Alasan-Alasan Mengapa Menjadi Ibu Adalah Sebuah Keajaiban

Alasan-Alasan Mengapa Menjadi Ibu Adalah Sebuah Keajaiban

Becoming a mom is a miracle. Harusnya proses ini bisa dimasukkan menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Haha. Emejing kan ya, merasakan ada seorang makhuk yang tumbuh di dalam diri kita. Gusti Allah memang sungguh Maha Kuasa.

Sebelum menikah dan punya anak, mungkin tak terbayangkan jika kehadiran anak akan segitu-gitunya mengubah diri kita. Dulu mikirnya, punya anak ya punya anak aja. Palingan tambah repot.

Ternyata menjadi ibu bukan hanya tentang bertambahnya jumlah anggota keluarga, tetapi juga tentang berubahnya pola pikir, pemahaman, sifat dan laku si ibu.

Iya. Transformasi yang sempurna

Menjadi lebih kuat

Konon katanya sakit saat melahirkan itu rasanya sama dengan rasa sakit saat 20 tulang kita retak bersamaan, setara dengan 57 del sakit, sedangkan tubuh manusia hanya mampu menanggung 45 del rasa sakit. Eh, tapi ada yang bilang info itu hoax sih, padahal keren gitu ya, berasa jadi manusia super. Haha. Yasutralah, intinya melahirkan itu adalah proses perjuangan antara hidup dan mati.

Bandingkan dengan dahulu kala, saat lihat jarum suntik mau diambil darah aja hawanya pengen kabur ke planet Namex.

Belum lagi pasca melahirkan, awal-awal punya bayi, fatwa Rhoma Irama untuk jangan suka bergadang karena bergadang tiada artinya sepertinya tak bisa kita ikuti. Karena ibu baru dan bergadang itu seperti halnya paket nasi+ayam goreng gratis teh botol dingin, tak terpisahkan.

Menjadi lebih tak egois

Dari rumah niat hati ingin beli daster baru buat ikutan emak berdaster chalange. Pulang-pulang bawa sekantong gede belanjaan. Setelah di list isinya: sandal jepit buat si sulung, piyama frozen buat si tengah, layangan buat si bungsu, ciki, es krim, permen, lego, diapers…

Daster mana daster? Nngg…. pernah dengar nggak Mam yang namanya filosofi daster? Yap, makin usang makin disayang.

Bandingkan dengan list belanjaan dulu kala: lipstik matte merah menyala, sepatu highheels 10cm, pashmina instan, tas dari kulit buaya dan kawan-kawannya.

Menjadi lebih tak jijikan

Belom disebut ibu jika di tengah-tengah makan tidak ada interupsi dari si bocah “Mah, udah selesai ee’ nya, cawikin dong…”

“Oke,” jawab si mama dan setelahnya dengan santai melanjutkan makannya yang tertunda tanpa pretensi apa-apa.

Bayangkan kalau interupsi itu yang terjadi dulu kala, niscaya lotek yang telah berada di lambung akan memberontak untuk keluar kembali melalui kerongkongan.

Menjadi lebih perhitungan

“Makan ke mana kita Mah”? Tanya si bapak. Jawaban waktu belom punya anak: “Terserah” s&k berlaku.

Jawaban setelah jadi ibu: “Dimana ya? Warung ini menunya gak ramah anak. Di sini gak ada lesehannya, rempong bawa bayi. Di situ gak ada playgroundnya. Di sono antrinya busyeet. Ada sih di sana, tapi jauuuh.” Dan endingnya bisa ditebak, indomi goreng pakai telor ceplok. *duta indomi

Padahal dulu kala, segala-gala mau dicoba. Dari jajan cilok depan sekolahan, angkringan, hingga kafe-kafe kekinian.

Menjadi lebih praktis

Dulu kala puas banget saat bisa menyalurkan bakat menyanyi yang tak diakui dengan melakukan konser tingkat kamar mandi. Kalah deh itu princes ulala Syahrini atau mbak Krisdayanti.

