Dear Mamah LDR-ers, You’ll Never Walk Alone

Dear Mamah LDR-ers, You’ll Never Walk Alone

Masih selalu dan selalu merasaan perasaan seperti ini di setiap hari-hari keberangkatan suami kembali ke perantauannya. Rasa seperti separuh hati kita diambil paksa dari tempatnya, bolong, seperti akar yang tercerabut dari tanah, tak berenergi, awang-awangen membayangkan pertempuran 30 hari ke depan yang akan saya hadapi seorang diri, lemah, letih, lesu, mbrambang, mata berkunang-kunang… *Anda anemia? Minum sabongion

Dan masih selalu dan selalu saja baper setiap kali membaca-baca tulisan bertemakan “makan gak makan asal ngumpul” alias LDR-an.

Keluarga adalah harta paling berharga. Kesempatan membersamai dan melihat tumbuh kembang anak-anak adalah emas, priceless, tak terganti dengan materi. Ayok segera tinggalkan kehidupan gak sehat semacam ini!!

Duuuhhh… rasanya langsung ingin telepon si bapak di seberang dan bilang “Wis Yah, resign sekarang juga, tanpa tapi dan nanti! Pilih mana, kerjaan atau keluarga? Aku siap kok makan lauk garam.” Pret! (Dan ini yang berkali-kali saya lakukan tanpa hasil)

Untunglah bapak-bapak dikaruniai Tuhan akal sehat dan logika yang lebih panjaaang dibandingkan ibu-ibu. Alhasil dorongan emosi ingin resign yang meledak-ledak sesaat itu agak bisa teredam. Apa jadinya jika si bapak juga menurutkan emosinya? Bakar kapal tanpa persiapan apapun? Bubrah dunia persilatan. Beneran siap makan berlaukkan ndog uyah? Darah tinggi iya.

Salah satu yang terberat dalam menjalani LDR menurut saya adalah ketiadaan teman bisik-bisik, glenik-glenik, kasak-kusuk dan sebangsanya. Rekan curcol yang akan berusaha menyabar-nyabarkan diri mendengar celoteh tak penting kita, seremeh apapun temanya. Misal sekedar ngomongin “Kenapa sih guguk sebelah itu namanya Zaki? Gak ada nama lain apa?” Atau “Coba buah kersen itu segede apel, kan marem makannya.” Atau  “Tadi aku nemu ciplukan di tukang sayur, ya ampun hari gini masih ada ya yang jualan itu.”

Bisa sih percakapan-percakapan itu dilakukan via whatsap atau bbm, cuma kok rasanya kurang rumpik gitu. Kalau via tulisan, kita kan gak bisa menunjukkan ekspresi muka yang ala-ala tante Feni Rose itu, beda dengan ngobrol face to face. Lebih ekspresif dan powerfull. Penting ya? Wooo ya penting sekali.

Ingat!! wanita itu butuh mengeluarkan 20 ribu kata per harinya untuk bisa bahagia. Jadi kalau ada ibu-ibu doyan curcol, biasa aja say, gak perlu dinyinyiri. Semoga dapat pahala karena telah berusaha menahan sebal sepenuh jiwa raga demi kebahagiaan mereka, eh… kita.

Udah tau LDR itu gak asyik, kenapa juga masih ada mamah-mamah yang mau saja LDR-an. Egois! Mentingin materi! Duit melulu dipikirin! Gak eman sama anak-anak!

Oke. Coba sekarang pejamkan mata anda dan bayangkan apa jadinya jika mama-mama bersuamikan tentara, pelaut, penambang dan yang seprofesi itu menuntut untuk tidak mau dimadu eh… di LDR-i maksudnya. “Udah Pak, resign aja, jual-jual bakso atau nasi kucing kan bisa. Biar gak perlu pisah-pisah lagi kita.” Berbondong-bondonglah para bapak itu resign dari tempat mereka bekerja puluhan tahun.

Alih profesi menjadi dosen, enterpreuner, motivator, pedagang. Pokoknya asal bukan profesi yang harus jauh-jauh dari keluarga. Mungkin ada beberapa yang kemudian menjadi pengangguran, stress, depresi karena tak jua memperoleh pekerjaan sesuai keinginannya. Dan lama-kelamaan musnahlah profesi-profesi pemicu LDR dari muka bumi. Tak ada yang mau susah-susah keluar masuk pedalaman mengeksplorasi kekayaan tambang bangsa ini. Tak ada yang sudi menjadi tentara menjaga batas negara di perbatasan dan sebagainya.

Lebay ya saya? Haha biariin. Menghibur diri sendiri. Itulah kenapa kondisi LDR itu adalah suatu keniscayaan, bukan pilihan.

