Aku Sudah Besar, Bunda!

Aku Sudah Besar, Bunda!

Ah, benarkah dirimu sudah besar anak bujang Bunda? Oh tidak, bagi Bunda kamu masih saja anak bujang kecil Bunda. Walau entah sampai kapan menjadi anak bujang kecil bagi Bunda.

Akhirnya keinginanmu untuk sunat berjalan dengan lancar. Satu hari setelah sunat, alhamdulillah udah lari sana sini. Walau masih agak rewel ketika mandi, BAK dan BAB. Maaf ya kalo Bunda agak gregetan. Wajah ceria tetap ada di wajahmu. Melihat senyummu dan adikmu udah bikin Bunda senang sekali. Sederhana sekali bahagianya Bunda kan? #Heee

Seiring selesainya sunat, sedikit demi sedikit ada perubahan dalam sikap dan tingkah lakumu. Ah kamu semakin gak bisa diem. Semakin lincah. Dan rumah pun semakin berantakan. Kapal pecah aja kalah kayaknya. Hahaha…Akibatnya Bunda jadi tambah sering berkicau bagaikan burung Beo. Intonasi suara Bunda jadi semakin tinggi menghadapi kelincahanmu dan adikmu. Hehehe.

Eits tapi Bunda juga senang tiada tara sejak kelahiran adikmu yang kedua. Semakin hari kamu semakin ngemong menjadi si sulung dengan dua adik yang masih unyu-unyu. Apalagi sejak selesei sunat. Makin terlihat saja sifat ngemong di dirimu, Nak. Walau jahil dan usil kepada adikmu tetap saja ada. Hanya hilang timbul. Silih berganti dengan sikap ngemong yang engkau tunjukan. Lagi-lagi Bunda seneng dengan perubahan ini.

Ada beberapa kalimat yang sering Bunda dengar sejak selesai sunat kemarin. “Adha udah besar sekarang Bunda….Kan udah sunat… Adha sekarang kan udah TK B….” Tiga kalimat itu menjadi kunci bagi Bunda bahwa kamu bisa melakukan sesuatu sendiri, tanpa bantuan orang lain. Termasuk Bunda tentunya.

Pagi ini seperti biasa Bunda mengantarkanmu sekolah. Dekat saja. Hanya sepuluh menit naik motor dari rumah kita. Tapi, perdebatan sepuluh menit kita di motor terasa menyesakkan di dada Bunda. Oh begini rasanya ternyata. Baru bunda tau, Nak!

Pagi ini berbeda dengan pagi biasanya. Bunda tidak hanya mengantarkanmu sekolah tapi juga sekalian mengantarkanmu untuk berpartisipasi dalam lomba yang diadakan oleh sekolah.

Berkompetisi dengan sekolah lain. Ya, kamu sudah besar, Nak. Kamu mampu memutuskan sendiri lomba mana yang ingin kamu ikuti sesuai dengan kemampuanmu sendiri.

Sepanjang perjalanan yang hanya sepuluh menit kita berdebat tentang satu hal, yaitu kehadiran Bunda nanti ketika kamu maju ke panggung mambaca hafalan ayat pendek.

Bunda bersikukuh ingin melihatmu naik panggung. Tapi, kamu juga bersikukuh Bunda enggak boleh lihat sama sekali. Kamu bersikukuh kamu sudah besar dan tidak perlu ditunggui lagi di sekolah. Kamu malu masih ditunggui Bunda. Oh ayolah, Nak, teman-temanmu riang gembira menyambut bunda-bunda mereka (Setelah selesai lomba, baru Bunda tau tidak hanya kamu yang bersikap begini, Nak. Ada juga temanmu yang emoh dilihat oleh Bundanya sendiri).

Bujuk rayuan Bunda soal fotomu nanti di panggung ternyata tidak mempan. Ah kamu tak peduli ada atau tidaknya fotomu nanti. Oh ternyata foto hanya penting bagi Bunda seorang.

