deh. Kalau saya minimal ganti baju, cuci tangan dan kaki. Karena ngeloni bayi juga butuh tubuh yang bersih dan segar sehingga lebih nyaman.

Ketiga, matikan lampu. Ini dianjurkan juga oleh Rasulullah saw, lho. Ternyata menurut penelitian, kualitas tidur ketika ruangan gelap lebih baik daripada ketika suasana terang. Kalau saya, gelap sekaligus menekankan pada bayi saya bahwa sudah waktunya tidur. Alhamdulillah, bayi saya sudah terbiasa. Kalaupun dia tidak langsung tidur, semisal dia masih ingin bermain biasanya ruangan tetap dalam kondisi gelap sehingga keinginannya untuk kembali main tidak sebesar ketika suasana ruangan terang.

Keempat, baca doa. Walaupun bayi belum bisa bicara, saya biasakan bacakan doa sebelum tidur. Kadang saya tambahi, “Ya Allah,, Wahida minta bobok. Bobok yang nyenyak, yang berkah, besok bangun dengan bahagia.” Atau ditambahi kalau nggak tidur-tidur juga, “Ya Allah, Wahida udah ngantuk. Minta diboboin.” Sekaligus mengajarkan bahwa semua perlu pertolongan Allah, termasuk untuk tidur sekalipun. Dalam hal ini terkadang juga saya pesankan agar besok bangun pagi.

Kelima, review aktivitas hari ini. Sambil nenen (kebiasaan nih, menidurkan bayi sambil nenen) saya ajak Wahida mengingat-ingat kembali aktivitasnya hari ini.

“Hari ini Wahida belajar apa? Alhamdulillah.. Wahida tadi ikut Mama ngaji, ya. Anteng, pinter, nggak nangis.. blablabla. Oiya, mashaa Allah Wahida tadi belajar berdiri semangat sekali,” dan seterusnya. Intinya saya ajak bayi saya mengingat aktivitas hari ini, sekaligus mensyukurinya. Fase ini sangat membangun kedekatan antara ibu dan bayi. Sambil mengajak berbicara saya bisa membelai kepalanya, memeluk, dan memijit kaki atau punggungnya.

Ada sebagian ibu yang biasa membacakan buku untuk menidurkan bayinya. Saya tidak bisa melakukan itu. Karena sebelum tidur sudah mematikan lampu. Jadi saya ganti dengan bercakap-cakap dengan bayi saya. Mungkin agenda baca buku ini bisa disisipkan di aktivitas menuju tidur, kali ya? Setelah bermain lalu diistirahatkan dengan membaca buku. Saya belum merutinkan agenda baca buku ini. Karena Wahida masih hobi menyobek buku dengan giginya. Kan sayang buku bagus-bagus kalau disobek-sobek. Hehe alesan.

Perlu disisipkan juga agenda membereskan mainan. Mungkin nanti setelah agak besar. Selama ini kalau sudah ngantuk biasanya langsung ganti popok aja, soalnya keburu nangis. Malah kadang ganti popoknya nanti pas sudah tidur. Saking udah kebelet bobok. Seiring berjalannya waktu ini semakin jarang. Sebelum ngantuk sekali biasanya sudah saya ajak ganti popok dulu.

Well, Moms. Itu share pengalaman saya. Yang sekelumit itu semoga bisa diambil yang baik-baik saja. Have a nice day and sleep well ☺

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *