Anak Nakal, Salah Siapa?

Anak Nakal, Salah Siapa?

Saya ingin berbagi kisah menarik dari Ibu saya. Beliau Guru Agama SMP. Nah, suatu saat ibu hendak mengajarkan materi tentang kejujuran.

Ibu meminta murid-muridnya untuk menuliskan apa saja permasalahan mereka dalam selembar kertas. Permasalahan di rumah, di sekolah, masalah dengan teman, masalah dengan diri sendiri, pokoknya ma-sa-lah.

“Tulis dengan jujur, anak-anak,” begitu perintah Ibu.

Mau tahu apa isi cerita mereka???

Ternyata 70% cerita dari 10 kelas yang berisi 32 siswa itu adalah tentang orang tua mereka!

Ada anak yang bercerita tentang orang tuanya yang punya banyak gelar dan penghargaan. Sebagai anaknya, ia tak butuh semua gelar itu. Yang ia inginkan adalah perhatian. Maka pantas kalo sejak SD, si anak udah punya pacar. Pacarnya-lah orang yang selama ini ia anggap penting. Lebih penting dari orang tuanya sendiri.

Ada pula anak seorang fulltime mother. Setiap hari ia pulang dengan Bus Trans. Suatu hari saat pulang, dia ga kebagian tempat duduk. Jadi selama dua jam dia berdiri di bus. Bayangkan, betapa capeknya anak SMP dua jam berdiri di bus setelah pulang sekolah..

Setibanya ia di rumah, bukannya mendapat sambutan senyuman atau perhatian hangat dari ibunya. Tapi dia justru langsung mendapat perintah,“Itu piring kotornya numpuk..!!”

Belum juga naruh tas sekolah, dia sudah disuruh cuci piring. Padahal baruuu aja dia mau berkeluh kesah pada mamanya tercinta bahwa perjalanannya dari sekolah ke rumah bikin capek luarbiasa.

“Sekolah tu capeknya dimana??” si ibu bertanya dengan enteng.

Si anak hanya bisa mbatin “capeknya tuh disini, disini, disini” nepok nepok jidatnya sendiri.

Cerita diatas mewakili kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita ya Mah. Atau jangan-jangan dulu Anda sendiri pernah mengalami hal serupa?

Merasa jengkel, kurang diperhatikan, atau bahkan tidak sepakat dengan profesi orang tua kita? Ya, anak-anak itu merasa demikian.

Ada anak yang di akhir tulisannya mengucapkan terimakasih yang begitu mendalam. Dengan tugas itu, ia merasa uneg-unegnya tersampaikan. Beberapa anak SMP itu, biar kata dia udah gedhe, masiih aja suka minta peluk sama ibu gurunya. Guru sebagai ibu di sekolah punya andil penting memberi perhatian yang cukup di saat mereka kekurangan.

Di pihak lain, bagi orang tua yang sudah mati-matian menghidupi si anak banting tulang bekerja untuk kebaikan si anak, merasa ingin dihargai. Mama ingin anaknya tahu, mamanya itu bekerja untuk dirinya.

Sedang mama yang profesi mulianya sebagai ibu rumah tangga juga ingin dibantu, diselamatkan dari kerjaan yang tiada habisnya, dikerjakan 24 jam seakan tidak akan pernah selesai.

Sayangnya apa yang disampaikan anak-anak di secarik kertas itu tidak tersampaikan pada mamanya di rumah.

Si anak sebenarnya mau kok disuruh cuci piring. Dia bilang bahwa ia paham betul kalo ibunya capek luar biasa mengurus rumah seharian. “Tapi mbok ya o, aku tu pulang jangan disambut langsung diperintah. Disuruh-suruh.”Permintaan yang sebenarnya ringan, tapi apalah seorang Ibu, dia juga manusia yang dikala stress melanda, mulutlah yang paling menderita kalau disuruh diem aja.

Lalu pada anak yang mamanya fulltime worker, dia sering mengabaikan perintah ortunya. Kenapa? Karena dia juga merasa ibunya juga memperlakunnya seperti itu.

