Haruskah Anak Batita Sudah Sekolah?

Haruskah Anak Batita Sudah Sekolah?

Tingkah Raihan, putra saya, pada pagi hari selalu saja menimbulkan kehebohan. Baru-baru ini, sehabis mandi ia langsung minta pakaian yang paling bagus. Ia ambil tas kecilnya yang berwarna red. (Raihan suka menyebut warna merah dengan “red”, ketularan sebuah video anak yang menyebutkan berbagai macam warna dengan bahasa inggris)

Ia ambil pulpen, crayon warna warni, kertas, buku yang selalu ia bawa sebelum tidur, kertas-kertas tak tahu juga saya kertas apa, dan tak pernah lepas dari genggaman tangannya, selalu ia bawa kemanapun Raihan pergi, yaitu; si Thomas, mainan kereta kesayangannya.

Setelah itu ia akan minta makan. “Bund, kasih Lehan (Raihan) makan Bund. Cepetan, Bund. Lehan lapar Bund,” begitu ia biasa berkata.

Setelah selesai makan, ia akan memakai sepatu atau sandal lalu berdiri di dekat pintu.

“Bund, Lehan mau sekolah Bund,” katanya.

Aduh, anak ini. Ada-ada aja. Usianya baru 2,5 tahun. Masih unyu-unyu walau hanya sekadar untuk masuk Pendidikan Anak Usia Dini.

“Mau ngapain sekolah, Rey..?” tanya saya.

“Mau bikin pesawat. Bikin bus. Bikin keleetaaaaa……,” katanya sambil nyengir. “Nanti pesawatnya Lehan kasih nama Raihan 1, Raihan 2, Raihan 3, sampai banyaaaakk Bund.”

“Raihan kan masih kecil.”

Wajahnya langsung manyun. Cemberut. “Lehan udah besal, Bundaaaaaa…”

Mendengar jawaban itu, saya cuma senyum-senyum.

***

Sekolah. Ya, sekolah menjadi topic utama bagi para Mama. Tapi apakah usia anak saya, yang baru 2,5 tahun sudah bisa masuk sekolah? Walaupun hanya di PAUD?

Kalau menurut perhitungan matematika sederhana ya, Ma. Ternyata menurut penjelasan Dr. Hj. Erna Pawitasari, Doktor pakar pendidikan islam, mengatakan bahwa anak bila mau dimasukkan PAUD usianya sekitar 4 tahun.

Kok bisa?

Jadi begini ya, Ma. Prinsipnya adalah usia. Ya, anak masuk SD itu hanya didasarkan pada usia, yaitu usianya adalah 7 tahun. Nah, bila dihitung maka untuk masuk TK A dan B membutuhkan waktu 2 tahun, yaitu pada usia 5 dan 6 tahun. Lalu masuk PAUD bisa pada usia setahun sebelumnya, yaitu 4 tahun.

Ingat ya, Ma. Usia. Bukan pada tes kemampuan baca tulis lho.

Ada juga yang bertanya, kenapa anak harus masuk ke PAUD atau TK?

Lanjutan penjelasan dari Dr. Hj. Erna Pawitasari, mengatakan bahwa usia pra-sekolah adalah masa vital dalam pembentukan karakter anak. Pada masa ini, pelajaran-pelajaran kognitif sebenarnya justru dapat menghambat perkembangan kecerdasan anak.

Anak-anak pada usia ini, katanya, memerlukan pendidikan fisik dan pembinaan karakter, bukan pendidikan kognitif. Pendidikan fisik ini yang diberikan melalui bermain.

Jadi, sebenarnya tugas utama anak di PAUD atau TK ya cuma bermain-main saja lho, Ma. Hehehe. Makanya sekolah yang paling enak itu ya pas TK, cuma main mulu. Bayangkan sekolah di SMA atau perguruan tinggi, haduuhh tugasnya selalu menumpuk. Pengalaman pribadi, hehe.

Namun sayangnya ya Ma, banyak diantara orang tua salah memahami. Banyak yang ingin anaknya pada usia tiga tahun harus sudah bisa baca tulis. Pada usia TK harus sudah pintar membaca, kalau anak tidak bisa melakukannya, rasanya malu bangeeet. Akhirnya anak selalu dituntut untuk rajin belajar. Bahkan sampai didatangkan guru les calistung!

Ini kalau menurut berita nasional bisa bikin anak stress lho, Ma. Baca aja beritanya disini.

Maka saat Raihan bilang mau sekolah, saya hanya santai saja. Biarkan saja. Keinginan anak untuk selalu belajar harus ditumbuhkan, jangan dimatikan. Biarkan anak menikmati suasana belajarnya. Asalkan itu dilakukan dengan senang hati tanpa dipaksa orang tua, maka itu baik untuknya.

Poinnya adalah yang penting happy bagi si anak. 😀

Saya tanya Raihan, “Mau sekolah dimana, Rey?”

“Di eskalaaatorrr…..” jawabnya.

Maksudnya adalah escalator. Jadi ceritanya di dekat rumah ada mall baru. Beberapa kali saya ajak Raihan ke mall, dan dia terlihat senang sekali saat naik escalator. Itu tuh, tangga yang bisa jalan itu. Keterusan, dikit-dikit si Raihan minta naik escalator. Maklum anak desa. Hehehe.

Jadi, pagi itu. Saat Raihan sudah rapi, pakai tas, dan semangat untuk sekolah. Saya hanya menggandeng tangannya. Saya bawa ia keliling kompleks sebentar, lalu saya pergi ke rumah ibu saya. Atau kadang langsung ke mall dekat rumah untuk naik escalator.

Dengan begitu, ia senang bukan main. Dan semoga semangantanya ini adalah awal mula dari kecintaan terhadap belajar, kelak saat masanya ia sudah masuk sekolah.

Agar ia mencintai ilmu pengetahuan.

.

.

Oleh: Ana Rosdiana, Mamanya Raihan.

Comments

Redaksi Tutur Mama

Persmebahan dari redaksi untuk para orang tua dimana saja. Dan kapan saja.
Close Menu