Anak Sehat Itu Punya Banyak Teman Loh, Moms..

0
59

Hal yang biasanya terjadi pada seorang ibu adalah ia selalu mempunyai rasa khawatir, takut, gundah, dan waswas berlebihan terhadap anak-anaknya. Hal yang sama terjadi ketika seorang yang kita cintai meninggalkan rumah, ada perasaan yang mungkin menghantui dengan berpikir ia tidak akan kembali lagi.

Ya begitulah kehidupan, tak mungkin orang hidup bisa terus bersama, termasuk hubungan ibu dan anak, namun jika orangtua terlalu membatasi dan melarang anak untuk bermain, dikhawatirkan anak jadi manja dan jadi anak rumahan. Apalagi anak dilarang ke luar rumah namun difasilitasi dengan aneka macam mainan yang istimewa, seperti play station, game online terbaru di smartphone dan lain sebagainya. Seperti yang dilakukan salah seorang teman perempuan saya terhadap anak laki-lakinya, Firman. Menurutnya itu adalah bentuk kasih sayang yang bisa diberikan pada anaknya

“Saya berani mengeluarkan banyak uang asal anak saya di rumah saja. Saya beryakinan hal ini akan lebih baik, ketimbang keluar,” begitu katanya.

Dirinya jujur merasa senang, ia mengatakan anaknya pun merasa seperti itu, merasakan kasih sayang ibunya yang selalu memberikan apa yang diinginkan. Bahkan tanpa diminta temanku selalu membelikan anaknya  mainan yang serba baru.

Akan tetapi, tahun demi tahun menjalani pola didikan seperti itu, temanku semakin kewalahan, anaknya tumbuh menjadi anak yang manja, semuanya tak bisa dilakukan sendiri, “Aku mau makan sama mama, mau dianter sama mama, dan pergi jalan sama mama pula,” begitulah yang sering diucapkan Firman kepada ibunya.

Hal lain yang lebih penting, temanku bahkan tidak tahu  perkembangan Firman di sekolahnya, dan siapa saja teman bermain anak-anaknya. “Aku memang tidak terlalu pusing memikirkan hal itu, yang penting anakku baik-baik saja jika di rumah dan kesehatannya terjaga,” kata temanku.

Hingga suatu hari terjadi hal di luar dugaan yang membuat temanku sangat terkejut,  dirinya mulai curiga kenapa anaknya firman tiba-tiba jadi pendiam, pihak sekolah juga menghubungi temanku dan menyatakan sudah beberapa hari ini firman lebih suka murung, pendiam, dan makin jarang bergaul, yang lebih parah ia jadi anak yang sangat sensitif.

Menurut gurunya, Firman sekarang jadi suka marah-marah dan galak kepada teman-temannya.

Sebagai teman yang baik, aku pun menyarankan agar temanku berkonsultasi ke psikolog anak, dan aku mengusulkan ia pergi ke Psikolog Adinar yang kebetulan temanku juga saat di perguruan tinggi dulu, hanya saja beda jurusan denganku. Aku ambil jurusan sains dan Adinar jurusan psikologi. Setelah kupertemukan dan perkenalkan temanku dengan Adinar, aku minta ia untuk langsung menceritakan kepada Adinar semua kejadian yang akhir-akhir ini dialami anaknya, Firman.

Setelah bercerita dan ngobrol banyak, Adinar mengambil kesimpulan sementara bahwa Firman diklaim mengidap penyakit autis, karena ia lebih suka sendiri dan nyaman berada di lingkungan tertentu yang sesuai seleranya. “Hal itu terjadi karena ibu terlalu membatasi pergaulan dengan teman-temanya,” ungkap Adinar pada temanku.

Hal berbahaya lainnya yang akan terjadi pada anak yang selalu dibatasi dan terlalu dimanja di rumah, lanjut Adinar bisa berdampak fatal, yakni anak bisa mengalami kelainan mental.

“Ia akan lebih mengutamakan emosi dibandingkan akal sehat ketika menghadapi masalah, satu lagi yang harus dikhawatirkan, anak ibu akan selalu menyimpan dendam,” tegas Adinar.

Pernyataan dan kalimat yang disampaikan Adinar tentu membuat temanku jadi takut dibanding perasaan takut dan was-was yang sebelumnya. Setelah mendengar penjelasan Adinar, temanku langsung memintaku mengantarnya pulang ke rumah, yang ingin dilakukannya sekarang hanya ingin memeluk Firman dengan erat, ia menangis dan menjerit dalam batin, tak menyangka bahwa apa yang dilakukannya ke Firman bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembangnya, temanku sangat menyesali sikap dan perlakuannya selama ini.

“Ingat bu,jangan sampai Firman tahu perihal ini, anak ibu masih muda, masih ada kesempatan untuk merubahnya pelan-pelan. Latihlah Firman dengan kelembutan dan kesabaran, jangan sampai ada kekerasan,” begitu pesan Adinar pada temanku sebelum ia meninggalkan tempat praktek konsultasi tadi.

Akhirku, apa yang dialami temanku bisa dijadikan pelajaran bagi siapapun orangtua yang ada di seluruh dunia ini bahwa terlalu membatasi anak untuk bermain dengan teman-teman seusianya, bisa sangat berdampak pada proses tumbuh kembang dan mental anak. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca Tutur Mama.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here