Cara Bijak Ajak Anak Kembali Berprestasi

Cara Bijak Ajak Anak Kembali Berprestasi

Siapa yang tidak menginginkan anaknya berprestasi, semua orang tua mengharapkan hal demikian. Tapi bagaimana jika nilai sekolahnya turun, semua mata pelajarannya rendah, termasuk matematikanya yang menjadi pelajaran kesukaannya. Lantas siapa yang harus kita salahkan? Anak, orang tua atau guru?

Penyebab turunnya prestasi anak bukanlah semata-mata dari sang anak, ada banyak faktor yang menyebabkan prestasi anak terkadang turun drastis, bisa saja karena kondisi kesehatannya, guru monoton yang kurang kreatif, bahkan tidak adanya pengawasan serta kontrol yang baik dari orang tuanya.

Hal ini dialami oleh Ali Topan anak saya, aku lihat tubuhnya baik-baik saja, berangkat sekolah seperti biasanya dan kegiatannya di rumah yang mungkin agak berbeda. Semenjak dia kelas V SD, dia lebih suka belajar di dalam kamar dibandingkan di halaman luar bersama kami sekeluarga, hal itulah yang membuat aku sebagai ibunya mulai curiga.

Semenjak penerimaan rapor terakhir, memang menjadi perhatian khusus saya sebagai ibu, walaupun waktu itu aku sedikit kecewa, pengen marah, tapi tidak tega. Baru kali ini ia sungguh tertinggal jauh dari teman-teman. Aku bermaksud bertanya tapi di sekolah bukan waktu yang tepat.

Mungkin kejadian itu tidaklah bisa dirubah. Hanya bisa disesali dan dievaluasi di dalam keluarga, mungkin saja terjadi sesuatu yang membuat Ali tidak lagi berprestasi, Dan tugas ibu adalah mengembalikannya kembali kepada yang semula. menjadi anak yang selalu aktif dan terampil di depan teman-temannya sekolahnya.

Dan saya bilang sama ayahnya bahwa kejadian ini tidak semua kesalahan Ali Topan, sehingga  harus disalahkan, dia masih belum mengerti apa-apa. “Yah jangan salahkan Ali, mungkin saja ada sesuatu yang membuat ia tidak lagi berprestasi, kita harus tahu penyebabnya, bisa saja kita sendiri yang kurang perhatian padanya, sehingga mata pelajaran sekolahnya rendah,” ungkapku pada ayahnya, sebab saya yakin jika ayah marah padanya justru bisa merusak mental belajarnya.

Pada akhirnya setelah sekian bulan saya telusuri, Ali Topan ternyata mengalami kecanduan main Game online secara diam-diam di kamar. Jelas ini efek karena saya yang memberikan dia Hp, jadi sekarang waktu belajarnya dihabiskan dengan bermain. Kedua, efek dari  main game pun jadi mengakibatkan kondisi kesehatannya menurun. Dua kendala tersebut yang selama ini ia alami dan jauh dari kotrol saya sebagai ibunya.

Tapi saya sebagai ibunya tentu tidak mau dikalahkan dengan game online, yang menurutnya lebih menarik dibanding pelajarannya, tentunya saya harus lebih dekat kembali bersamanya. Kembali mengajaknya berkumpul di ruang tengah, sembari bercerita perihal pahlawan pembela keadilan dalam cerita kartun yang sekarang menjadi kesukaannya, Naruto.

Saya bertanya pada ayahnya, dan Ali pun sedang berada di samping ayahnya. Sehabis makan malam, “Kenapa ya kok tidak ada lagi ksatria yang menjadi pahlawan dalam rumah tangga kita ya pa ? tanyaku pada ayahnya. Ayahnya pun menjawab, “Ksatria kebanggan keluarga sudah males paling ma.”

Dengan singgungan yang seperti itu ternyata ia paham dan mengerti jika yang dimaksud adalah dirinya, saya pun melanjutkan obrolan dengan ayahnya. Bercerita perihal keluarga yang sudah menua yang hanya bisa berharap kelak ada seorang pangeran yang bisa menolongnya. “Berati kesatria harus rajin belajar dong ma,” ungkap ayahnya. Dan ia semakin mengerti dengan kata afirmasi tersebut.

Semenjak kejadian itu, Ali Topan rajin belajar kembali bersama keluarga, tinggal saya fokus pada pola makan dan menjaga kesehatannya. Dari pelajaran ini saya mendapatkan banyak pelajaran yang luar biasa, ternyata mendidik anak tidak harus dengan menyalahkan anak sebagai sumber kesalahan, terkadang kesalahan itu sendiri berawal dari kurangnya perhatian orang tua.

Untuk membuat Ali Topan kembali berprestasi. Selain mendekatinya dengan halus, saya juga perlu mengatur jadwal jam belajarnya, tak lupa pula saya memperhatikan pola kesehatannya yang selama ini sudah menurun. Untuk itu saya selalu memberikannya susu segar di setiap pagi serta madu untuk membantu meningkatkan stamina dan kecerdasan otaknya.

Sebab kesehatan pada anak yang kita sayangi adalah kunci utama menuju prestasi. Alhamdulillah saat ini Ali kembali menjadi anak yang berprestasi di kelasnya walaupun hanya ranking kedua. Tapi saya bangga sebagai ibu bisa merawatnya dengan baik, dan mendidiknya pula pada jalan yang baik.

Comments

Close Menu