Alasan-Alasan “Jaran Goyang” Bukan Lagu yang Baik Buat Anak-Anak

0
573
lagu anak yang baik

Sebenarnya bermusik itu sah dan bagus-bagus saja. Terutama buat anak-anak. Dengan musik dan bernyanyi maka ada banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita tanamkan pada diri anak. Bernyanyi juga bisa melatih kemampuan verbal anak, selain itu juga bikin anak senang dan bahagia.

Tapi, kalau musiknya dangdut koplo?

Baru-baru ini jagat permusikan digoyang oleh lagu-lagu dangdut koplo. Dengan dua aktris di garis depan; Nella Kharisma dan Via Vallen. Bahkan keduanya sudah punya basis fans garis keras yang tidak perlu diragukan lagi militansinya.

Nah, lagu-lagu hitz mereka, diantaranya adalah Jaran Goyang, Sayang, Kimcil Kepolen dan lainnya. Bagi emak-emak atau papah-papah jaran goyang itu adalah hiburan yang bisa menyegarkan kegiatan. Baik di kantor maupun kerjaan rumahan. Walaupun konten musiknya bicara misteri nyi pelet.

Bagaimana dengan anak-anak kita? Apakah kita sudah bisa mempertimbangkan lagu yang pas pada anak, atau membiarkan saja untuk ikut mendengarkan lagu yang kita putar seperti Jaran Goyang?

Apalagi lagu-lagu itu sudah jamak terdengar. Trending di Yutub, diputar di berbagai acara, dan lain-lainnya. Dengan akses smartphone di tangan, sebuah keniscayaan anak-anak akan tahu lagu itu.

Kalau orang tuanya kemudian mengingatkan dan mencegah anak sih tidak masalah. Lha, kalau orang tua yang malah mengenalkan lagunya? Lantas meminta anak untuk berjoget dan menirukan lirik-lirik “puitisnya” yang sebenarnya belum waktunya mereka konsumsi?

Fenomena ini bukan lagi rahasia umum. Banyak tuh yang menyetelkan di youtube dangdut koplo saat menyuapi anak makan. Alasannya biar anak diam tenang dan mau makan.

Duh, aduh…

Suburnya musik koplo di tanah air dan hilangnya musik anak, membuat saya sebenarnya kewalahan dan khawatir mengurus anak saya. Bukan apa-apa , anak-anak belum waktunya memahami  kehidupan orang dewasa, apalagi persoalan rumah tangga dan seks. Hal itu di gambarkan dan dijadikan lirik dari kebanyakan dangdut koplo, dan banyak musik lainya lagi.

Lagu yang diperuntukkan untuk anak seharusnya memegang beberapa fungsi pembelajaran. Beberapa di antaranya terjadi melalui bahasa emosi, bahasa nada, dan bahasa gerak. Melalui bahasa emosi, bernyanyi membuat seorang anak dapat mengungkapkan perasaannya: senang, sedih, lucu, kagum, dan sebagainya. 

Lagu-lagu anak juga idealnya punya misi pendidikan dalam liriknya. Syair dan kalimatnya jangan terlalu panjang agar mudah dihafal dan sesuai dengan karakter serta dunia anak. Lagu anak seharusnya juga dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan diri anak, baik aspek fisik, emosi, kecerdasan, maupun aspek sosial.

Itulah yang dikatakan Fathur Rasyid dalam buku Cerdaskan Anakmu dengan Musik.

Sejauh yang saya pahami dan alami tentunya sebagai orang dewasa, kenangan atas lagu maupun band favorit saat masih muda berkaitan dengan perkembangan saraf yang mencapai puncaknya di usia 12-22 tahun.

Oleh sebab itu mengajarkan goyang patah-patah, goyang ngebor, dan musik esek-esek pada anak akan berisiko pada mental dan karakter anak. Masa saya tiap hari harus menonton anak-anak dengan lagu yang sebenarnya jorok, galau dan lagu tetantang perselingkuhan rumah tangga, kan sama sekali tidak lucu.

Bagiamana kita bisa selamat dari serangan brutal jaran goyang pada anak, wong pada kenyataanya, saya mengajak makan anak ke resto yang di putar disana jarang goyang, berhenti ke pom bensin yang di putar jarang goyang, pergi ketempat wisata tukang parkir menyetel jarang goyang, jangan-jangan di sekolah banyak guru juga mabok jarang goyang. Atau malah mencover lagunya?

Bukan berati pada akhirnya saya tidak membolehkan musik. Musik juga penting buat anak, tapi yang perlu di perhatikan oleh seorang ibu adalah; musik apa dan bagaimana yang baik buat anak?

Bukan pada akhirnya menciptakan anak-anak generasi galau, pesimis, dam terjebak pada romantisme. Akibatnya anak akan jadi manja dan pemalas, ada masalah dikit nangis, dan mutungan.

Intinya musik harus bisa menjadi teman yang baik dalam setiap hal bagi anak, dan bunda harus bisa menentukanya lebih bijaksana.

Bagaimana caranya?

Pertama, jangan memilih lagu bukan sebab karena trennya saja, dan anak bisa bahagia. tapi tren juga harus sesuai dengan usia anak.

Kedua, menurut ahli kesehatan, “usia anak diatas dua tahun ia sangat muda mencerna memahami apa yang ia rasakan, dan yang ia lihat. Pastikan musik visual yang ia tonton bisa menjadikan karakter sampai lebih berkembang.”

Ketiga, kenapa kita penting memberikan musik yang pas pada anak, sebab irama dan konten musik itu menceritan pengalaman sisih lain dari kehidupan setiap orang. Makanya saran saya buat para bunda, jangan memberikan beban orang lain pada anak kita.

Petr Janata, psikolog Universitas California-Davis, menyatakan bahwa musik favorit di masa muda “dikonsolidasikan ke dalam kenangan emosional terutama di tahun-tahun formatif (remaja) kita.

”Ia menambahkan teori lain yang bernama “reminiscence bump” atau lonjakan kenangan, yakni fenomena ketika seseorang di usia lanjut memiliki ingatan atas masa muda yang lebih melimpah ketimbang ingatan saat di masa dewasa. 

Jika sudah tau efek jarang goyang sama anak, mulai sekarang beralih ya bunda. sebagai rekomendasi buat bunda yang sangat susah menemukan musik yang sesuai dengan anak, saya merangkum musik yang di jamin aman, diantaranya :

Ada trio Kwek-Kwek (katanya), Tina Tom (Bolo-Bolo), Enno Lerian (Du Di Dam), Joshua (Air Diobok-obok), Maissy (Ci Luk Ba), Sherina (Andai aku besar Nanti), dan Saskia & Geofanni ( Menabung).

Lagu-lagu itu adalah lagu yang kita dengarkan saat kita masih anak-anak dahulu. Ya, dahulu kita belum mengenal lagu “bojo galak” bukan?

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here