HomeTutur Untuk PapaAyah, Jangan Cuek ya, Mamah Perlu Dukunganmu Dalam Mengasuh Anak

Ayah, Jangan Cuek ya, Mamah Perlu Dukunganmu Dalam Mengasuh Anak

Tutur Untuk Papa

Mah, saya mau nanya nih, apa si kecil kerap ngamuk-ngamuk? Istilahnya sih, tantrum.

Tantrum temper atau lebih dikenal dengan tantrum, adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional. Umumnya ditandai sikap keras kepala, menangis, menjerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan dalam beberapa kasus kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika tujuan orang tersebut dipenuhi, dia mungkin tetap belum tenang.

Jangan-jangan, tantrum malah menular pada kita, saking hebohnya si kecil, sampai kita ingin ikut heboh. Alih-alih menyelesaikan masalah, kok malah menambah masalah. Padahal, sangat sering penyelesaiannya berupa hal-hal yang sederhana.

Ini tentang liburan Desember 2016.

Saya dan adik-adik, beserta anak-anak kami sepakat liburan di tempat orangtua kami, Bekasi. Pulang dari Bekasi menuju Yogyakarta (tempat tinggal saya), ada peristiwa yang sangat membekas.

“Dik, sendalnya dipakai, nanti lupa,” pesan saya mengingatkan anak kedua kami.

“Enggak kok,” sanggahnya.

Perjalanan jauh, dan memakai mobil, memang nyaman bila melepas sendal. Terasa lebih santai, dan ringan. Mau naik-turun kursi juga bebas. Namanya juga anak-anak. Selalu mencari gerak leluasa, karena sedang aktif-aktifnya.

Sendal anak kedua kami itu termasuk kategori alas kaki favoritnya. Warnanya biru, bergambar salah satu Superhero. Sering banget, dia akan rela meninggalkan tidur siang, jika sendalnya belum ada di dekatnya.

Sepanjang perjalanan, anak-anak bercanda. Bila sudah tak terdengar suara dan tawa, maka bisa dipastikan mereka sudah tertidur. Kami menikmati perjalanan yang lumayan macet. Maklum, musim liburan memang identik dengan macet di negeri ini.

Berkali-kali, kami bertemu dengan serombongan anak-anak dan remaja yang memegang kertas bertuliskan, ‘Om Telotel, Om.’ Satu kebiasaan yang sedang booming juga di Indonesia. Mereka melonjak-lonjak bila ada bus besar yang membunyikan klakson berbunyi, “Telolet. Telolet. Telolet.”

Perjalanan Bekasi-Yogyakarta pun selesai.

Semua anak tertidur. Pagi-pagi sekitar pukul tiga dini hari, kami sudah turun dari mobil. Kebetulan, mobil langsung menuju rumah adik ipar saya, setelah mengantar kami. Karena lelah dan kantuk, kami semua lupa akan sendal biru bergambar super hero milik si adik.

Hingga siang, belum ada yang menyadari bahwa sendal itu sudah tidak ada. Tepat saat saya selesai salat dhuhur, ada lengkingan yang berasal dari luar rumah. Suara kaki terdengar berlari, menyisakan bunyi di lantai. Makin lama, makin mendekati saya.

“Ummiii! Sendalku ketinggalan di mobil!”

Air mata sudah berduyun-duyun meluber di kedua pipi gembilnya.

Saya segera melipat mukena. Memeluknya erat, sambil mengucapkan kalimat-kalimat yang bertujuan menenangkan, “Besok kita ambil.” Tapi, itu bukan membuatnya berhenti menangis, tapi malah menambah volumenya.

Seperti anak-anak yang biasa tantrum. Si adik menghentak-hentakkan kaki, dan terus menyebut-nyebut barang kesayangannya. Kepala saya sebenarnya berat sekali. Kedua mata juga sudah ingin memejam. Semua saya tahan, demi adik yang belum tenang.

Saat itu, kakaknya mulai ikut membujuk, “Yuk, Dik, main sepeda aja.”

Tapi, bujukan kakaknya tidak didengar sama sekali. Alih-alih melanjutkan bujukan, si kakak memilih langsung pergi, menyambar  sepeda birunya, kemudian mengayuh kendaran roda dua itu dengan kencang.

“Ayo ambil sekarang!” pintanya dengan menarik-narik rambut saya.

Duh, pokoknya semua ditarik.

Tidak hanya rambut. Baju, rok, tangan. Semua ditarik bergantian. Tentu sambil menghempas-hempaskannya dan sambil memompa air mata. Pemandangan yang sangat kurang mendukung, ditambah bersaing dengan panas yang terik.

“Sendalnya enggak ilang. Masih di mobil. Nanti disimpan sama Bu Lik Iroh,” bujuk saya kembali.

Semua kalimat yang meluncur dari mulut saya sebagai bujukan, tidak ada yang mempan meredakan tangisnya. Sama seperti upaya yang dilakukan si kakak, usaha saya pun tidak membuatnya mengurangi volume tangisan.

