Ibu, Kamulah Tempat Terbaikku untuk Bersandar

0
204

Apa kabar ibu? Semoga kamu selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Pagi ini di saat air mata rinduku jatuh secara tiba-tiba karena ada begitu banyak masalah yang sedang kuhadapi, utamanya masalah keluarga. Sontak seluruh tubuhku mengajak mengingat dirimu yang jauh sekali terjangkau dari rumah yang sekarang aku tempati bersama keluarga kecilku.

Entah angin apa yang membawa rindu ini dan aku mengingatmu lama sekali sampai menusuk ke jantung hati. Hingga aku ingin kembali meluapkan semua yang aku rasakan dulu di saat ini.

Aku ingin mengingat ke masa lalu, terbangun di pagi hari, setelah itu ibu akan mengajakku bermain di Serayu sembari menunggu ayah yang pulang dari sawah. Setelah itu kita sarapan pagi bersama, adapun ayah seperti biasa selalu berusaha merebut perhatian Alisa kecil supaya Alisa bisa disuapin sama ayah. Tapi ibulah yang selalu menang dan menjadi penengah yang baik buat keluarga.

“Alisa disuapin secara bergantian mau ya sama ayah dan ibu.?” kata ibu padaku kala itu. Dan Aku hanya bisa mengangguk pasrah sambil berucap “Iya Bu”.

Waktu itu aku bahagia sekali di setiap waktu dalam dekapan ibu. Merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini karena telah dikandung dan menjadi bagian dari keluarga yang sangat sederhana. Meski sederhana, tapi keluargaku ini kaya dengan kasih sayang. Tidak pernah ada perasaan khawatir maupun takut untuk hidup di masa depan.

Aku pengen sekali menjadi seperti ibu, penuh perhatian pada anak-anaknya dan bisa bersikap bijaksana pada setiap masalah yang sedang dihadapi keluarga. Mungkin itulah alasan kenapa ayah memilih ibu, berharap bisa hidup bahagia tanpa masalah sampai hari ini. Dan kini harapan ayah terbukti, meskipun ada persoalan sebesar apapun, keluargaku selalu bisa melewatinya.

Derai air mata menyambut pagi buta di mana aku telah membuat kecewa orang yang aku cinta. Aku penuh curiga pada suamiku, aku merasa ia menyembunyikan sesuatu dariku, hingga aku memaksa untuk tahu, tapi ternyata itu berujung pada pertikaian yang membuat anakku terbangun dan tertegun hingga ia menangis.

Kenapa aku tak bisa seperti ibu? Aku mau belajar sama ibu tentang bagaimana mencintai  rumah tangga, penuh keterbukaan, dan kasih sayang, hingga anak-anaknya menjadi anak yang selalu bisa bersyukur telah dicintai dan dikasihi.

Tapi persoalan yang Alisa hadapi saat ini adalah persoalan hati, persoalan yang biasanya selalu dirasakan setiap perempuan di dunia. Namun begitu, kenapa aku tidak pernah melihat muka ibu berkerut atau menangis tersedu-sedu semisal ayah bermasalah, terkecuali tangisan yang hadir di saat ayah akan pergi jauh dan ibu biasanya selalu berkata, “Ibu khawatir, ibu tidak tenang jika ayah tidak datang sesuai waktu yang telah dijanjikan.”

Begitulah kata-kata yang disampaikan ibu kepada ayah. Ibu yang aku tahu juga selalu tak pernah berhenti berdoa saat ayah meninggalkan rumah selama beberapa hari.

Ibu aku ingin bersandar pada dirimu, aku tak kuat dengan semua cobaan yang sedang menimpaku ini. Jujur aku sangat takut jika suamiku menikah lagi atau bersama dengan perempuan lain dan lebih perhatian padanya. Aku hanya ingin seperti ibu, hanya dicintai oleh satu orang lelaki dengan penuh kasih sayang seperti ayah.

Family, Parents, Parents And Children, Father, Dad, Mom
Ilustrasi (pixabay.com)

Dengan tekad yang kuat, aku pun menulis surat di atas meja kamar suamiku, aku harap ia bisa membacanya sehabis pulang dari kantor. Setelah itu aku pergi keluar bersama anakku, Sekedar belanja semua perlengkapan rumah tangga mulai dari susu sampai suplemennya.

