Bunda, Ingat ya, Terima Rapor Bukan Momen Untuk Memarahi Anak Lho..

0
535
ibu marah karena nilai jelek

Muka Rani yang mungil ditekuk, ketakutan saat pulang ke rumah setelah sekolah. Di rumah ibunya sudah menunggu dengan raport sekolah di tangan. Itu raport Rani yang ibunya terima tadi pagi. Rani tahu, ibunya akan memarahinya karena nilai buruk di raportnya.

Rani ketakutan bahkan sebelum dimarahi. Setelah dimarahi dia menangis, lalu kehilangan selera makan. Malamnya Rani tidur tanpa menyentuh makanan sama sekali. Pasti ia lapar.

Setiap akhir semester, Rani kerap dimarahi ibunya karena nilai raport yang buruk. Begitulah yang terjadi selama ini. Akhir semeter jadi momen horor buatnya. Ibunya meledak-ledak, marah, dan menyebutnya anak bodoh.

Bagi anak kecil seusia Rani, perkataan itu sangat kasar dan membekas di hatinya. Rani justru tak dapat berkembang di sekolah, terbayang dengan kebiasaan marah ibunya di setiap akhir semester.

Kemarahan ibu Rani tidak memberi efek positif bagi prestasi belajarnya, malah justru menbuat anak ketakutan dan tidak berkembang. Kalau begitu, buat apa marah sama anak gara-gara nilai raportnya jelek?

Kebiasaan memarahi anak saat nilai raportnya jeblok bukan saja dilakukan ibu Rani, tapi juga ibu lain. Apa Bunda juga suka begitu?

**

Masih inget waktu masih sekolah dulu? Gimana rasanya terima raport? Pasti deg-degan. Mikirin dapet nilai bagus apa enggak, mikirin dapet rangking atau enggak. Takut aja kalau nilai raportnya pda jelek, pada merah warnanya.

Kalau raport jelek, ada orangtua yang nunggu di rumah dan nanyain “Kok raportmu merah? Belajar enggak di sekolah?”

Beruntung kalau nilai kita bagus, apalagi dapat rangking. Tapi kan enggak mungkin semua orang dapat rangking, harus ada yang enggak dapet. Lagian, nilai enggak bagus enggak menandakan bodoh. Tapi orangtua itu lho, maunya nilai anak sempurna terus.

Ini hari terima raport anak-anak kita. Ibu-ibu pada pergi ke sekolah buat ketemu guru dan nerima raport satu semester ini. Anak-anak kita pasti tegang mikir hasil raportnya sendiri, khawatir jelek dan dimarahi emaknya di rumah.

Saya yakin anak khawatir banget. Takut mikirin emaknya yang marah-marah di rumah.

Memikirkan saja, anak udah takut banget. Apalagi kalau emaknya cerewet dan doyan marah selama berjam-jam. Bukannya bikin anak semangat belajar dan memperbaiki diri, malah bikin dia ngedrop.

Jangan dimarahi ya, Bunda. Meski nilai anak enggak bagus-bagus amat. Toh kecerdasan enggak ditentuin sama nilai di raport.

Jangan mendewakan nilai raport untuk menilai kecerdasan anak Bunda. Mungkin dia enggak bisa dapet nilai bagus karena bidangnya ada di seni, sementara sekolah tidak mewaahi seni dengan baik. Kalau dia pintar menggambar, wajar saja nilai matematikanya enggak tinggi.

Please deh, jangan jadikan hari terima raport sebagai pengadilan buat anak.

Nilai yang rendah saja sudah cukup membuat anak mikir dirinya, enggak usah ditambahin marah-marah segala. Nanti waktu anak liburan jadi enggak bisa menikmati, kepikiran terus sama omelan emaknya.

Harapan emak selalu tinggi, meski kenyataan berbeda. Walau dibuat kecewa, jangan langsung memberi respon negatif sama anak. Sampai di rumah langsung diinterogasi, diceramahin berjam-jam, udah gitu dikasih hukuman. Duh mak, udah bukan zaman Orde baru lagi, jangan perlakukan anak zaman sekarang kayak gitu.

Kalau dulu mungkin nilai raport sangat menentukan, tapi sekarang enggak. Banyak orang berhasill yang nilai raportnya biasa-biasa aja. Raport bagus tetap lebih baik sih, tapi nilai bagus bukan segalanya.

Jangan langsung dibikin pengadilan ya, Bunda. Sudah tahu nilai jelek, masih dimarahin. Jadi tekanan ganda buat si kecil.

Lebih baik Bunda hibur dia dulu, katakan bahwa dia tetap anak pintar kesayangan Bunda. Ajak dia bicara dengan baik dan dengan cerita serta alasan mengapa nilainya buruk. Mungkin ada banyak penyebab yang bisa Bunda atasi kalau mau mendengar ceritanya.

Kalau enggan mendengarkan cerita anak, Bunda tidak mungkin tahu ada masalah yang menimpanya di sekolah. Sekolah bukan hanya tempat belajar dan mengambil ilmu, ada pergaulan dan suasana sekolah yang dapat berpengaruh terhadap kualitas belajar anak di sekolah.

Please, Bunda, jangan langsung marah sama anak.

Jadikan hari terima rangking sebagai hari bahagia buat anak. Apapun hasilnya, hargai usaha anak. Ajak dia jalan-jalan ke mall dan makan makanan enak. Belikan sepatu atau baju baru jika ada uang, begitu seharusnya.

Sebentar lagi liburan semester, saatnya anak istirahat dari rutinitasnya di sekolah. Pastikan ia bahagia dan senang, bukan murung kebayang kemarahan emak. Inti kehidupan itu merasakan bahagia, kalau anak enggak merasa bahagia, maka orangtua yang paling bertanggung jawab. Mungkin si emak habis marah sama anak karena nilai pelajarannya jelek.

Saya berdoa semoga nilai raport anak Bunda bagus. Kalaupun belum bagus, jangan dimanfaatkan buat marah sama anak, ya.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here