Nah, kesenjangan inilah yang kemudian membuat si anak dapet gelar anak pembangkang, anak nakal, dan semacamnya. Sampai ada seorang ibu yang pernah bertanya pada saya, “Salah gak sih mbak jika saya itu bilang ke anak saya, kamu itu sukanya mlengos gitu kalo ibumu ngomong, itu namanya dur-ha-ka!” Tretekdungjess. Drama pun dimulai.

Kita sama-sama tahu kalau salah satu faktor penyebab kenakalan remaja berawal dari abainya orang tua. Anak nakal disebabkan dari yang kecil, komunikasi keluarga yang kurang baik. Bisa jadi itu cara mereka untuk bilang, “Mah, Pah, perhatiin aku dong…”

Berita yang paling heboh datang saat Hari Guru Nasional 2016 kemarin. 23 siswa SD yang melakukan penyerangan pada SD lain. Beruntung aksi itu berhasil digagalkan oleh petugas keamanan sekolah.

“Nah loh salah siapa?”

“Salah media yang mempertontonkan kekerasan dong!”

Udah tahu tayangan TV banyak yang ga pantes, kok masih ditonton juga?

“Gimana lagi, dirumah ada TV sih.”

“Kok masih punya TV? Salahnya punya TV!!”

“Ga ada TV kok di rumah. Cuman dia nonton sama temen-temennya.”

“Salahnya dari pengaruh buruk dari temen-temennya dong brarti…”

Salahnya, salahnya, dan salahnya.. rupanya dialog saling menyalahkan tidak akan selesai.

Yuk,mari kita perbaiki dari yang bisa kita jangkau aja. Yaitu diri kita. Gimana caranya?

Jadilah sahabat terbaik untuknya

Tahu kan ya sahabat itu kayak apa? Katanya sih persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu (ada ga lagu yang lebih jadul??). Iya, sahabat itu ada dikala suka dan duka. Bagaikan Doraemon, ia punya mantra “mata penuh cinta!” jika ia mulai lelah mendengar rengekan Nobita.

Sahabat terbaik itu saling melibatkan diri. Bukan cuma kita yang terlibat dalam permasalahan si buah hati, tapi libatkan ia pada masalah kita. Tentu dengan tutur bahasa sesuai usianya dan pilih kondisi yang tepat.

Misal saat lupa menaruh kacamata. Cobalah bertanya pada balita Anda, “Dek, kacamata Mama ilang nih. Dimana ya..?” Jangan kira mereka akan diam saja. Di situ ada pelajaran menanam kepercayaan pada anak bahwa dia bisa membantu mamanya.

Pernah saya bertanya seperti itu pada anak saya. Dia bilang “Paling jatuh Buk, itu lho jatuh di situ lho”. Nampaknya anak jika dibiasakan terlibat, dia akan berlatih berpendapat. Atau dilain kesempatan saat terjadi hal yang sama, dia menawarkan bantuan, “tak cariin ya”. Dan benar, dia lebih jeli!  Ya ealah, mata Mamanya rabun sih..

Sebagai sahabat terbaik, Mama akan sabar memberikan penjelasan disetiap larangan ataupun perintah. Sehingga anak tau bahwa itu untuk kebaikan si anak. Jadi ga perlu iilfeel kalo liat jumper bayi pake quote “when mom says no, ask grandma”. Karena kita yakin, anak akan menyelesaikan masalahnya cukup dengan mama.

Budayakan bertanya.  Jangan asal marah saat anak bertingkah.

“Gausah marah, Nak.. marah itu temennya syeitan loh” Nah itu Mama tau!

Jadi kalo lagi marah, syeitan-syeitan akan menggoda kita untuk melakukan hal yang berlebihan, padahal sesungguhnya tidak perlu. Berhati-hatilah Mah, ucapan mama itu doa. Ada tu kejadian yang sedih bener, si ibu marah sama anaknya. Terus dengan amarah si ibu bilang, “wo kowe nek wani karo ibumu, bangkrut usahamu!” [Kamu kalau berani sama ibumu, bangkrut usahamu!] Dan dalam waktu 2 bulan, usaha anaknya bener bener bangkrut.