Tiba-tiba, dua tangan kokoh mengangkat tubuhnya. Saat itu, kedua kaki si adik menghentak keras, ingin melepaskan diri. Namun, pemilik dua tangan itu mengangkatnya hingga ke atas pundak. Dia, suami saya. Membawanya pergi ke halaman belakang, menuju dekat pohon belimbing wuluh.

Lima menit berlalu.

Saya mengikuti mereka dengan menjaga jarak. Ketika melihat apa yang dilakukan suami, dan reaksi si adik, saya putuskan berbalik arah untuk istirahat. Adik sudah tenang. Tahukah apa yang dilakukan suami saya?

Dia membuat anak kami ada di dahan pohon jambu, dekat pohon belimbing wuluh. Acara memanjat pohon memang masih masuk kategori menakjubkan bagi anak-anak kami. Lega rasanya melihat adik diam.

Ajaibnya lagi, sekembalinya mereka dari halaman belakang, adik malah menjadi begitu bijak. Dia tidak tertarik lagi untuk tantrum, ketika kami bertanya tentang sendalnya. Ajaib. Karena sebelumnya hal itu seperti pemicu utama ledakan tangisnya.

“Sendalmu mana, Dik?”

“Besok diantar sama Bu Lik ke sini. Iya, kan, Abi?” jawabnya santai.

Abinya mengacungkan dua jempol. Selain mengantar naik ke pohon jambu, entah kalimat apa lagi yang diucapkan suami. Tapi, saya yakin semua yang dilakukannya bukan membahas sendal, tapi hal lain. Hal yang berbeda dan sangat mengalihkan perhatiannya.

Terima kasih, Suami. Dengan pertolongan itu, saya tidak lagi bingung menghadapi anak yang tantrum siang itu. Pertolongan yang datang tepat pada waktunya. Dan, saya bisa istirahat dengan tenang.

***

Tantrum bukan Musuh.

Anak tantrum bukanlah musuh kita, yang harus kita hadapi dengan kemarahan. Memang, dalam kondisi letih, kita akan mudah tersulut. Bila anak tantrum pada saat demikian, diam bisa jadi pijakan agar kita tetap tenang.

Untuk menyadarkan anak-anak yang memiliki kebiasaan tantrum, butuh waktu. Jika kita memarahi mereka, hal itu justeru akan membuat tidak nyaman. Dan bisa mengakibatkan mereka lebih menjadi-jadi dalam berekspresi.

Tenang adalah kunci untuk menghadapi anak tantrum. Karena dengan tenang, kita tidak terpancing untuk ikut ‘guling-guling’, jika anak guling-guling.

Peran Suami saat Anak Tantrum.

Ternyata, peran suami dalam menghadapi anak tantrum juga dibutuhkan. Apalagi dalam kondisi istri sedang sangat kelelahan. Anak bukan hanya tanggungjawab istri dalam mengasuhnya, namun, tanggungjawab bersama.

Suami adalah rektor di universitas bernama keluarga. Kebijakan dan tindakan baiknya sangat dinantikan para istri untuk mendukung berlangsungnya suasana pendidikan yang kondusif. Pendidikan dalam keluarga.

Menurut Hernandez&Brown, 2002 : “Perkembangan kognitif, kompetensi dari anak-anak sejak dini dipengaruhi oleh kelekatan, hubungan emosional, serta ketersediaan sumber daya yang diberikan ayah.”

Sedangkan dalam konsep modern yang diungkapkan oleh Cabrera, dkk, 2000 : “Seorang ayah turut memberikan kontribusi penting bagi perkembangan anak, pengalaman yang dialami bersama dengan ayah, akan mempengaruhi seorang anak hingga dewasa nantinya. Peran serta perilaku pengasuhan ayah mempengaruhi perkembangan serta kesejahteraan anak pada masa transisi menuju remaja.

“Satu Ayah lebih berharga dari 100 guru disekolah.” (George Herbert).

Yakin Selalu Ada Jalan Keluar.

Pada saat anak tantrum, jangan sampai kita mengucapkan kalimat-kalimat yang terdengar sebagai kutukan. Selalu yakin ada jalan keluar untuk mengatasinya. Bisa juga sesekali kita membiarkan anak dalam posisi itu, dan bila sudah berhenti, kita bisa memeluknya.

Jalan keluar tidak selalu sama. Mengalihkan perhatian dari penyebab anak tantrum, akan sangat membantu kita meredakan anak-anak yang mengamuk. Selalu cari hal yang unik, dan bisa mengalihkan perhatian anak-anak.

Memberi Pengertian di Lain Waktu.

Pada saat bersama, setelah masa tantrum berlalu, kita bisa memberi pengertian pada anak-anak. Katakan saja bahwa kita sangat senang jika anak-anak bisa mengatakan apa yang diinginkan, bukan langsung tantrum (ngamuk dan lainnya).

Puji mereka jika melakukan hal itu. Sebagai orangtua, sebaiknya kita tidak pelit dalam memuji, namun juga tidak berlebihan. Anak-anak akan bahagia dengan pujian yang layak. Mereka yang jarang dipuji akan mencari perhatian dengan cara lain. Termasuk dengan tantrum.

Oh, iya.. Buat para pembaca, yuk jangan lupa gabung GRUB MAMAH MUDA ini yaa.. KLIK AJA.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *