Anak Bisa Mandiri dan Tidak Manja Tergantung Sikap Orangtua di Rumah

Anak Bisa Mandiri dan Tidak Manja Tergantung Sikap Orangtua di Rumah

Semua orangtua di seluruh dunia pasti sangat senang memiliki anak mandiri yang sanggup mengurus diri sendiri tanpa perlu merepotkan orangtua, sanak saudara, tetangga ataupun orang lain. Mendidik anak agar tumbuh besar dalam kemandirian adalah tugas berat yang tak bisa ditangani sekolah. Kemandirian lahir dari kebiasaan dan lingkungan rumah tempat anak tinggal. Maka kemandirian dididik oleh orangtua sendiri, bukan guru di sekolah apalagi tetangga di rumah.

Kemandirian anak tidak ditentukan oleh seberapa banyak fasilitas yang diberi orangtua padanya. Ada saja orangtua yang menginginkan anaknya mandiri sehingga dengan rela memberi seluruh fasilitas yang diinginkan anak. Membelikan semua perlengkapan yang dibutuhkan anak guna menunjang aktifitasnya juga bukan jalan keluar terbaik untuk membuat anak mandiri.

Baca juga :

Anak yang Percaya Diri Akan Berhasil Raih Masa Depannya


5 Cara Mendidik Anak Agar Mandiri


Pesan Buat Anak Sebelum Berangkat Sekolah

Kemandirian anak tidak ditentukan oleh kekayaan orangtua. Entah terlahir dari keluarga seperti apapun, anak bisa menjadi mandiri atau manja.

Kunci dari kemandirian anak adalah sikap orangtua terhadap anak. Pendidikan karakter dengan pembiasaan yang ditanamkan sejak kecil.  Sikap orang tua inilah yang akan menentukan apakah anak akan tumbuh mandiri atau berakhir jadi anak manja. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini beberapa ulasannya:

  • Tidak selalu mengabulkan semua keinginan anak

Tidak elok rasanya jika orangtua memberikan semua keinginan anak. Sebanyak apapun pendapatan Anda, itu tidak menjadi pembenaran boleh mengabulkan semua keinginan anak. Sebab memberi atau tidak memberi menyangkut karakter anak selanjutnya.

Selalu memberi apa yang dia mau membuat anak memiliki sifat manja terus menerus. Bayangkan jika karena anak ngambek sedikit atau menangis hati Anda kemudian langsung goyah dan memberi apa yang diminta. Serius, anak akan sangat manja di kemudian hari. Dia sadar betul bahwa segala hal bisa didapat jika dia ngambek atau menangis.

Menolak permintaan anak tidak berarti jahat. Jika dirasa permintaannya terlalu berat atau keseringan, maka tak perlu dikabulkan. Bagaimanapun, anak perlu belajar untuk mengerem keinginannya.

Di dunia ini, tidak semua hal bisa didapatkan. Ada waktunya merelakan keinginan. Lebih dari itu, untuk mendapatkan sesuatu anak perlu berusaha dengan sekuat tenaga.

  • Kemandirian itu hasil dari pengembangan diri yang baik. Anak tidak akan berkembang jika terus menerus dilarang. 

Menginginkan anak mandiri dimulai dari kemauan orangtua melepaskan anak melakukan sesuatu sesuai keinginan sendiri. Tidak terlalu banyak ikut campur dalam kegiatan anak, terlalu banyak melarang.

Orangtua protektif bukan hanya menjadikan anak sebagai tawanan dalam rumah, tapi juga memberikan pendidikan yang buruk buat masa depan anak. Jika orangtua lebih suka melarang daripada mendukung maka anak akan bermental penurut dan jadi pengikut.

Anak tidak akan memiliki mental sebagai inisiator yang berani mengungkapkan gagasan dan keinginan sendiri. Anak mandiri itu anak yang memiliki keinginan dan berani mewujudkan mimpi. Tapi, itu hanya akan bisa terjadi kalau orangtua tidak suka melarang anak mengerjakan sesuatu dan mendukungnya.

Lebih baik mendukung daripada melarang. Toh itu positif dan tidak berbahaya.

  • Biasakan anak jujur terhadap apa yang dia rasakan. Orangtua juga jangan suka menghakimi anak.

Kejujuran itu sangat penting dalam membesarkan karakter baik anak. Dengan jujur, anak akan mampu mengungkapkan keinginan dan perasaannya dengan baik. Banyak anak yang merasa lebih nyaman bercerita dengan orang lain daripada orangtua sendiri. Kenapa demikian?

Sebab ada orangtua yang hanya mau mendengar cerita menyenangkan dari anak ketimbang mendengar apa yang sesungguhnya. Kejadian pahit, misalnya. Saat anak menceritakan apa yang sebenarnya, ia malah dimarahi dan disalahkan.

Pelajaran ini membuat anak tidak suka berkata jujur dengan orangtua. Akhirnya ia hanya akan berkata yang enak didengar telinga orangtua meski itu sebuah kebohongan. Anak yang tidak jujur disebabkan orangtua sendiri, dalam beberapa kasus tentu saja.

Jadi, pertahankan sikap jujur anak dengan tidak terburu-buru menghakiminya.

  • Jauhkan anak dari hukuman fisik

Jangan biasakan anak menerima hukuman fisik sebandel apapun dirinya. Karena hukuman fisik akan membuat anak ketakutan dan kehilangan sifat berani. Bagaimanapun anak memiliki tubuh kecil yang tidak mungkin memang melawan orangtua. Dihukum secara fisik mungkin tidak akan menimbulkan luka fisik, tapi mungkin saja luka jiwa siapa tahu. Luka jiwa bertahan lama dan tidak mudah hilang sampai dewasa. Masa kecil sangat menentukan bagaimana seseorang di masa dewasa nanti.

Dalam jangka panjang setelah anak dewasa, dia akan kehilangan rasa hormat pada orangtua sendiri. Lebih suka berada di luar rumah bersama teman daripada bertemu orangtua sendiri. Bahkan ia cenderung jadi seorang pemberontak.

  • Beri anak tugas dan kepercayaan agar ia semakin terlatih dan memiliki kepercayaan diri

Memang anak masih bertubuh kecil dan belum mampu melakukan banyak hal. Tetapi tidak ada salahnya jika tangan mungilnya dipercayakan mengerjakan sesuatu. Tentu saja bukan tugas yang berat dan di luar kemampuannya. Hal kecil saja sudah cukup untuk melatih dirinya melakukan suatu pekerjaan sampai selesai.

Jangan menuntut anak mengerjakan sampai sempurna. Mungkin apa yang dia lakukan masih penuh kekurangan, tapi Anda memang tidak sedang mengharap kesempurnaan. Anda hanya sedang melatih anak mengerjakan sesuatu agar ia kelak bisa mandiri.

Saat anak mengerjakan tugasnya, jangan dicampuri. Biar ia mengerjakan semuanya karena itu berarti Anda memberi kepercayaan terbaik. Jangan pula dihakimi dan disalahkan jika ia berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan.

Comments

Close Menu