“Mas, Maafkan jika aku telah membuat kamu marah hari ini, semua kejadian tadi pagi hanya ketakutanku saja, aku cuma tak mau kehilangan kamu. Aku sungguh menyesal, dari lubuk hatiku yang terdalam. Apapun yang kukatakan, percayalah aku selalu mencintaimu. Dirimu adalah hal terbaik yang dikirimkan Tuhan untukku. Jangan pernah menyerah karena aku akan selalu ada di sampingmu,” demikian isi surat tersebut.

Sekitar pukul 17.30 wib aku masih berada di lokasi belanja, tiba-tiba saja ponselku berdering dua kali, aku buka ternyata pesan dari mas Ali.

“Ma belanja di mana?” tanyanya.

“Papa aja yang jemput ya,” isi pesan kedua dari suamiki.

“Tempat biasa pa, di SuperMini mart,” balasku cepat

Tiga puluh menit kemudian, hpku kembali berdering, ternyata suamiku sudah terlihat di depan untuk memjemputku dan anakku.

“Papa sudah di parkiran ma, kalau sudah selesai langsung ke sini ya,” tulisnya.

“Oke pah, tungguin ya,” jawabku sambil tersenyum sumringah.

Dalam perjalanan pulang, anakku Intan terus saja asyik bermain dan bercanda bersama ayahnya, sementara aku masih diam dan bicara seperlunya saja dengan mas Ali bahkan sampai makan malam selesai. Sedangkan mas Ali langsung beranjak ke ruangan TV untuk menonton bola. Melihat situasi ini, aku akhirnya langsung menyusul Intan ke kamar dan tidur bersama dia.

Hari pun berganti, semburat fajar yang menyembul dari tirai yang terbuka sedikit di kamar membuatku terbangun.  Tetapi betapa terkejutnya aku di pagi yang masih buta ini, aku tak melihat Intan di sampingku, aku langsung bergegas dari ranjang dan membuka pintu kamar. Jantug ini serasa mau copot saat mendengar suara. ‘Darrr, daarrr’, tiba-tiba saja ada balon dan terompet yang berbunyi dengan nyaring.

Happy Birthday Mama..!!!” ya ampun ternyata aku baru ingat kalau hari ini adalah hari lahirku. Suami dan anakku langsung memeluk bergantian, sambil berbisik di kupingku ia berkata Maafin papa juga ya sayang. Pesan yang ada di hp kemarin itu adalah dari perempuan penjual kue yang aku pesan, dan ini buktinya,

Betapa malunya aku, hingga seharian kemarin menangis karena cemburu tak berdasar, setelah itu aku langsung peluk erat-erat suamiku. Maafin mama juga papa, mama sayang banget sama kalian.

Perasaan gundah yang aku rasakan kemarin spontan berubah dengan rasa haru dan bahagia, ternyata apa yang aku khawatirkan tak seperti dugaanku. Aku bersyukur Tuhan masih menjaga keluargaku. Ingatan akan kedua orangtua, ayah dan ibuku kembali melintas. Bayangan akan wajah mereka menari-nari di benakku. Dengan kondisi yang aku alami sekarang, aku yakin Ibu pasti bahagia, demikian pula dengan ayah.

Dalam hati aku mengucap syukur yang tiada henti, semua yang aku alami ini tentu tak lepas dari doa mereka. Terima kasih ya Allah telah diberikan orangtua yang penuh kasih sayang, pastinya karena doa merekalah kehidupan aku dan keluarga terasa jadi menyenangkan dan bahagia.

Buat para pembaca yang membaca tulisan ini, aku hanya ingin berpesan untuk selalu mengasihi dan menyayangi suami karena kasih sayang serta perhatian sang istri lah yang akan membawa suami pada jalan kesuksesan. Jangan lupa berikan dukungan untuk suami yang engkau cintai. Jangan pernah meninggalkan dia ketika posisinya sedang terpuruk, tunjukan kesetiaan dengan cara menemaninya serta berjuang untuk keluarga kecilmu.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here