Di Masa Kecil, Biarkan Anak Menjelajahi Semua Perasaannya

0
75
Ilustrasi

Minggu lalu saya menghabiskan akhir pekan bersama anak di sebuah pusat perbelanjaan. Tentu saja istri saya ikut. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Kami jalan-jalan menyusuri satu lokasi ke lokasi lain. dari lantai paling atas lalu turun lagi. Dan melakukan hal-hal umum sebagaimana pengunjung lain yang tengah menghabiskan waktu bersama keluarga.

Tidak ada momen spesial sampai ketika anak mendadak tantrum, karena ingin lebih lama bermain padahal sudah waktunya pulang. Tetapi anak itu terus ngotot dan saya ikut keras kepala. Merayunya dengan nada tegas agar mau pulang. Si istri berusaha membujuk anak tetapi tidak cukup ampuh. Jadi saya yang berusaha cukup tegas membuatnya menyerah.

Tetapi anak saya tetaplah anak yang memiliki tekad kuat. Negosiasi kami berujung buntu dan ia mulai menangis, menjerit dan tidak peduli lingkungan. Wajah mungilnya yang semula lebih banyak tertawa mendadak jadi merengut dengan air mata menggenang di pelupuk mata.

Dalam posisi ngambek seperti itu, ia duduk di lantai mengosek-osekkan kakinya. Mulai berteriak lebih kencang dan menangis. Lucu, sebenarnya. Tetapi orang di sekeliling mulai menatap heran pada kami.  Mungkin aneh melihat saya yang justru tersenyum membiarkan anak tantrum. Atau pada anak sendiri yang menjerit enggak karuan. Tetapi seperti sikap saya di awal yang cukup keras kepala, saya tidak peduli dan membiarkan saja.

Istri mulai panik tetapi saya beri isyarat untuk mendiamkan saja. Dia menatap saya sebentar kemudian menghela nafas dan mengangguk setuju untuk membiarkan anak kecil kami tantrum di lantai.

Baca juga :

Jangan Remehkan Peran dan Kasih Sayang Seorang Ayah


Suamiku Hebat Tidak Hanya Pada Istri, tapi pada Anak-Anakku Juga


Ayah, Sempurnakan Akhir Pekanmu Bersama Anak Istri

Saya merasa pembiaran semacam ini penting bagi perkembangan anak. Sebab saya ingin agar anak merasa puas dengan masa kecilnya. Bahkan tantrum merupakan hak anak yang perlu dihargai. Itu hak berekspresi yang patut dirasakan tanpa campur tangan aturan orang tua.

Bahkan jika itu terjadi di tempat publik. Biarkan saja orang lain melihat kami sebagai sebuah fenomena atau semacamnya. Saya lebih suka menjadi orang tua dengan standar sendiri, bukan orang lain. sebab kami sendiri yang paling mengerti keadaan.

Mungkin itu membuat istri saya merasa malu atau jengah. Tetapi siapa peduli, hal-hal seperti itu hanya dirasakan orang dewasa. Sebaliknya, anak tak perlu ikut menanggung perasaan orang dewasa. Itu bukan dunianya.

Dia layak berekspresi sebagai seorang bocah yang baru saja belajar untuk marah atau bahagia. Itu pembelajaran penting bagi anak seusianya. Terlalu banyak batasan akan membuat jati dirinya hilang. Mau tantrum saja masa tidak boleh. Itu pengekangan.

Anak-anak hanya sedang belajar mengolah perasaan yang berkecamuk dalam diri. Ia tengah dalam tahap mempelajari dan merasakan beberapa hal. Dengan keseimbangan antara tawa dan air mata, saya pikir perkembangan psikologinya akan jauh lebih baik ketimbang bersikap tenang sebab memendam perasaan.

Saya tak pernah malu dengan anak yang usil atau menjerit-jerit di tempat umum. Sebab itu anak saya, seberapa merepotkan dia, saya ayahnya.

Serius, itu penting bagi anak seusianya.

Sekuat tenaga, saya berusaha menciptakan masa kecil yang memuaskan baginya. Mengurangi kemungkinan dirinya merasa menyesal dan berkata bahwa masa kecilnya kurang bahagia dan semacam itulah. Masa kecil yang memuaskan akan membuatnya memiliki kenangan yang membahagiakan.