Kenapa tidak kita dukung saja mamah-mamah LDR-ers itu untuk tetap survive, semangat dan tetap riang gembira dalan menjalankan battle mereka, alih-alih dipameri nikmatnya hidup “normal”, bahagianya ketunggon suami, idealnya mengasuh anak bersama-sama dan sebagainya.

Ah sudahlah, bawaan baper ini…

Sebagai mamah-mamah yang hampir 6 tahun menjalani LDR-an dengan penuh drama dan linangan air mata, Saya punya beberapa tips amatiran yang bisa diterapkan di dunia per-LDR-an ini yang mungkin bisa dicoba

1. Mandiri. Kuasailah ilmu-ilmu dasar LDR untuk kaum ibu seperti menyetir sambil mangku bayi plus menyusui, masang tabung gas ijo tanpa rasa horor, berburu tikus yang kadang suka ngumpet di bawah kompor gas, mompa ban sepeda sekalian benerin rantai sepeda bocah yang sering copot, main gitar buat gegalauan, ngecat tembok rumah yang penuh coretan, benerin genteng bocor, menanam padi di sawah dan sebagainya.

2. Kurangi hobi mendengarkan  lagu-lagu melow, baca novel bergenre melankolis-romantis atau nonton drama korea wa india yang ceritanya tentang suami-suami idaman dan pernikahan bahagia macam Fitri dan Farel (woy ambil contohnya jadul amat Buk).

3. Simpan nomor-nomor penting yang sekiranya bakal kita butuhkan saat hidup sendiri seperti rumah sakit, satpam kompleks, taksi online, delivery makanan, tukang galon, tukang ledeng hingga tukang sedot wc. Jangan lupa, jalin keakraban dengan tetangga dekat. Karena merekalah tempat meminta pertolongan pertama kali.

4. Ajari anak-anak untuk menghadapi situasi darurat saat tak ada orang dewasa lain di rumah. Siapa yang harus dihubungi pertama kali, apa yang harus dilakukan, bagaimana caranya dsb.

5. Jangan panikan. Berusahalah berpikir dengan logis sekalipun kita ini makhluk yang katanya hobi menangis.

6. Komunikasi. Usahakan tiap hari ada beberapa jam sesi telpon dan curhat tentang apa saja yang terjadi hari ini. Pastikan saat kita meluapkan emosi via telpon, si bapak di sana gak ketiduran. Terimakasih banyak kepada penemu-penemu teknologi video call, facetime, skype dkk yang sangat memudahkan hidup kaum ldr-ers. Hamdalah kita LDR an di masa ini. Bayangkan kalau kita hidup LDR di jaman Rhoma dan Ani berjaya, “Cukup Ani! Semua ini sudah t e r   l a   l u…

7. Dukung suami dalam menjalani pekerjaannya. Jangan dirongrong dengan berondongan keluh kesah dan suruhan pulang-pulang melulu. Saat istri rusuh dan uring-uringan, bapak yang di sana juga jadi gak tenang dengan pekerjaan. Alhasil waktu pulang tertunda gegara deadline gak tercapai. (Nulis tips emang gampang, prakteknya yang susyah).

8. Selalu libatkan bapak dalam apapun pengambilan keputusan karena bapak tetaplah kepala keluarga yang harus kita hargai dan junjung tinggi.

9. Diskusikan tentang cara mengasuh anak yang cocok untuk keluarga kita sekalipun si bapak gak tiap hari mendampingi, agar anak tetap tak kehilangan sosok bapaknya.

10. Pasrah.

Kadang para mama LDR butuh meluapkan emosi dengan menangis. It’s oke mam. mewek itu hanyalah salah satu cara meluapkan emosi sesaat selain jajan cilok. Tapi setelah tangismu reda, bangkitlah dan carilah hikmah di balik situasi ini

Dan terakhir, sesungguhnya mamah-mamah itu tak pernah butuh nasihat, solusi atau ceramah panjang lebar tentang pertempurannya. Mereka lebih butuh waktu, kuping, dan empati dari lingkungannya. Hal yang saat ini cukup sulit didapatkan karena entah kenapa banyak orang saat ini yang lebih suka menjudge, menilai dari luar dan merasa dirinya lebih menderita. Efek sosmed, kebanyakan nonton drama turki atau semua ini salah jokowi? Entahlah…

Sebagai penutup, ada quote yang sepertinya  cukup  menenangkan. “Jangan minta Allah untuk memudahkan hidupmu. Tapi mintalah Dia untuk membuatmu jadi orang yang lebih kuat.”

Mintalah Dia untuk menguatkan bahumu lebih daripada meringankan bebanmu. Mintalah Dia untuk menguatkan kakimu dalam melangkah, lebih daripada memudahkan langkahmu.

Semangat Mama!! You’ll never walk alone!!

Ditulis oleh: Yoanita Astrid,

Comments

Yoanita Astrid

Ibu tiga anak. Tinggal di Jogja.
Close Menu