Akhirnya sepuluh menit kita selesai. Kita sudah sampai di sekolahmu nan asri ini. Halaman bermain yang luas sudah di depan mata. Melihat Bunda turun dari motor, pertanyaanmu bagaikan anak panah yang melesat cepat tepat ke sasaran.

“Bunda mau kemana? Bunda boleh pulang sekarang.”

Hohoho kamu masih saja bersikukuh ya. Padahal ketika kamu turun dari motor Bunda berharap kamh lupa lho. Hahaha. Baiklah, kita buat sedikit kesepakatan pagi ini. Sebelum pulang Bunda mengobrol sebentar dengan beberapa para bunda lainnya yang stand by melihat anak-anak mereka yang tidak lain adalah teman-temanmu, Nak.

Deal. Sepakat! Setelah selesai mengobrol Bunda akan melesat pulang ke rumah. Eh tapi, di sela-sela Bunda mengobrol Bunda beberapa kali melihatmu memperhatikan Bunda dari kejauhan. Tatapanmu, Nak. Baiklah Bunda pulang sekarang.

Di rumah Bunda terus memantau perkembangan lomba di sekolahmu lewat grup di WA dan juga lewat japri langsung ke beberapa Bunda. Di facebook juga ada. Duh, kamu yang lomba kok jadi Bunda yang rempong ya, Nak! Jadi keingetan temen-temen Bunda yang anaknya udah di sekolah dasar. Mereka juga rempong anaknya mau ujian tengah atau akhir semester.

Jarum detik jam yang terpatri di satu sisi dinding rumah seperti melambat geraknya, Nak. Rasanya menjadi lama sekali waktu berputar. Bunda enggak sabar ingin jemput kamu.

Sebuah pesan masuk dari salah satu bunda temanmu. Senang sekaligus membayangkan kamu membaca ayat-ayat tersebut dengan lantang dan percaya diri. Padahal banyak yang liatin lho. Setidaknya itu yang tadi Bunda liat sebelum beranjak pulang. Ramai sekali di sekolahmu.

Yeaaayy akhirnya waktumu pulang, Nak. Bunda bergegas naik motor ke sekolah. Semangat 45 buat jemput. Kamu masih seperti biasanya. Bermain air dan tanah bersama teman-temanmu di bawah pohon mangga. Entah apa kali ini yang kamu bikin bersama teman-temanmu.

Lagi-lagi seperti biasanya, Bunda harus berhadapan dengan keenggananmu untuk pulang. Gak pernah ada kata puas untuk main air dan tanah. Fuih! Di rumah pun tanah dan air adalah mainan favoritmu. Lego aja lewaaaaat.

Lagi-lagi kita bikin kesepakatan. Sepuluh menit, setelah itu pulang. Ini pun harus pake acara memperlihatkan lajunya si jarum panjang jam di tangan Bunda. Kita lihat bersama-sama si jarum panjang di angka tiga, dan nanti pulang ketika jarum panjang jam di angka lima.

Tik tok tik tok tik tok.

Sepuluh menit usai! Dengan senang hati bunda memanggilmu dan memperlihatkan bahwa si jarum panjang sudah di angka lima. Ok! Setelah mengambil tas dan pamit pulang kepada teman-temanmu, kita meluncur pulang. Yeaaaahhh, janji ditepati.

Di perjalanan pulang yang hanya sekitar sepuluh menit kamu bercerita panjang kali lebar. Nada bangga karena sudah mandiri tersirat di sana. Dan tidak lupa juga kamu menyertakan kalimat.

“Mas Adha udah besar, Bunda. Mas Adha udah bisa menepati janji juga. Main sepuluh menit kita pulang. Iya kan, Bunda?”

“Iya, Nak. Iya.”

Oalaaah kamu mulai mengerti seperti apa yang disebut dengan menepati janji, Nak. Rasa senang dan sedih pun menjadi satu. Mbrebes mili. Hiks.

Ditulis oleh: Vidy, baca tulisan lain dari Vidy disini.

Comments