Hangat dalam Pelukan Ibu

Hangat dalam Pelukan Ibu

Aku masuk ke sebuah halaman rumah yang tidak asing bagiku. Aku membukanya dengan pelan, bunyi pagar besi cukup nyaring untuk didengar, bahkan sangat nyaring. Suara nyaring itu mengingatkan akan kenangan masa kecilku, kenangan yang tak pernah aku lupakan. Dulu aku pernah membantingnya dengan kencang sekali, di saat ibu tak memberiku uang jajan lebih. Aku marah, aku menangis penuh air mata, aku benci ibuku, aku benci ayahku saat itu.

Aku tertahan lama di depan pintu pagar besi itu, aku kembali menangis, tiba-tiba kucuran air mata larut begitu saja. Aku menyesalinya, aku baru sadar maksud cintanya. Entah kenapa kenangan itu mulai tumbuh, mengakar kuat kembali, bagaikan orang yang lagi jatuh cinta, tapi ia tidak cukup usia untuk mencintainya. Ya begitulah cinta anak pada kedua orang tuanya. Benci tapi tidak benci seutuhnya.

“Assalamualaikum Wr. wb.” Berucap si kecil di depan pintu tua yang sudah hampir rapuh. Tak ada jawaban. Aku lihat juga langit-langit rumah yang mulai kusam penuh dengan jaring laba-laba. Bukti rumah ini tak terawat dengan baik. Kemanakah gelantungan yang dulu pernah menghiburku? Pikirku kembali. Mungkin rayap telah memakannya.

Tak ada jawaban maupun bunyi kaki yang bergegas membuka pintu. “Nenek, nek,” kembali panggil si kecil, mungkin ia sudah tidak sabar untuk mengambil tangan kanannya dan memeluk untuk sekedar melepas rindu pada neneknya. Tapi tak dipungkiri, aku yang sebenarnya perindu paling pertama pada orang tuaku sendiri, sebelum anakku menyambutnya dengan penuh kasih.

“Ibu…!!!” panggilku kembali lebih kencang dari Alisa. Aku buka pintu yang sudah sekian lama tak aku sentuh. Mungkin bisa dibilang semenjak aku menikah. Bergetar tanganku, sebenarnya aku tak berani menyentuhnya, takut beberapa kenangan kembali menjadi aku tak cukup dewasa di depan anakku sendiri. Apalagi salahku banyak sekali pada ibu dan ayahku.

Terpaksa kuberanikan diri, ternyata pintu dalam rapat sekali, tanda jika pintu rumah sedang dikunci. Pikirku, mungkin ibu lagi pergi ke pasar dan ayah ke ladang seperti biasanya.

Tapi tidak mungkin ini sudah jam 10 pagi, seperti biasanya, dulu di masa aku masih kecil, ayah biasanya sudah balik dari sawah, dan ibu sudah selesai menyiapkan sarapan pagi, apalagi hari ini akhir pekan, kita selalu bermain seharian bersama ayah dan ibu. Kenangku kembali, sambil bicara dalam hati, kemanakah ibu dan ayah, kok tidak ada di rumah?

“Ibu….!!!” lebih keras suaraku. Krek, krek dua kali aku mendengarnya, tanda bukti jika ada suara orang yang membuka pintu dalam rumah. Perasaan senang tiba-tiba datang padaku, aku sudah tak sabar, aku ingin melihat wajah di balik pintu itu.

“Siapa ya?” tanya suara dari dalam. Aku akrab sekali dengan suara itu. Tiba-tiba pintu terbuka, Alisa langsung lari dan memeluknya. “Nenek.” “Cucuku sayang.” Sambut ibuku. Aku melihat muka ibuku yang sedang memeluk anakku.

Aku kembali pada masa lalu di mana aku dipeluk di pangkuannya di saat aku lagi sedih, dan diajak bercanda supaya aku bisa bahagia.

Ibuku mengucurkan air mata haru, aku pun juga ikut tenggelam pada rasa haru itu. “Ibu,” sapaku. Kemudian aku ambil tangannya dan menciumnya. Ia juga langsung memelukku tanpa ragu, seperti dulu. Ia, ibu tetap saja sama seperti yang dulu, dia memberikan pelukan yang selalu hangat.

“Apa kabar Anakku,”? katanya sembari memelukku.

“Baik ibu,” “Irma Kangen Ibu,” tuturku kembali.

“Kamu sukses mendidik anakku, cucuku cantik dan manis seperti kamu dulu waktu kecil,” puji ibuku.

“Waduh, ada apa ini?” tiba-tiba ada suara dari dapur.

“Ini ada kejutan pa,” kata ibu pada ayahku.

“Aduh..cucuku sayang, cantiknya, wah tak kalah cantik seperti ibunya.” Puji ayahku kembali. Alisa langsung pindah dari pangkuan ibu ke kakeknya. Aku pun menyusul dan mengambil tangannya.

“Apa rahasianya ini kok Alisa bisa punya kulit putih bersih dan sehat?” tanya kakeknya.

“Cuma Irma kasih Gizidat Pa,” ungkapku.

“Apa itu Gizidat?”

“Suplemen madu anak.”

“Oh pantas, ia cerdas, dan baik pada kakek dan neneknya.”

Kutatap kembali mereka berdua yang lagi bahagia bersama Alisa. Jadi aku bisa membayangkan ulasan masa lalu dalam gambaran masa kecilku hari ini. Bagaimana ibu dan ayahku selalu hangat pada anaknya, dan nyaman di pelukannya.

Terimah kasih ibu ayah, telah menjadikan aku, suamiku, dan Alisan merasa nyaman dan hangat bersama kalian. Tak ada yang bisa aku berikan hari ini selain bakti dan kasih sayang kembali.

 

*Irma (Babel)*

Comments

Close Menu