Anak Saya Telat Berbicara

Anak Saya Telat Berbicara

Armandani Saputra, sebuah permata yang lahir di bulan september 2014, harapan dan kebesaran keluarga dari pasangan Ayu Sekarwangi dan Ali Hendrawan. Kedatanganya bak cahaya yang menghias banyak sudut rumah, senyum mungilnya adalah pelengkap dari sakinah, mawadah wa rahmat.

Tapi ada yang aneh saat persalinan di rumah sakit, ia sama sekali tidak menangis seperti kebanyakan bayi yang lahir pada umumnya. Tentunya jantungku dag, dig, dug, apakah anakku bisa lahir dengan selamat atau tidak?

Dari banyak orang yang datang mengatakan, jika anakku baik-baik saja. Tentu syukur alhamdulillah aku panjatkan pada yang Maha Kuasa. “Ini pertanda baik, anakmu akan jadi orang baik,” ungkap mertuaku sembari menenangkanku. Hingga pagi datang, bidan yang mengurus persalinan pun datang.

Aku tak menyangka, aku juga bisa melahirkan anak, aku pangku Arman. Ia tersenyum imut dan lucu, ia menyapaku, aku yakin senyumnya itu sedang memanggilku “Mama Ayu.” Aku pun memberi senyumbalik  dan ngomong sendiri, layaknya orang bahagia tiada tara. Entah aku tidak peduli, walaupun percakapan kami berdua tak bisa dimengerti.

“Tapi seorang bunda akan mengerti bahasa anaknya,” begitulah pesan ibuku dulu. Dan hari ini aku bisa rasakan ada panggilan hati antara ibu dan anak yang sulit sekali bisa dipahami seorang lelaki. Yaitu seorang ibu akan selalu bimbang dan sedih jika terjadi sesuatu pada anaknya.

Seperti halnya yang aku alami pada Arman, semenjak kelahirannya ia sama sekali tidak bisa menangis, padahal tangisan pertama seorang anak adalah sebuah kerinduan yang selalu dinantikan hadir dalam ruang seperempat kamarku. Hingga 2 hari persalinan, ia sama sekali belum menangis. Aku perhatikan dan coba bertanya pada spesialis anak, katanya anakku baik-baik saja. Meski sedikit merasa tenang, tapi masih saja ada perasaan was-was.

Pagi itu, keheningan rumah sakit berubah menjadi riuh gemuruh karena tangisan Arman. Aku terbangun tapi masih lemas karena tangan yang terikat oleh infus. Aku hanya bisa melihat dari atas ranjang rumah sakit ke keranjang kotak di sampingku “Ma Arman Menangis,” teriakku pada ibu mertua yang menemaniku,  Mas Ali bangun,” teriakku pada suamiku.

“Iya sayang, jangan panik gitu dong, aku panggilin dokter ya,” kata suamiku yang masih setengah tak sadar dari tidurnya.

Rasa panik dan bahagia bercampur aduk, entah kenapa semenjak Arman lahir aku sering panik tak karuan, untung saja ada dua ibu yang selalu memberikan arahan dan jalan agar aku bisa tetap tegar. “Jangan panik sayang, itu biasa.” kata mereka coba menghiburku waktu itu.

7 bulan setelah kelahirannya, Arman belum bisa memberi apa yang aku inginkan. Seperti biasa, pendiam yang kata keluarga lain itu bertanda baik, tapi tidak bagiku, mana mungkin sampai sekarang ia belum menunjukkan tanda-tanda bisa bicara. Hingga hal itu berlalu sampai usianya 2 tahun.

Hal ini sangat aku rasakan, anakku termasuk anak yang punya kendala dalam soal berbicara, tentunya aku tidak boleh tinggal diam dan pasrah begitu saja, karenanya aku harus bisa bertindak dengan cepat mengantisipasi masalah yang terjadi.

Setelah sekian lama tidak membawa Arman ke dokter, aku akhirnya pergi juga ke dokter meski hanya sekedar untuk konsultasi. Dokter mengatakan bahwa anakku kekurangan banyak vitamin yang menyebabkan ia terganggu di wilayah sarafnya, hal itulah yang membuat Arman jadi lambat bicara.

“Padahal ia kan baik-baik saja dokter,” kataku. “Ia memang kelihatan baik-baik saja tapi ia kurang banyak asupan vitamin dan omega,” jelas Dokter.

“Tapi sebenarnya tak perlu terlalu khawatir, ibu masih bisa mengobatinya dengan  mengunakan bahan-bahan alami, atau membeli vitamin anak, seperti madu anak yang mengandung banyak vitamin,” tambahnya.

“Terus saya beli di mana dok?” tanyaku kembali.

“Ibu bisa cari di toko herbal, dan sekarang juga banyak dijual toko online, vitamin madu anak, dan apa saja yang mengandung banyak Omega 3, Vitamin A, Vitamin B1, dan Vitamin B2,” katanya.

“Mujur apabila ibu menemukan madu yang memang sudah ada asupan Omega 3 dari daging ikan sidat,” tegasnya.

Akhirnya setelah searching sesuai dengan petunjuk dokter, aku temukan madu anak ikan sidat, serta selalu membiasakan Arman untuk diberikan makanan serta sayuran yang bervitamin seperti bayam, kacang almond (B2), roti gandum, (BI), wortel rebus dan temu lawak (A).

Selama 3 bulan terakhir aku mencobanya, keajaiban Tuhan dan usaha yang selalu disertai dengan doa membuat Arman sedikit-sedikit bisa bicara. Sampai 5 bulan ia lebih fasih dan lebih aktif, rasanya seperti dilimpahkan banyak sekali anugerah yang tak ada batasnya.

Hal ini penting aku sampaikan. Jadi bunda, mari menjaga kesehatan anak sebelum berumur 3 tahun, terutama dalam hal berbicara, jika tiga tahun tak kunjung bicara hal itu berisiko ia akan bisu, semoga saja kita dijauhkan dari itu semua.  Amin!

Comments

Close Menu