Baca Buku Buat Anak Itu Baik dan Perlu

0
99
membacakan buku untuk anak

Aku membaca dari sebuah grup tentang pengertian re-tell dan read a loud. Singkatnya re-tell ada kita membaca sebuah buku kemudian menceritakan kembali sesuai bahasa kita. Sedangkan read a loud adalah kita membaca buku dengan suara keras dengan tujuan membacakan isi cerita buku kepada orang lain persis seperti yang tertulis di buku yang kita bacakan.

Aku sangat suka membaca.

Awalnya karena alasan itu aku membeli banyak buku untuk Raihan, dengan harapan suatu saat nanti buku-bukuku akan dibaca juga olehnya sehingga untuk itu aku mengumpulkan sekian banyak buku sesuai dengan perkembangan usia anakku agar minat bacanya tumbuh. Meski aku tidak menyuruhnya membaca, mungkin saja dengan kesehariannya dekat dengan buku dapat membuatnya suka membaca suatu saat nanti.

Saat buku pertama datang, aku langsung mempraktekkan membacakan buku untuk Raihan. Usianya baru satu tahun waktu itu. Sepertinya dia kurang tertarik dengan caraku membawakan isi buku. Hingga berkali-kali aku ulangi, dia tetap menunjukkan respon yang sama.

Baiklah, karena memang dasar aku ibu yang moody jadi aku mulai malas membacakan buku untuknya gegara respon si Rey, panggilan Raihan, yang menyebalkan hehe.

Beberapa hari tak tersentuh, Rey yang suka dengan mobil-mobilan mengeluarkan buku dari lemari dan menyusunnya sedemikian rupa hingga membentuk seperti terowongan. Maka lewatlah mobil-mobil kecil dibawa trowongan itu. Melihat itu aku tidak berkomentar atau berpikir apapun.

Saat membuka grup fesbuk ternyata ada pengalaman seorang ibu yang sama denganku, buku-buku yang harganya berjeti-jeti itu juga dijadikan mainan sama anaknya. Menurut ibu tersebut kegiatan itu tidak masalah, justru termasuk cara perkenalan awal seorang anak dengan buku. Yeaayy akhirnya badmoodku sembuh.

Besoknya aku langsung membeli sepaket buku lagi. Isinya menceritakan tentang nabi dan orang-orang yang namanya diabadikan dalam Al- Qur’an. Penyajian cerita dan gambar-gambar dalam buku itu sangat menarik buatku, sayangnya tidak dengan Raihan. Aku membacakan isi buku itu saat akan tidur, sembari Rey meneguk ASI. Saat itu Rey tidak tertarik. Haduuhh…

Tidak menyerah, aku kembali mencari tau bagaimana agar anak tertarik dengan cerita. Hingga akhirnya aku menemukan istilah Re-Tell dan Read Aloud. Kembali bersemangat! Hehe…Akupun membaca banyak buku anak-anak yang sudah kubeli. Lalu mulai kusampaikan pada Raihan isi buku tersebut dengan menerapkan model Re-Tell alias menceritakan kembali, tentu disertai gaya bicara yang lucu dan semenarik mungkin. Memang menguras pikiran apalagi saat yang kubaca cerita tentang nabi. Maklumlah kita kan sedang mengajak anak membayangkan nabi itu seperti apa, lha definisi nabi saja masih belum bisa dimengerti haha. Apalagi ada kata dakwah, berbuat kebaikan dan lain lain yang menurutku tingkat tinggi.

Jadilah aku benar-benar memutar otak.

Daaann…Alhamdulillah berhasil.

Raihan menunjukkan raut muka senang, melongo, bahkan ikutan mewek saat aku menceritakan bagian yang sedih. Akhirnya malam-malam ku dengan dia jadi semakin hidup. Misalnya saja setelah cuci tangan, cuci kaki dan sikat gigi, dia berangkat ke kasur tapi sebelumnya mampir dulu ambil buku. Duuuh senengnya saat dia sendiri yang meminta untuk dibacakan buku.

Berikutnya apa yang terjadi, sekarang kapan dia ingin dengar cerita maka tidak harus menunggu malam aku harus siap jadi pemain teater dadakan haha. Dan aku juga semakin kalap membeli banyak buku. Diantaranya ada seputar dunia binatang.

Diusianya yang balita, Rey juga suka dengan binatang, baik gambar apalagi aslinya. Sepaket buku berjudul Dunia Binatang yang belakangan dia minta untuk dibacakan berkali-kali. Dan untuk itu pula aku jadi harus siap untuk menirukan suara dan beberapa gaya binatang. Untunglah itu dilakukan di dalam rumah jadi tidak ada yang melihat. Haduh malu kan ya kalo ditonton orang hehe..

Ada sih komentar yang mampir di telinga “Buat apa sih belikan buku anak sekecil ini dengan harga mahal?”

Ah sebenarnya kalau ada yang murah ya aku pilih itu, tapi sayangnya aku merasa benefit yang didapat dari buku-buku yang kubelikan untuk Rey jauh lebih besar ketimbang harganya. Kualitasnya juga oke, secara fisik bukunya pas untuk anak usia balita yang “gemar merusak”. Karena itulah meski berkali-kali pengen ganti gadget yang terbaru aku berhasil menahan diri, lebih memilih membelikan buku baru.

Apa saja yang didapat dari buku-buku yang kubacakan atau dari cerita-cerita yang kubawakan untuk anakku? Buanyaak sekali.

Satu contoh: belajar tentang hati-hati. Pernah suatu kali Rey melihat tetangga yang berusia SMA jatuh dari motor. Rey lari ke rumah, lalu memanggilku dan mengajak ke rumah tetangga tersebut. Dengan cara bicara yang masih terbata, Rey bilang “Mbak Ega jatuh dari motor, kakinya sakit. Dagunya juga sakit.”

Lalu kutanya, “Trus adek bilang apa ke Mbak Ega?”

“Hati-hati ya Mbak Ega! Biar gak jatuh lagi,” jawabnya polos.

Pelajaran tentang hati-hati sebelumnya telah kami dapatkan dari buku milik Raihan yang judulnya “Aku Selalu Berhati-Hati”. Saat dia bilanke temannya yang mau masuk rumah memakai sandal “Lepas sandal. Nanti kotor. Bunda capek nyapu.” Dia juga belajar dari bukunya yang berjudul “Aku Suka Membantu Ibu.” Asyik kan…

Oh iya, sedikit cerita, Raihan tergolong anak yang lambat bicara. Usianya sudah 2 tahun 3 bulan dia baru mau bicara. Selama dia belum bicara, aku terus mengajaknya bicara, membacakan buku dan menceritakan apa yang kubaca. Sering dia menunjuk beberapa gambar. Mungkin maksudnya “ini apa?” atau “itu apa?”

Saya jawab. Dari mulai nama benda, nama hewan, warna, angka, dan nama kendaraan. Terkejutnya aku saat akhirnya Rey mau membuka mulutnya untuk bicara, dia sudah bisa mengulang kata-kata saya tentang nama benda, bahkan bisa mengulang apa yang saya ceritakan selama ini. Kerennya lagi, dia bisa melafalkan beberapa nama benda dengan bahasa inggris dan bahasa arab. Saat baru bicara dia sudah bisa melafalkan beberapa ayat Al Qur’an.

Kata tetangga, pantes aja lha wong ibunya guru. Padahal cuma gelar aja sarjana pendidikan, tapi aku sudah tidak mengajar. Saat bersama Raihan pun saya lebih banyak menemani, dia sekarang sudah asyik dengan fasilitas epen yang include dengan buku yang kubeli, untuk mengetahui isi buku. Apalagi karena aku juga working mom, jadi amunisi sudah saya siapkan. Seringnya sih saat akan tidur saja aku bercerita atau dia yang bercerita (kebanyakan cerita yang disampaikan Raihan ngarang haha).

Nah kan, bener kan? Tidak ada istilah terlalu dini untuk mengenalkan anak pada buku. Semangat Bunda!! Baca buku buat anak itu baik dan perlu lho.

.

.

Oleh: Ana Rosdiana, Asal Banyuwangi Mamanya Raihan

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here