Biarkan Emak Lain Belanja Setiap Minggu, Aku Tetap Tenang dan Bahagia dengan Kesederhanaanku

Biarkan Emak Lain Belanja Setiap Minggu, Aku Tetap Tenang dan Bahagia dengan Kesederhanaanku

Terkadang, aku merasa malas ikut forum-forum arisan.Bukan karena iuran uangnya, melainkan karena arisan jadi ajang pamer di antara sesama emak-emak. Aduh, emang kayak sinetron banget, tetapi begitulah adanya. Banyak lho emak yangg sukanya memamerkan koleksi baju baru atau foto habis liburannya. Itu bikin kesel aja.

Masalah ini tidak sesederhana yang orang bilang sebagai iri dan dengki karena tidak mampu. Enggak. Aku kan juga kadang-kadang beli baju baru juga. Hehe.

Masalahnya adalah budaya pertemanan yang tidak sehat. Kenapa sih emak-emak di kelompok arisan aku mesti saling menunjukkan kemewahan dan kebiasaan belanja di mall mahal.

Arisan yang semula forum berkumpul dan saling menolong malah jadi ajang memamerkan diri.

Akibatnya enggak sedikit lho. Emak yang gaya hidupnya enggak sehebat emak sosialita jadi merasa tersindir dan minder.

Lha yang biasanya paling piknik dalem kota dibandingkan dengan emak yang piknik ke Singapore. Kan timpang banget, ya.

Cobalah buat ngobrol yang standar aja layaknya emak-emak komplek pada umumnya. Membahas seputar anak dan kebutuhan rumah tangga, atau suami yang kerjanya sampai malem, atau mungkin juga sinetron dan film terbaru di bioskop.

Intinya, ngobrol yang standar sesuai dengan obrolan umum emak pada umumnya. Aku pikirir itu cara beergaul yang baik, ketimbang menyombongkan diri di hadapan teman sendiri.

Kalau memang habis belanja atau jalan-jalan, tidak perlu dipamerkan segala ke orang lain.Cukup dinikmati sendiri. Emang sih jadi gengsi kalau dibicarakan sama orang lain, tapi apa enggak mikir perasaan pendengar yang hidupnya enggak seenak emak sosialita.

Arisan yang hanya berisi pamer kekayaan dan kemewahan menghasilkan perasaan iri dan enek. Itu enggak sehat banget buat ergaulan sesama emak-emak. Masak emak satu komplek kudu saling membenci. Aku enggak mau begitu.

Soalnya nih, solidaritas emak-emak itu lumayan sulit di komplek ini. Mungkin sebab banyak yang bekerja sehingga jarang ketemu, banyak pendatang sehingga enggak kenal-kenal, dan jarang banget bisa nongkrong bareng kayak di desa kecuali di acara arisan.

Sekalinya berhasil ngumpul malah dikompori oleh oknum sosialita yang bikin kerukunan warga enggak anget.

Kudu disadari, ini masalah emak-emak yang cukup klasik dan sulit dihilangkan.

Akibat dari budaya pamer, ujungnya orang-orang berlomba untuk mengikuti gaya hidup sosialita, meski berat di ongkos, juga memberatkan suami. Tapi begitulah, kadang pergaulan emak-emak yang salah membawa pada keinginan belanja baju mahal dan makanan mahal.

Semula hidup sederhana tiba-tiba pengin ikutan nge-hitz dan memaksakan kemampuan diri. Meski berat, tapi dipaksakan perawatan ke salon atau makan di restoran mahal.

Hmm, sejujurnya, ikut-ikutan gaya hidup sosialta itu bikin capek. Gimana enggak, kita penginnya membeli barang yang kita tidak mampu, memaksakan diri sampai memberatkan suami. Keinginan bermewah-mewahan ini hanya berasal dari satu hal: iri.

Bahaya nian kalau begitu, bisa bikin rumah tangga porak poranda, penyebabnya jelas, pergaulan yang sukanya pamer kemewahan.

Aku capek kalau harus ikut-ikutan kayak gitu, menyiksa diri.

Apalagi hari ini kita disodori sama toko online dan selebgram yang cantik-cantik. Tentu saja menambah keinginan buat ngabisin uang.

Tapi aku mikir, suami aku buka n seorang milyader yang uangnya enggak bakalan habis meski buat belanja baju satu toko. Aku juga punya anak yang harus lebih dipiroritaskan kebutuhannya ketimbang ibu atau ayahnya.

Maka lebih baik aku membuang jauh-jauh keinginan hidup berlebih-lebihan yang menguras kantong. Tersiksa batin.

Hidup itu yang penting tenang, tidak resah karena kebanyakan lirak-lirik. Dengan itu hidup akan lebih bahagia. Untuk hal-hal duniawi, lihatlah yang lebiih bawah. Begitu kata nabi. Aku juga sedang berusaha menerapkannya. Tidak mudah, sih. Hehe.

Tantangan buat emak-emak kadang sesederhana tetangga beli tas baru terus kita iri dan pengin ikutan beli. Percayalah, masing-masing emak punya rezekinya sendiri. Jadi, mungkin hari ini tetangga yang belanja, besok gantian kita yang belanja.

Lagi pula, kebutuhan yang wajib diutamakan adalah kebutuhan keluarga dan anak-anak. Untuk mereka kita berjuang sekuat tenaga membereskan rumah setiap hari, bahkan bekerja di luar rumah.

Jadi, mari belajar untuk tidak mudah panik melihat tetangga punya baju baru. Keep calm, moms!

Comments