HomeTutur Untuk MamaMah, Fokuslah Melihat Kebaikan Pada Diri Anak

Mah, Fokuslah Melihat Kebaikan Pada Diri Anak

Tutur Untuk Mama

Gerimis menyiram Jalan Wanasari, Yogyakarta. Ketika itu, seorang ibu memboncengkan dua anaknya dengan kecepatan sedang. Siang, matahari memang bersembunyi dari semua penduduk bumi. Ibu berkacamata itu sudah terlanjur berjanji akan mengantar buku pesanan, pada pembeli, sekaligus pembacanya.

Tiga kilo meter memacu motor matic, sampailah mereka ke gedung bercat putih. Tempatnya masuk melewati gang. Hujan bertambah deras saat si ibu memarkir motornya. Sukur sudah sampai. Mereka bergegas naik, karena di lantai dua sedang ada acara kepenulisan. Di sana lah kawan si ibu sudah menunggu.

Dua anak laki-lakinya berusia lima, dan tiga tahunan. Keduanya anak yang sangat aktif, dan kerap dikatakan ‘berisik’. Memang, perkataan itu tidak keliru. Benar adanya, tapi siapakah anak bagi ibunya jika bukan permata?

Si ibu sudah menyerahkan buku pesanan pembeli.

Acara sharing dengan penulis yang sedang naik daun pun mulai. Dua anak laki-laki si ibu yang berkemeja biru mulai terdengar suaranya. Kadang nada suara meninggi, disertai rengekan. Suara khas anak-anak. Mereka memainkan remote AC, menurunkan dan meninggikan suhu ruangan.

“Ssst! Lagi ada yang ngomong,” tegur seorang embak berkerudung kuning gading.

Melihat dan mendengar teguran itu, si ibu langsung mengait tangan kanan anak sulungnya. Mendekatkan mulut ke telinganya dan berbisik, “Nak, ini ada yang ngomong di depan. Kalau kamu mau ngomong, boleh juga ke depan sana.”

Anak berambut jabrik itu hanya tersenyum.

Dia menurut, dan diam untuk beberapa saat. Lalu, adiknya mulai menggoda. Godaan itu disambut dengan riang. Suara riuh dari keduanya kembali terdengar. Bersaing dengan suara penulis yang sedang menyampaikan materi di depan sana.

“Yuk, masuk ke kamar!” ajak ibunya.

Kebetulan, memang ada kamar dan kasur-kasur di kamar yang menyatu dengan ruangan itu. Ibu itu bergumam dalam hati, Memang, seharusnya aku tidak membawa anak-anak ke acara demikian, tapi, jika aku tinggal, aku mengingkari janji dengan teman. Dan suamiku sedang mengurus jenazah, karena ada yang meninggal dunia.

Keduanya sepakat. Mereka lalu main di kamar. Di atas kasur pink yang berjajar. Salto, lompat, dan berguling-guling. Suara yang timbul dari aktivitas mereka ternyata masih terdengar dari luar.

“Mbak, ditutup saja pintunya,” pinta seorang embak yang menjadi panitia.

Ibu itu menutup pintu. Demi meredam suara anak-anaknya. Dia juga ikut masuk, dan memilih mendengarkan apa yang disampaikan pemateri melalui celah yang sengaja sedikit dibuka.

Anak-anak mudah bosan. Apalagi seusia balita. Mereka selalu ingin melakukan hal baru, demikian juga yang terjadi pada dua anak si ibu itu. Mereka mulai merengek minta pulang. Dan dengan mencoba ikhlas, si ibu pulang meninggalkan materi kepenulisan, memenuhi keinginan anak-anaknya.

Mereka kembali menerobos gerimis di Jalan Wanasari, Yogyakarta. Kali ini, gerimis bertambah volume, dan berganti menjadi hujan. Banyak orang menepi untuk memakai mantel, tapi ibu itu terus melajukan motor. Mereka terlanjur tidak membawa mantel.

Ah.

Saya tahu pasti bagaimana perasaan ibu itu. Anak-anak yang ramai, tapi, dia lah yang paham akan kelebihan mereka. siapa yang tahu, sehari sesudahnya si sulung memberi makan bebek-bebek peliharaan anak panti asuhan? Padahal dia masih belia. Sangat belia. Siapa yang tahu, jika dia sering membantu ibunya mengangkat jemuran, bila gerimis turun?

Ada kebaikan-kebaikan anak-anak ibu itu yang nyata membayang dalam pikiran. Jauh lebih banyak dari keberisikan yang mereka lakukan. Ibu itu tersenyum. Memandang dua anaknya dan selalu mebisikkan doa dalam hatinya, “Tuhan, bimbing mereka dengan kasih sayang-Mu.”