Sepertinya penting untuk membiasakan bertanya sebelum marah saat melihat anak bertingkah. Misal waktu anak marah tanpa alasan jelas, coba bertanyalah, “kenapa Nak, kamu haus?”

Kadang disaat-saat tertentu, susah jika harus menunggu mereka bilang, “ada aqua?” Asal menghukum atau sewot malah akan menambah masalah. Jangan-jangan ia marah karena mainannya direbut. Bukan salah dia dong berarti, anak kan memang egonya masih tinggi. Tidak mudah bagi mereka untuk berbagi. Mari belajar menyediakan stok sabar yang banyaaaak, biar mama muda gak gampang stress.

Hargai kejujuran anak.

“Aku tadi mau gendong adek. Tapi gak kuat.” Begitu jelas anak saya waktu ditanya apa yang dia lakukan terhadap adiknya waktu saya tinggal sebentar ke dapur.Tiba-tiba saja adiknya nangis kenceng banget. Saya hanya bisa mengelus dada dan memberi penjelasan agar hal serupa tidak terulang. Tetapi itulah kejujuran anak yang perlu dihargai.

“Buk, tadi aku dikruwes,” Begitu keluh dia dilain waktu. Kejujuran anak yang dihargai sejak dini, membuat mereka tumbuh menjadi anak yang komunikatif.

Jadi, harapannya tidak ada lagi anak-anak yang menyembunyikan masalah yang dia alami sendiri. Terlebih bila itu masalah serius seperti pelecehan seksual yang dilakukan oleh teman, bahkan oleh paman atau pakdhe nya sendiri. Faktanya banyak terjadi kasus pelecehan seksual pada anak yang tanpa diketahui oleh mamanya sendiri. Tau-tau udah tekdung, atau pulang-pulang demam dan sakit dibagian kewanitaan. Na’udzubillah..

Berlatih membuat jurnal harian

Setiap anak itu unik. Tidak semua anak bisa “dipaksa” bicara. Ada yang cenderung menjadi pengamat atau pemikir. Jadi terkesan menjadi anak pendiam. Padahal ia bukan pendiam, hanya berkomunikasi dengan cara yang lain. Lalu bagaimana kita bisa membangun komunikasi yang baik dengannya?

Ada cara menarik dari para pendidik yang dahulu pernah suami saya alami di Honolulu Hawai. Sewaktu dia usia SD, oleh gurunya dibiasakan punya jurnal harian.

Jangan dibayangkan jurnal itu kayak laporan keuangan lho ya. Jurnal mereka adalah diari keseharian. Jika belum bisa menulis, anak akan menggambar sesuatu yang menarik dihari itu. Bagi yang baru suka dengan warna, ia akan mengambil crayon dan membuat lukisan abstrak dengan warna-warna itu. Atau sekedar membuat cap jari tangan dengan pewarna. Itu dilakukan setiap hari.

Jadi mamanya bisa tau kalo si anak sedang suka apa, sedang sedih atau bahkan bercerita bahwa ia punya teman imajinatif melalui jurnal harian itu. Dan itu berkesan banget saat dia dewasa. Bahkan sampai sekarang pun bukunya masih disimpan rapi.

Selesaikan dengan doa

Jika segala cara sudah dilakukan. Akan tetapi tingkah anak tetap tidak sesuai harapan. Jangan terburu memanggilnya anak nakal. “Anak pinter! Anak sholih!” Perbanyak sebutan baik.

Jika memang perlu menghukum anak, lakukan hukuman yang tidak melukai fisik, hati, dan mental anak.

Di saat amarah kita memuncak, cobalah pejamkan mata. Redamkan amarah itu dengan duduk jika sedang berdiri. Bebaring jika sedang duduk. Lalu ucapkan dalam hati, “saya sudah memaafkan kesalahan-kesalahan anak saya, Ya Allah..” (ini tips dari ibuk saya hehe) Niscaya akan adem hati kita. Terakhir, sebut nama anak kita dalam setiap doa.

Ditulis oleh: Sarah Maisyaroh, baca tulisan dari Sarah lainnya disini.

Comments

Sarah Maisyaroh

Seorang ibu dua anak. Tinggal di Jogja.
Close Menu