Ayah Peninggalan Jaman Batu Adalah Ayah yang Berpikir Tugasnya Cuma Nyari Duit

Ayah Peninggalan Jaman Batu Adalah Ayah yang Berpikir Tugasnya Cuma Nyari Duit

Tidak mudah menjadi ayah yang baik bagi keluarga. Walau sudah mencari nafkah dengan sekuat tenaga, itu tidak menjadikan ayah adalah ayah baik atau sangat baik. Sebab tugas ayah memang bukan hanya mencari nafkah di luar sana.

Ayah adalah penanggung jawab keluarga. Apa hanya dengan mencari uang sudah bisa disebut bertanggung jawab?

Tentu saja tidak, keluarga tidak sesederhana itu. Uang memang dibutuhkan, tetapi keluarga tidak hanya butuh uang. Anak-anak membutuhkan sosok ayah lebih dari sekadar pembeeri uang jajan.

Anak-anak itu butuh sosok pendidik seperti ayah yang bisa mengajarkan keberanian dan kemandirian. Tanpa ayah, anak-anak akan kehilangan satu sosok penting dalam pendidikan keluarga.

“Tapi kan ada ibu di rumah,” para ayah akan beralasan demikian biasanya.

Memang ibu punya waktu lebih banyak bersama anak-anak. Dia yang mengurus buah hati dari pagi sampai tidur malam hari. Ibu juga mengajarkan banyak sekali hal bermanfaat. Tapi itu tidak cukup, tidak akan pernah mencukupi.

Mencarikan nafkah untuk anak dan istri adalah tindakan mulia, tapi tidakkah engkau memikirkan masa depan keluargamu, di dunia maupun di akhirat kelak. Jika keluarga adalah sebuah kapal, maka ayah adalah nahkoda yang menentukan arah dan memutuskan banyak perkara.

Semua itu tidak cukup hanya dengan materi. Uang memberimu kesempatan untuk membeli barang, tetapi uang tak dapat membuat keluarga terarah menuju kebaikan. Kebaikan hanya datang dari keputusan seorang nahkoda yang hebat, yang mau menyempatkan waktu untuk duduk bersama dengan keluarga.

Maka janganlah merasa sudah jadi ayah hebat apabila selama ini hanya membanting tulang dan meneteskan keringat di lapangan kerja. Datangilah keluargamu dan ajak mereka membicarakan dan mempelajari kebaikan-kebaikan.

Hanya dengan jadi pendidik, kau jadi Ayah yang super hebat. Memenuhi kebutuhan ilmu dan akhlaq adalah tugas ayah pada keluarganya. Dalam surat Luqman sudah dijelaskan model ayah yang baik sesuai ajaran agama islam. Dia mengajarkan anaknya akhlaq, ilmu, dan ketaatan pada Allah.

Demikianlah ayah hebat yang dicontohkan beratus abad lalu. Tidak ada yang berbeda saat ini.

Dunia yang makin tua butuh ayah hebat yang mampu membimbing keluara menuju jalan terang. Bukan sekadar memberi ateri, materi, dan materi. Materi hanya barang dunia yang tak akan bertahan lama, esok sudah habis berganti dengan yang lain.  

Ayah, tubuhmu juga akan menua dan bertambah lemah seiring waktu. Saat itu tiba, kau tak bisa lagi bekerja keras mencari uang sepanjang waktu. Tak akan ada yang tersisa lagi karena selama muda kau hanya memberi uang.

Namun kondisi berbeda jika kau menanamkan nilai akhlaq dan mengajarkan ilmu. Meski seandainya kau tak memiliki harta, anakmu masih punya akhlak yang dapat menyelamatkan dirinya. Kau juga memiliki anak sholeh yang menjadi amal jariyah, mengalirkan pahala sampai saat kau sudah mati.

Investasi terbaik seorang ayah untuk keluarga adalah ilmu dan kebaikan, bukan harta melimpah. Harta dapat dicari tapi setelah itu akan habis, sementara akhlaq akan bertahan sampai mati.

Jadilah ayah yang hebat buat keluarga.

Ayah, gunakan waktu luangmu untuk menemani anak mengaji. Ajarkan mereka huruf hijaiyah dan tata cara membaca Al-Qur’an yang benar. Jangan lewatkan kesempatanmu selagi anak masih kecil dan dekat dengan orangtua.

Esok hari mereka akan tumbuh dewasa dan meninggalkanmu. Tanamkan bibit keshalehan sejak dini agar mereka punya bekal, agar Kau tak menyesal.

Kau sudah melewati puluhan tahun di dunia dan merasakan betapa sakitnya penyesalan. Mengapa aku tak begini, mengapa aku tak begitu, dan lain sebagainya. Apa kau masih ingin merasakan penyesalan lain di usia senjamu.

Manfaatkan waktu luangmu untuk keluarga, Ayah. Kau memang lelah dan letih usai bekerja, tapi kau perlu sedikit usaha lagi untuk menjadi ayah hebat. Jangan langsung tidur apalagi memasrahkan semua hal tentang anak pada istrimu saja.

Kalau kau merasa belaum mampu menjadi pendidik yang baik, maka belajarlah. Baca buku dan nikmati prosesmu menuju ayah hebat.

Jangan hanya jadi mesin ATM yang mampu memberi uang tapi tak mengajarkan cara menggunakannya. Bahkan hal sederhana seperti cara menggunakan uang, anak-anak butuh bimbinganmu. Kau ingin anakmu sukses dan shaleh di masa epan, bukan?

Jangan diam saja, bergerak, bergerak. Ayah hebat tidak langsung tidur habis bekerja, tapi meluangkan waktu buat anak dan istri.

Ingat saja pesan dari Abah Ihsan, “Seorang ibu mungkin menjaga anak lebih banyak, tapi ayah adalah pendidik utamanya, penginstall program konsep diri anak. Di dalam Al Quran surat Luqman dicontohkan yang ajarkan anak aqidah, sholat, ibadah, dan lainnya adalah ayah. Bukankah luqman adalah ayah? Bukan ibu.

Ayah yang berpikir tugasnya hanya BERBURU (nafkah) tidak mendidik anak, maaf yah, itu ayah peninggalan jaman batu alias pitecantropus erectus paleo javanicus homo soloensis.”

Salam Great Daddy..

Comments