Aku Merasa Stres karena Selalu Diabaikan Suami, Hidupku Jadi Sepi dan Tidak Bersemangat

0
4779

Aku seorang istri yang merasa stres karena suami. Mungkin banyak ibu yang tak mau mengakui ini, tapi sungguh, suami adalah penyebab stres yang tinggi. Jika dibandingkan dengan usilnya anak, suami memberi efek stres yang lebih besar.

Anak yang usil dan menuntut durus sepanjang 24 jam memang melelahkan dan bikin kita ini, para istri, kelelahan dan pengin cuti mengasuh anak. Perasaan seperti itu pasti pernah muncul di benak, meski sekali atau dua kali.

Terlebih jika anak baru berusia satu sampai dua tahun, dan anak pertama. Pengalaman pertama jadi ibu yang belum punya banyak bekal sangup merontokkan daya tahan tubuh ibu. Ambruk.

Tapi percayalah, meski anak sangat bandel, suami tetap jadi faktor pertama yang bikin stres. Saya memikirkan ini cukup lama, siapa yang bikin saya merasa stres, suami atau anak?

Dan jawabannya jatuh ke suami tercinta. Iya, saya masih cinta, tapi boleh kan mengeluh soal dirinya. Barangkali ibu-ibu di luar sana juga stres karena suami dan butuh tempat ngobrol bersama.

Kau bisa sangat mencintai suamimu, tetapi kalau dia mengabaikanmu di sore hari dan tidak menanyakan kabarmu, kau akan kehilangan minta pada orang yang paling kau cintai itu.

Bagaimana tidak, suamiku sangat tidak peka seakan-akan tidak melihatku. Tentu istri yang diperlakukan demikian merasa sangat tersinggung. Sakit hati. Rasanya suami jenis ini pantas dimarahi tujuh hari tujuh malam.

Aku merasa seluruh pengorbananku untuk dia dan anak terasa sia-sia. Kalaulah mengurus anak  memang melelahkan, aku bisa terima. Tapi kalau setelah lelah suami tak mau menghargai, seakan tutup mata, itu menyakitkan.

Kelelahan yang kurasakan dari hari ke hari dan menumpuk dalam tubuh lemah ini kian terasa berat. Tidak dapat dihapus membuta diriku stres.

Aku ingin suami menanyakan kabarku dan memberi apresiasi atas  pekerjaan yang sudah kulakukan. Mungkin memuji istri sendiri dengan kata-kaa singkat, tak usa panjang-panjang.

Aku tahu suami pendiam dan tak ada masalah dengan semua itu. Tapi kalau sepatah kata pun tidak keluar darinya, itu keterlaluan.

Lihatlah istrimu ini, sudah merasakan stres akibat tingkah lakumu sendiri. Aku sendirian mengurus anak dan rumah sementara engkau bersantai di kantor yang ber-ac.

Iya, kamu memang bekerja di sana dan memberi nafkah buat keluarga. Itu cuman delapan jam lho. Selebihnya masih banyak kesempatan buat menemani dan membantu istrimu ini.

Tapi kau memang tidak mau peduli. Bukan karena lelah, tetapi karena tidak ingin.

Rumah kita terasa selalu gelap dan sepi buatku. Terlalu lama tinggal di rumah dan tidak diperhatikan suami itu rasanya menyebalkan. Stres karena tidak menemukan jalan keluar untuk membuat rumah tangga jadi lebih membahagiakan seperti saat pengantin baru dulu.

Aku khawatir, rasa stres yang menempel di kepalaku suatu saat nanti meledak. Entah bagaimana, aku merasa semakin sedih dan kesepian. Tidak jarang aku menangis sendirian setelah menidukan si kecil di malam hari.

Kenapa hidupku gini banget sih, kayak dikurung di rumah dan dipaksa mengerjakan tugas yang enggak pernah selesai. Sekali-kali suami kek ngurus anaknya, biar aku bisa jalan-jalan keluar buat belanja atau ketemu temen-temen.

Semakin lama aku tinggal di rumah mengerjakan semuanya sendirian, semakin aku merasa tidak semangat. Aku hidup tanpa semangat, hal yang rata-rata dirasakan semua ibu rumah tangga yang tak punya banyak kesibukan.

Jenuh dan lelah yang terus menumpuk menghancurkan bangunan semangat dalam hdiupku. Hariku kelabu tertutup awan stres yang menhantui. Aku pengin beristirahat sejenak dari kewajiban mengurus anak dan rumah.

Kapan aku bisa jalan-jalan dan meniikmati waktu sendirian, tidak ada.

Sampai kapan suamiku akan terus begini, mengabaikan istri seakan menganggapnya tidak ada.

Aku merasa berjuang sendirian, tidak ada satu pun oran yang mengerti keadaanku. Mungkin aku bisa cerita pada teman, tapi hal itu tak akan membantu. Aku selalu merasa menghadapi semua pekerjaan ini sendirian, tak ada dukungan dari orang lain.

Nasib ibu rumah tangga kadang semenyedihkan ini, sendirian di tengah keramaian. Aku mencintai anak dan suamiku, tetapi aku juga tak bisa mengendalikan rasa stres ini, aku tak bisa menghindarinya.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here