Saat jadi ibu, boro-boro bisa nyanyik-nyanyik cantik di kamar mandi. Bisa mandi 5 menit saja tanpa diiringi backsound batita nangis di depan pintu, itu udah istimewa. Kadang mandi pun musti dirapel sehari sekali. Itupun dengan mempraktekkan teknik mandi 3 gayung. Byur pertama sabunan, byur kedua ketiga bilasan. Hemat, cermat dan bersahaja kan Mam? Makanya ikut pramuka. Haha

Dulu penampilan itu hal utama. Pakai baju kerudung buat ootd aja matut-matutnya sejam sendiri. Copot, ganti yang ini. Belom sreg, hempas, ganti yang itu, dan berakhir dengan desah putus asa ‘ya ampun ini gak ada yang oke yaah’ di hadapan hamparan baju di atas kasur.

Sekarang… bergo itu senjata utama. Jilbabnya kotak-kotak kerudungnya kembang-kembang. Slup, redii anter anak sekolah mampir belanja sayur depan rumah. Lupakan bedak, lipstik, sunblock, maskara dan blush on.

Menjadi lebih rela berkorban

Salah satu kerela-berkorban-an seorang ibu bisa dilihat dari persoalan makan memakan.

Makan soto. Dulu saat si soto datang langsung hap, cicipin, koreksi rasa pakai sambel, kecap dkk.

Saat jadi ibu, soto datang, si bapak langsung nyari sambel sama jeruk nipis. Si ibu? nyariin bocah buat nyuapin dulu. Setelah 3x nanya “beneran udah kenyang?” Barulah taroh sambel dan temen-temannya itu ke dalam soto yang tersisa (walaupun ntar pesan lagi siiih haha). Entah ya, kalau anak-anak dipesankan menu sendiri banyakan gak habisnya gitu. Kaya makan indomi, satu kurang dua kebanyakan.

Makan bakso. Bakso datang, cicipin kuahnya, tambahin teman-temannya, makan mie-nya, habis itu baru baksonya. Save the best for the last. The best-nya saat si bakso terakhir siap ditelan di depan mulut yang kepedasan.

Dan gimana rasanya saat best moment itu tiba-tiba terdengar suara “Mamah masih mau baksonya?” Disertai wajah ‘mau lagi’ si bocah. Hiks. Mamah udah kenyang kok Nak. Haha

Menjadi lebih pemberani

Tikus dan mati lampu adalah dua hal yang sangat menakutkan dalam hidup ini selain cinta bertepuk sebelah tangan serta kasih tak sampai tentu saja. Tapi itu duluu waktu belum jadi ibu.

Sekaraang, peett mati lampu…. 3 bocah langsung nangis bebarengan. Si mama dengan (sok) cool (sok) calm dan (sok) confident menjawab dengan suara (sok) lantang dan (sok) gagah berani, “tenang ajaa ada Mama di sini.” Ya, hidup adalah selalu tentang pencitraan

Menjadi lebih bisaan

Apa sih yang gak bisa mama lakukan? Dari benerin rantai sepeda si bocah, bikin mainan dari kardus bekas hingga stik es krim, bikin nutrijel, menyanyi, mendongeng, pasang galon, ganti tabung gas ijo, menambal panci, mengecat pagar rumah, memanen jagung di kebun… cincai lah itu semua.

Yaak… jadi masihkah ada yang merasa underestimate terhadap diri sendiri sebagai ibu? Masih sering berpikir “Ibu macem apa akuh ini?” “Kok aku ngerasa belom jadi ibu yang baik ya?” dan yang semacamnya

Segera enyahkan pikiran itu jauh-jauh!

Tanpa sadar ternyata banyak hal yang telah berubah dalam diri. Dari gadis egois nan penuh emosi menjadi wanita yang siap mengorbankan apapun untuk buah hati.

Ditempa dengan 9 bulan mengandung, 2 tahun menyusui, seumur hidup mendidik, lahirlah seekor kupu-kupu nan indah yang bernama ibu…

Dear mama… You rock!! Engkau keren!! Engkau luarbiasa!! Engkau juara!!

Selalu bersabarlah dengan segala tempaan itu, karena ia ada untuk memastikan bahwa surga layak ditempatkan di bawah kakimu. Ia ada untuk menjadikanmu lebih bercahaya.

Comments

Yoanita Astrid

Ibu tiga anak. Tinggal di Jogja.
Close Menu