Cintaku Pada Suamiku Tak Pernah Berakhir

Cintaku Pada Suamiku Tak Pernah Berakhir

Entahlah aku sangat suka sekali seni rupa. Kadang bisa seharian hanya menghabiskan waktu ketika ada pameran seni rupa. Memang hanya sebatas menjadi penikmat dan mendalami apa makna dari seni yang sebenarnya, itu saja sudah buatku bahagia. Itulah alasan kenapa aku memilih kerja di Jogja daripada Filipina.

Jika boleh berpendapat, bahwa seni rupa adalah sebagian dari separuh nafasku, aku pengagum berat seniman-seniman hebat yang dilahirkan dari bangsaku sendiri, Indonesia. Lihat saja, seisi rumahku penuh dengan gambar yang begitu indah.

Tak khayal jika do’aku kelak adalah mendapatkan pasangan yang darahnya mengalir jiwa dari seorang seniman seni rupa. Aku yakin jika seorang seniman akan membuatku menjadi semakin bermakna. Romantis, diperlakukan manis, dan tentu menjadi bintang inspirasinya.

Bagiku harta bukan tujuan hidup, tapi hidup adalah bermakna di mata suamiku sendiri, dan itu hanya ada di dalam diri seorang seniman.

“Icha kapan kamu akan menikah, mama sudah pengen punya cucu, “ ungkap ibuku sembari mencuci piring, selepas aku sekeluarga makan malam.

Saat itu pula aku membayangkan seorang anak lelaki yang kelak menjadi seniman hebat dan berbakat. Tentu aku senang sebagai ibunya.

Tapi dengan pertanyaan di atas, ada makna lain yang membuat aku merasa sangat pesimis. “Tidak mungkin aku bisa mendapatkan suami yang mahir dalam seni rupa,” gumamku dalam hati. “Pasrah”  mungkin menjadi kata yang pas, akhirnya aku pun memutuskan mau menikah dengan siapa saja asalkan dia mau bertanggung jawab, daripada pertanyaan ibu terus saja mengintaiku.

“ Iya Ma, Icha mau menikah, tapi sama siapa?”

“Iya cari toh, kurang apa coba kamu, cantik, putih dan baik lagi,” balas ibuku

“Hemm..siapa lagi yang mau memuji jika tidak ibunya sendiri, “ ungkap ayahku di kursi ruangan tengah, sembari bercanda.

“Betul ayah, tapi Icha Mau fokus kerja dulu Ma, pasangan nyusul siapa tau ketemu di jalan,” jawabku asal.

Benar adanya, di saat jam kerja aku tak sengaja membuka hp ternyata ada info jika hari ini ada pameran seni rupa di TBY (Taman Budaya Yogyakarta). Jangan tanya aku datang apa tidak, yang jelas aku pasti datang, apalagi tema yang diusung dari pemeran ini adalah “Perempuan dan masa depan kesenian.”

Sekitar pukul 07:00 WIB aku sampai lokasi, dari jarak 300 meter pandangan mataku yang agak kabur itu, aku terpukau dengan salah satu karya yang langsung membuat aku tak mau beranjak jauh, menyentuhnya dan merabanya sembari memejamkan mata, menikmati apa maksudnya.

Aku buka mataku sekali lagi dan memejamkan lagi, betul adanya aku terharu dan menikmatinya, serasa lukisannya sangat aku banget, serasa seperti jodoh yang dipertemukan di selasar waktu tanpa sengaja.

Aku tentu sangat penasaran dengan orang yang membuat karya luar biasa ini, tak ada nama dalam lukisannya itu, kecuali hanya secarik oretan tanggan yang aku tak mengerti tapi merasa dekat di hati.

“Mas, ini karya seni rupa siapa ya?” tanyaku pada salah satu panitia yang menjaga tegap di sampingku.

“Itu mbak orangnya yang sedang diwawancara, dekat pintu keluar,” katanya.

Akhirnya aku bergegas menghampirinya, ternyata tidak hanya aku yang suka dengan karya beliau. Aku pun akhirnya memilih menunggu sampai ia selesai diwawancara, sehabis semuanya selesai, giliranku memperkenalkan diri.

“Kenalkan mas, namaku Icha, aku suka dengan karya mas.”

“Terima kasih mbak Icha, nama saya Dahina Bimanti.”

“Wow keren sekali namanya, seperti karya tulisannya, btw nama panggilannya siapa ya?” tanyaku kembali.

“Pasti bingung mau manggil saya apa ya, karena terlalu sulit dipecah belah bukan? Teman-teman saya biasa manggil saya Bimo,” katanya.

“Boleh saya minta kartu nama sampean mas Bimo, atau nomor yang bisa dihubungi,” kataku.

“Ada, di situ langsung sekalian dengan nomor saya mbak Icha.”

“Terima kasih mas Bimo.”

Dari situ, pada akhirnya aku sering ngobrol dan tanya-tanya lewat email tentang seni rupa pada mas Bimo dan dengan senang hati ia mau balas emailku.  Sampai pada suatu ketika Mas Bimo mengajakku ketemu. Aku tak percaya itu, aku masih bertanya-tanya apakah ia benar mengajakku.

“Mas tidak salah kirim chat kan?” tanyaku.

“Tidak, aku serius, bisa tidak nanti malam ” balasnya.

Aku langsung mengiyakan ajakannya, bagiku ini kesempatan untuk bisa ngobrolin seni rupa. Tapi sesampainya di sana setelah aku bertanya banyak hal, giliran mas Bimo yang bertanya sama aku dengan pertanyaan yang tak bisa aku jawab dengan kata-kata.

“Apakah Icha mau menjadi istriku?”

Masih dalam kebisuan dan kebingungan, tiba-tiba ia langsung memasangkan cincin tunangan tanpa persetujuanku, semakin membuat aku terharu. Dan lagi-lagi ia berkata manis yang bisa membuatku mengucurkan air mata tak percaya.

“Selain cincin yang kubawakan padamu, aku membawakanmu oretan bertinta cinta yang bergambar wajahmu tanpa sekalipun aku melihat fotomu, kecuali bermodal ingatan, pada pertemuan kita waktu dulu di pameran seniku.”

“Tolong katakan iya, kamu mau menikah denganku Icha.”

Waktu itu rasa tidak percaya masih menyelimuti segenap ragaku dan aku hanya mengangguk mengiyakan, hingga akhirnya kita menikah. Punya anak yang bernama Abi Kusuma yang akan menggantikan ayahnya sebagai seniman berbakat.

Aku pun percaya bisa menjadikan dia anak hebat, dan Abi harus tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat, sebab itu aku selalu memberikannya suplemen anak dan madu agar tumbuh kembangnya selalu bagus.

Dengan memberikan kualitas hidup yang sehat dan mengingat kenangan pertemuan bersama suami sebelum menikah membuat hidup terasa lebih menarik dan tak akan mengingkari untuk saling pisah hingga merusak rumah tangga.

 

*Icha – Pwt*

Comments

Close Menu