Tentu saja, takaran kebahagiaan tidak melulu soal materi. Lagi pula, saya tak mungkin mengajaknya piknik keliling dunia sebab uang saya tidak terlalu banyak. Hehe.. Membelikan anak mainan yang mahal saja terkadang masih banyak berpikir. Maka, saya coba mempriorotaskan kesehatan psikologis anak.

Sebab kenangan perih dari masa kecil akan dibawa sampai dewasa kelak. Biasanya, anak memiliki sakit hati sendiri pada orang tua. Saya ingin meminimalisir perasaaan semacam itu. Membiarkan anak merasakan segala macam perasaan sekarang juga. Biar ia puas. Biar ia tidak perlu megingat masa kecil yang penuh tekanan perasaan.

Maksud saya begini. Apabila anak senang biarkan ia tertawa sepuasnya. Apabila ia marah pada ayahnya, maka saya biarkan wajahnya marengut selama ia mau. Terkadang, saya senang juga melihat wajah balita yang ngambek, lucu. Hehe.

Sebab masa kecil adalah waktu terbaik untuk menjelajahi segala jenis perasaan dan emosi. Saya pikir, belum waktunya seorang balita terlalu banyak mengerti aturan-aturan pengungkapan perasaan seperti orang dewasa. Seperti berpura-pura tetap kalem meski sedang marah.

Perasaan membutuhkan penyaluran dan sebaiknya ia belajar mengungkapkannya dengan baik. Saya tak ingin membatasinya dengan mengatakan “Kamu engggak boleh marah sama orang tuamu, nanti jadi anak durhaka!” Atau larangan lain yang mengacu pada standar moralitas orang dewasa.

Saya ingin ia jadi gadis hebat di kemudian hari. Sanggup menghadapi dunia di depan mata. Memiliki kemampuan mengekspresikan pendapat dan keinginan pada siapa pun demi kebaikannya sendiri. Terlalu banyak kegagalan di dunia ini sebab ketidakmampuan mengungkapkan keinginan. Seperti saya yang hampir saja gagal dapat istri tercinta sebab tidak berani ngomong.

Anak saya memang seorang perempuan, tetapi saya ingin dirinya jadi perempuan yang hebat. Mungkin sehebat Kartini yang menginspirasi banyak orang. Mungkin juga seperti siapa saja yang anda anggap hebat.

Saya bangga jadi ayahnya. Saya ingin membesarkan dirinya dalam keberanian dan kepenuhan kasih sayang.

Tetapi bukan dengan cara-cara yang penuh kekangan. Melarang ini dan itu demi keamanan. Ya, mungkin ia akan terhindar dari banyak resiko. Tetapi masa kecil seperti itu akan terkenang seperti halnya penjara. Terkurung dalam batas aman tanpa merasakan berbagai pengalaman menyenangkan atau menengangkan.

Masa kecil saya sendiri penuh petualangan. Sebagai anak yang tinggal di desa, penjelajahan saya tidak jauh dari sawah, kali, atau kebun milik tetangga. Memanjat pohon, memanciang di kali atau permainan lain yang sarat fisik. Sesekali saya pulang ke rumah dengan badan belepotan terkena lumpur atau malah lecet di sana-sini akibat sikut-sikutan saat bermain di lapangan. Saya begitu senang kala pulang ke rumah dalam keadaan kotor, meski sebenarnya merepotkan ibu yang harus mencuci baju saya lebih sering. Tetapi ibu saya membiarkannya, tidak marah.

Baru saat ini ketika saya sudah jadi seorang ayah, pola asuh orang tua dulu terasa berguna bagi perkembangan saya sampai sekarang. Dan itu ingin saya terapkan pada anak saya yang masih kecil itu.

Membuatnya bebas berekspresi demi pertumbuhan fisik dan mental secara sempurna. Setiap fase tumbuh memiliki pertandanya masing-masing. Di fase saat ini, menangis dan menjerit menjadi-jadi di tempat umum adalah sebuah kewajaran belaka. Teruslah merajuk manja, nak. Ayahmu ini bangga.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here