Hanya Orangtua Bahagia yang Bisa Membesarkan Anak Bahagia. Bunda, Jangan Lupa Bahagiakan Dirimu

Hanya Orangtua Bahagia yang Bisa Membesarkan Anak Bahagia. Bunda, Jangan Lupa Bahagiakan Dirimu

Kenyataan mengatakan, semua orangtua ingin anaknya bahagia. Tapi tidak semua orangtua berhasil melakukan itu. Bahagia, tentu tidak terbatas pada kepemilikan harta, itu duniawi.

Di sebuah kota yang terkenal dengan gudeknya, terdapat satu pasangan suami istri yang memiliki satu anak. Keduanya memang masih muda dan anak mereka baru berusia lima tahun. Mereka tinggal di sebuah komplek perumahan yang nyaman. Rumah pasangan itu memiliki garasi dan tentu saja di dalamnya terdapat sebuah mobil milik mereka.

Suaminya adalah seorang pengusaha kuliner yang bisnisnya tengah menanjak dan berkembang di banyak tempat. Sementara sang istri adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta.

Sekilas pandang, keduanya adalah pasangan bahagia. Karir gemilang di usia muda adalah dambaan setiap orang. Tapi itu hanya sekilas pandang. Kita belum melihat kondisi anak tunggal mereka, Bima.

Berbeda dengan kedua orangtuanya yang super sibuk, Bima adalah seorang anak pemurung yang jarang keluar rumah. Kegiatannya hanya berputar dari sekolah ke rumah. Begitu setiap hari. Saking mmurungnya, dia kesulitan bergaul dengan orang lain.

Bukannya teman Bima yang enggan berteman dengannya, tapi sikap murung menyulitkan anak lain untuk mendekatinya. Alhasil Bima menghabiskan hari-harinya sendirian, tanpa teman.

Bima menjalani masa kecil yang tidak bahagia.

Semua itu tidak terjadi begitu saja, sebab pada dasarnya semua anak kecil itu lincah dan suka bermain. Jika anak kecil sudah semurung Bima, pasti ada beberapa kejadian yang dialaminya.

Ayah Bima bernama Lukman dan ibunya Ika. Lukman dan Ika memang sukses dalam hal pekerjaan, tapi mereka payah dalam mengasuh anak. Pola asuh mereka benar-benar buruk. Meski memberi banyak uang untuk Bima, tapi keduanya tidak mengerti cara mendidik anak kecil.

Di usia yang baru 4 tahun, Bima diajarkan untuk mandri dan tidak boleh bermanja-manja. Di rumah, Bima kerap dimarahi ayahnya saat bersikap manja atau minta digendong . Ayah Bima tak ingin menghabiskan waktu untuk bermain-main.

Hidupnya hanya diperuntukkan untuk kerajaan bisnisnya. Entah sejak kapan sang ayah sangat terobsesi dengan bisnis. Dia menjadi sangat tidak santai, maunya selalu bekerja dan menyiapkan rencana-rencana terbaru. Ayah Bima dipenjarakan pekerjaan diri sendiri hingga lupa pada keluarga.

Ibunya masih lebih baik, bagaimanapun dia seorang ibu yang melahirkan Bima. Sepulang mengajar di kampus, dia akan mengajak anaknya bicara dan bercanda. Hanya saja tidak lama. Tentu itu membuat Bima senang.

Hanya saja, Ika sangat perfeksionis. Ika sering mmelarang Bima melakukan tindakan-tindakan yang tidak ia sukai. Boleh saja begitu. Tapi Ika terlalu keras pada anaknya sendiri sehingga membuat Bima tertekan. Misalnya Ika akan sangat marah apabila Bima tidak menghabiskan makanan yang Bima ambil sendiri.

Aturan-aturan yang Ika terapkan sangat ketat membuat Bima kehilangan ruang gerak dan ruang berekspresi. Bima tidak bisa seenanknay tertawa di rumah, sebab kadang dianggap tidak sopan oleh Ika. Sungguh kaku sekali.

Mungkin Bima hanya merasakan kebahagiaan diasuh orangtua di usia satu tahun pertamanya. Selanjutnya dia mulai diabaikan orangtuanya dan ditekan aturan-aturan yang membuatnya murung.

Orangtua yang lupa cara tersenyum dan bahagia tidak akan bisa membesarkan anak yang bahagia. Dunia orang dewasa memang penuh kesibukan dan kelelahan, tapi anak tidak harus ikut merasakan konsekuensinya. Sebab dunia anak berbeda dengan dunia orang dewasa.

Bima mungkin hidup dalam kondisi enak, dia tidak akan kekurangan uang sekolah atau uang jajan. Tapi pengasuhan orangtua yang buruk membuatnya jadi pemurung. Hmm, anak kecil harus menghabiskan masa kecilnya dengan diam tanpa tertawa.

Kasihan sekali orangtua yang terlalu sibuk bekerja sampai lupa caranya tertawa. Anaknya jadi korban sikap egois mereka. Lukman dan Ika adalah pasangan yang bahagia pada mulanya, tapi sejak pekerjaan mereka menuntut banyak hal, keduanya jadi terlalu fokus bekerja sampai lupa keluarga.

Keduanya tidak bertengkar atau merasa tidak nyaman, semuanya dilupakan sebab fokus berlebihan pada kerja. Sebenarnya, mereka tidak bahagia sama sekali dengan kondisi ini. Jelas saja, korbannya si kecil Bima.

Ada satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari cerita di atas, yaitu orangtua yang tidak bahagia tidak akan bisa membesarkan anak bahagia. Sebalinya, anak hanya jadi korban rasa frustasi orangtuanya. Gara-gara pusing di tempat kerja, anaknya jadi sasaran pelampiasan marah.

Please, Bunda. Keinginan kita untuk membahagiakan anak tidak lepas dari kebahagiaan kita sendiri. Kalau orangtua selalu diliputi kegelisahan dan kesibukan bertubi-tubi, tanpa mau memberi jeda untuk anak, maka kita hanya akan membuat anak tidak bahagia.

Anak yang tidak bahagia seperti Bima, tersenyum saja tidak bisa.

Entah bagaimana masa kecil yang murung itu akan memengaruhi masa depan Bima. Dia hanya korban yang tidak dibahagiakan orangtuanya.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persembahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.