Saya tahu pasti, bahwa di balik kekurangan mereka, ada kelebihan. Yang bisa dipompa untuk terus dikembangkan. Didukung. Dan dipupuk. Kebaikan yang sangat dimengerti seorang ibu. Saya tahu persis. Karena, saya adalah ibu itu. Ibu yang menerobos gerimis beserta dua anaknya di Jalan Wanasari, Yogyakarta.

***

Kesalahan atau keburukan anak-anak kerap menjadikan para orangtua mengeluh. Begitu mudahnya mereka mengatakan, “Anakku nakal. Dasar ngeyelan! Dia begini, begitu.” Dan pada kesempatan lain, tidak sedikit yang mudah bersitegang dengan anak-anak yang masih kecil, karena ada perbuatan anak yang dianggap tidak pantas. Celakanya, hal itu dilakukan di depan umum.

Para ibu, kerap juga mengata-ngatai anak mereka dengan hal negatif, baik secara sengaja, atau karena gemas. Mereka tidak sadar bahwa apa yang diucapkan seorang ibu adalah doa bagi anak-anaknya. Ibu yang mengatakan anak mereka nakal, maka beliau sedang mendoakan sesuai apa yang diucapkan.

Dalam kasus sesuai kisah di atas, anak yang berisik dan belum bisa tenang saat ada di acara formal, bukan hal yang asing. Hampir semua anak-anak melakukannya. Jika memang ada acara serupa, sebaiknya tidak membawa anak-anak, dan ibu dalam kisah di atas kebetulan dalam keadaan terdesak. Tidak ada yang dititipi anaknya.

Kita, biasanya berlaku sesuai apa yang kita terima. Mungkin, sebelumnya sangat banyak dikelilingi orang-orang yang selalu melihat keburukan orang lain. Meski ada seratus kebaikannya, keburukan itu tampak lebih menonjol.

Para orangtua terlampau berlebihan menyikapi keburukan/kesalahan anak-anak. Padahal, bisa jadi, itu bukan hal yang pokok, namun, sikap merutuk atau mengutuki yang dilakukan orangtua menjadikan bekas di hati anak-anak. Di hati mereka terpatri bahwa orangtua mereka akan melakukan hal yang tidak menyenangkan jika berlaku tidak sesuai keinginan orangtua. Jangan salahkan bila dewasa anak-anak tidak memilih orangtua sebagai tempat yang nyaman untuk curhat.

Bisakah kita ubah pola pikir?

Perlahan, mari kita catat kebaikan/kelebihan anak-anak kita! Kita fokus di sana, menggali dan mendukungnya, agar dia tumbuh sesuai kebaikan tersebut. Adapun keburukan atau kesalahannya, bukan juga untuk kita abaikan. Kita bisa terbuka, dengan penuh kasih sayang dalam bertanya, tentang apa yang dia lakukan, kenapa dia begitu. Atau, bila anak-anak masih teramat kecil, belum bisa menjawab pertanyaan dari kita, kita bisa sharing dengan kawan, atau mencari bahan bacaan yang membahas tentang hal itu.

“Tidak ada seorang pun yang selamat dari kesalahan, dan tidaklah sepatutnya (kita) melenyapkan kebaikan-kebaikan seseorang karena suatu kesalahan. Sebagaimana halnya air, apabila telah mencapai dua kulah, maka air itu tidaklah mengandung kotoran.”*

Berikut tips sederhana agar kita bisa fokus melihat kebaikan/kelebihan anak kita :

Pertama, tidak membuat tuduhan pada anak-anak. Pada saat anak melakukan hal yang tidak kita inginkan, jangan buru-buru menuduhnya sebagai pembangkang, rewel, atau julukan buruk lain. Sebab yang terlontar dari mulut kita, sejatinya adalah doa.

Kedua, mencoba diam, mengamati, atau bila memungkinkan bertanya tentang alasan kenapa anak-anak melakukan hal itu.

Ketiga, sering memberi contoh, bukan sebatas menegur secara lisan. Jika kita menginginkan anak-anak melakukan hal A, maka kita mengawalinya terlebih dahulu untuk melakukan A, sesering mungkin. Hingga menjadi kebiasaan.

Keempat, mencatat kebaikan/kelebihan anak-anak kita, sehingga pada saat anak-anak bertingkah di luar apa yang kita harapkan, kita memiliki catatan kebaikannya. Sekecil apapun, catatlah. Bila mengingat saja akan membuat lebih mudah lupa.

Kelima, memberi pujian untuk kebaikan/kelebihan mereka. Sangat banyak yang mengabaikan ini, sehingga, begitu ada satu kesalahan yang dilakukan anak, itu ibarat blok (CTRL B) yang bisa membuat titik hitam kecil, tampak sangat besar.

Keenam, berdoa untuk mereka tanpa kenal lelah. Sebab, keajaiban doa ibu yang dikabulkan bisa menuntun anak-anak kita sesuai isi doa.

— –

Ada promo diskon dan bonus nih dari Tutur Mama. Klik Aja disini yaa.. 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *