Bagaimana Jika Orang Tua Durhaka Pada Anak..?

Bagaimana Jika Orang Tua Durhaka Pada Anak..?

Entah mengapa hari ini tiba-tiba aku jadi kepikiran satu hal yang membuatku gelisah. Bukan tentang anak yang tingkahnya mulai suka caper. Misalnya saja saat ia dipanggil om-nya, bukannya langsung menyahut, tapi ia malah lari-lari sambil ketawa lalu berada di belakangku.

Ia mulai suka memanggil-manggil dan menunjuk apa saja yang membuatnya tertarik. “Pah..pah..pah,” begitu berulang kali. Padahal ayahnya berada di sampingnya. Itu ia lakukan bukan karena ingin memanggil ayahnya, tapi lebih karena ingin caper.

Wajar. Namanya juga masih usia batita.

Tapi bukan itu yang membuatku gelisah. Bukan pula tentang tagihan bulanan. Bukan juga tentang kiriman baju yang belum juga datang. Padahal sudah lewat satu minggu. Baju yang aku beli online di salah satu babyshop.

Bukan tentang itu.

Hari ini aku gelisah karena memikirkan satu hal; bagaimana jika sebagai orang tua, kita durhaka pada anak?

Bisakah? Tentu saja. Mungkin selama ini aku hanya mendengar kisah Malin Kundang. Kisah tentang seorang anak yang dikutuk ibunya jadi batu karena ia telah durhaka. Kisah inilah yang sering kita dengar. Maka di alam bawah sadar kita akan selalu terbentuk sebuah gambaran bahwa sudah menjadi kewajiban anak untuk tidak durhaka pada orang tuanya.

Dan itu memang betul. Anak tidak boleh durhaka pada orang tua. Namun yang sering terlupa, orang tua juga tidak boleh durhaka pada anaknya.

Teringat aku akan kisah ‘Umar ibn Khaththab yang menegaskan hal itu.

Seseorang pernah datang kepada ‘Umar ibn Khaththab Radhiallahu ‘Anhu dan mengadukan anaknya, “Anakku ini benar-benar telah durhaka kepadaku.”

“Apakah engkau,” kata ‘Umar ibn Khaththab kepada sang anak, “Tidak takut kepada Allah dengan durhaka kepada ayahmu, Nak? Karena itu adalah hak orang tua.”

“Wahai Amirul Mukminin,” balas sang anak membela diri, “Bukankah anak juga punya hak atas orang tuanya?”

“Benar, haknya adalah memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Kitab (Al-Quran).”

“Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik. Ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga 400 dirham. Ia tidak memberi nama yang baik untukku. Ia menamaiku Ju’al. Dan dia juga tidak mengajarkan Al-Quran kepadaku kecuali satu ayat saja.”

Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional. (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 977).

‘Umar menoleh ke sang ayah dan berkata, “Engkau mengatakan anakmu telah durhaka kepadamu tetapi engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Enyahlah dari hadapanku!” ( As-Samarqandi, Tahbihul Ghafilin, 130).

Kisah inilah yang membuatku gelisah. Membuatku berpikir, sudahkah kita tidak durhaka kepada anak? Sudahkah kita memberikan yang terbaik pada anak agar ia tumbuh berkembang sesuai fitrah dan menjadi anak yang sholeh?

Misalnya saja, dengan mendidik anak agar tumbuh cerdas. Apakah kita sudah membaca tips mendidik anak cerdas sejak dini berikut ini 13 Tips Anak Cerdas. 

Sudahkah itu aku lakukan?

Baik tidaknya seorang anak, apalagi usianya masih balita, itu berada di pundak orang tuanya. Anak-anak yang lahir di dunia ini, memang dia memiliki masa depannya sendiri. Kelak ia akan punya cita-cita dan keinginan sendiri. Kelak saat dewasa, anak-anak kita, akan menanggung apa yang ia perbuat sendirian.

Namun sudahkah kita (aku) memberikan bekal yang baik untuknya? Membangun pondasi yang kokoh dalam dirinya?

Aku tahu bahwa ada banyak kekurangan yang ada dalam diriku. Kadang membentaknya saat ia nakal. Kadang membiarkannya menangis terlalu lama. Lupa mengajarkan padanya untuk berdoa. Membiarkannya menonton televisi yang isi acaranya tidak baik untuknya.

Duh, maafkan Ibu ya, Nak…Tentu aku ingin menjadi ibu terbaik bagimu.

Memang betul bahwa menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang tidak ada ujungnya. Aku bisa menjadi sarjana hanya dengan kuliah delapan semester, tapi aku tak bisa menjadi orang tua hanya delapan semester.

Sekali punya anak, maka selamanya ia adalah anak-anak kita. Selain orangtua mendapat hak istimewa dari Allah Ta’ala berupa bakti dari anak, orangtua juga memiliki kewajiban besar, yaitu mendidik, mengayomi, dan memimpin anak dalam taat kepada Gusti Allah.

Amiin..

Happy parenting yaa.. ^_^

Yuk, add LINE@ Tutur Mama di @tuturmama atau klik aja http://vtb.mn/FollowTuturMama/

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persembahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.