Cara Agar Tidak Berubah Menjadi Seorang Ibu Pemarah Seperti Nenek Sihir

0
176
nakal cubit

Jadi benar apa yang dikatakan banyak orang jika sabar ada batasnya. Hal itu berlaku tidak hanya pada orang lain saja, tapi juga sama keluarga kita sendiri, contohnya pada anak. Ada banyak faktor  yang bisa membuat orang tua marah sama anak dalam waktu tertentu,baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Sebagai seorang ibu yang tingkat kesibukanya luar biasa mungkin perlu dimaklumi. sebab kemarahan bisa saja datang kapan saja yang tidak bisa di hindari karena stres yang menimpa ibu-ibu. Mulai dari masalah lupa membawa sesuatu yang penting,  masalah kesehatan, masalah tidak dapat pelukan dari papa, ataupun masalah keuangan rumah tangga yang kacau.

Ditengah-ditengah situasi yang sangat rumit, tiba-tiba adek datang mengeluh polpen hilang, kemudian ia berteriak-teriak minta dibantuin nyari, ditambah baru ingat juga jika hari ini uang sumbangan sekolah untuk pembangungan terakhir dibayar.

Parahnya lagi tiba-tiba kakak datang merecokin si ade yang lagi kebingungan yang akhirnya berujung pada pertengkaran yang tidak bisa di damaikan. Pokoknya kejadian itu seperti ledakan perang dunia dua. Spontan juga bentakan keras  pada keduanya tiba supaya  mereka berhenti untuk bertikai.

Karena waktu itu seorang ibu dalam kondisi yang sangat stres, maka seolah-olah ibu merasa paling berhak untuk melampiaskan kemarahan ini semua pada si kecil. Kita langsung dengan tegas mengatakan padanya jika anaknya tak terdidik, tidak mau dinasehati, dan sangat menyebalkan.

“Dasar anak tak tahu berterima kasih, kerjanya tengkar melulu, dan tidak mau menuruti perintah ibu.” Sembari mata melotot kayak nenek gombel.

Sehabis dimarahain ia mulai berulah lagi dan saling menyalahkan. Mungkin tekanan pikiran semakin tinggi. Pada akhirnya kita sebagai ibu terkadang kembali memberikan kesimpulun langsung tanpa pikiran panjang.

“Aku telah gagal menjadi orang tua..”

Pada akhirnya kejadian ini memicu munculnya serangkaian emosi seperti rasa takut dan rasa bersalah. Dengan semangat optimisme seorang ibu tidak sanggup menghadapi perasaan-perasaan ini. dan cara terbaik untuk menghadapi semua kejadian itu kecuali melampiaskan kemarahan kepada anak kita.

Berikut pertanyaanya adalah bagaimana cara kita agar bisa mengendalikan kemarahan pada anak walaupun diwaktu sulit sekalipun. Apakah bisa ? Bisa !!!

Sebagai seorang ibu yang ditakdirkan sebagai mahluk yang bernaluri tinggi, penuh cinta dan kasih pada keluarganya hal itu bisa dijadikan alasan untuk bisa mengatasi masalah. Walaupun seorang ibu berada dalam kondisi bertempur atau melarikan diri.

Intinya jangan jadikan anak kita yang menyebalkan itu akan terlihat sebagai musuh yang harus di hadapi.

Pertama, tentukan aturan sebelum anda marah.

Apabila ada sinyal anak kita mau melakukan tindakan yang sangat membahayakan,  dan bunda dalam keadaan sangat lelah sehabis kerja, langkah yang baik adalah tidak dengan berteriak, tapi mampu memberikan penjelasan betapa bahayanya mainan yang ia lakukan.

Perlu di ingat ya bunda, bentakan pada anak bukan solusi tapi bencana yang menyebabkan anak menjadi psikopat.

Kedua, ambil waktu tenang setidaknya lima menit.

Pahamilah bahwa mendidik anak dalam kondisi marah tidak baik. Seorang ibu membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sejenak. Berhenti, ambil nafas, dan ingat bahwa apa yang kita hadapai bukan suatu hal yang gawat. Setelah itu lepaskan kepanikan dan sambil gerak-gerakkan tangan.

Berikut berbicaralah dengan bahasa ibu, sebab anak itu lebih suka di halusin daripada di kasarin, karana ia merasa dihargai sebagai seorang anak daripada diperlakukan sebagai musuh.

Ketiga, dengarkan kemarahan Anda sepuasnya dengan batin diri sendiri tidak boleh dilampiaskan pada anak.

Melampiaskan kemarahan pada anak bukan justru membuat bunda akan lebih baik, malah justru bunda akan lebih marah.

Ya Allah bunda, anak kita bukan musuh, dia jantung hati dan mahkota rumah tangga. Banyak orang diluar sana ingin punyak anak sampai berobat kemana-mana.

Walaupun hal ini banyak orang yang tidak sependapat. Karena kemaharan katanya harus “dilampiaskan” agar tidak terganggu pada kesehatan jiwa. Saya bisa membatahnya dengan apa yang saya amati  bahwa itu salah.

Sejauh yang saya telurusri justru ini lebih berbahaya. Mengekspresikan rasa marah disaat kita sedang emosi tinggi akan berakibat pada rasa sakit hati, ketakutan, dan menyebabkan hubungan harmonis pada anak menjadi lebih berantakan.

Keempat,  hindari kekerasan fisik dan ancaman.

Memukul anak dalam waktu bunda sedang marah mengkibatkan anak justru bukan lebih baik. Journal of psycthology 2007, dalam penelitianya mengatakan jika memukul anak berdampak buruk pada perkembanganya.

Apalagi acaman seorang ibu diwaktu marah. Masti aneh dan tidak masuk akal. Lebih baik bunda langsung mencubitnya secara langsug dan setelah itu bunda memberikan nasehat yang lebih mendidik, dan akibatnya apa jika kebiasaan nakal terus belanjut sampai usia dewasa.

Anggap saja bunda juga bagian dari masalah yang mucul, tak ada yang harus disalahkan hingga membuat bunda merasa marah. Tetap bangun hubungan rumah tangga antara ibu dan anak tetap unik.

Nah, itulah beberapa kiat yang bisa saya berikan agar kita semua tetap tampil bak bidadari, dan tidak berubah menjadi nenek sihir yang suka mengutuk anak.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here