Ibu Karir Kewalahan Ngurus Anak

Ibu Karir Kewalahan Ngurus Anak

Saya seringkali memberikan uang saku lebih pada anak saya agar ia bisa beli sarapan dan makan siang di sekolah. Jujur, di pagi hari saya tidak sempat untuk mengurusi anak, waktu hanya dihabiskan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, ngepel lantai, menyapu halaman dan bermacam tugas rumah tangga lainnya. Setelah itu saya bekerja di kantor.. Ya sehari-hari saya memang seorang wanita karir sekaligus ibu rumah tangga, saya bekerja di kantor semata-mata karena untuk menambah pemasukan dalam rumah tangga.

Oleh sebab itu keluarga kami terbiasa dengan sarapan dan makan siang di luar. Jarang sekali kita semeja kecuali di akhir pekan, itupun jika kami tidak bepergian ke luar kota untuk liburan. Hal ini sudah berlangsung sangat lama, semenjak anak saya Jailani masuk  PAUD, sampai sekarang ia sudah kelas III Sekolah Dasar (SD).

Selama ini saya meyakini jika anak saya  Jailani dengan uang saku yang saya beri digunakan untuk  membeli sarapan ataupun makan siang di sekolahnya. Hingga saya tidak khawatir dengan kesehatannya. Dari banyaknya kesibukan itu saya jarang sekali mengontrol apakah ia benar membeli sarapan atau makan siang, apalagi sampai tahu menu yang dibeli sehat apa tidak. Karena kami memang jarang sekali berkomunikasi.

Pada akhirya ia jatuh sakit, berat badanya turun, badanya demam, disertai dengan kulitnya yang mulai kering, timbul bintik atau bisul kemerahan terutama pada pipinya, disertai dengan alergi, batuk, pilek dan asma.

Jangan tanya panik, sebagai orang tua tentunya panik dan takut. Pada akhirnya saya bawa anak saya ke puskesmas terdekat. Hanya itu yang saya bisa lakukan pada waktu itu. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosa Jailani menderita penyakit saluran pencernaan akibat pola makan yang salah.

“Apakah anak ibu waktu makannya teratur ?” tanya dokter. Pada saat itu saya tidak bisa menjawabnya, sebab memang saya tidak tau, apakah anak saya makan di sekolah atau tidak. Saya jawab saja iya.

“Apakah anak ibu sering makan-makanan yang berminyak atau sejenis junk food?” tanyanya kembali. Aku semakin bingung  mau menjawab apa, sebab saya memang tidak tahu pola makannya selama ini, aku jawab kurang tau dan tidak terlalu.

Oleh sebab itu dokter menyarankan pada saya untuk menjaga anak saya dari pola makannya, sebab ia kekurangan nutrisi, kalsium dan imun tubuh sehingga menyebabkan ia jatuh sakit. Saya menjalankan saran dokter, kami pun pulang ke rumah dan memilih untuk dirawat jalan di rumah.

Esok harinya, Saya memasak sayuran, sedikit daging, susu, dan madu agar ia cepat pulih dari penyakit saluran pencernaan dan berharap nafsu maknanya kembali datang. Hal mengejutkan ternyata Jailani tidak mau dengan hidangan itu semua, ia justru meminta sosis bakar dan minuman berwarna.  Aku bilang sama Jai, jika dokter melarangnya untuk makan makanan sejenis itu. Tapi ia tidak peduli “pokoknya Jai pengen makan sosis, jika tidak tempura goreng,” rengeknya.

Aku mengajaknya bicara baik-baik, menjelaskan perihal penyakit yang sedang ia alami, memintanya mengkonsumsi makanan yang sehat. Akhirnya setelah dibujuk dengan berbagai cara, ia mau juga makan walaupun tidak terlalu banyak. Ternyata selama ini memang anak saya tidak biasa dengan makanan yang bergizi di pagi hari, dan siang harinya ia lebih memilih makan cilok pedas atau siomay kacang.

Terkadang saya berpikir keras, apakah seorang ibu hanya sekedar memberikan uang, dan ia dengan bebas melakukan apapun tanpa harus di kontrol? Hingga akibatnya anak menjadi kurang perhatian akibat ibunya yang cenderung sibuk sebagai wanita karier.

Siapa yang harus diprioritaskan dalam hal ini, anak atau karir? Sungguh aku baru menyadari hal ini sekarang, aku putuskan untuk memilih. Saat menghadapi kenyataan seperti ini betapa sakitnya hati, melihat anak yang tergeletak di kasur, berbaring dengan perasaan merintih, tak banyak asupan gizi yang masuk sebab pencernaannya terganggu akibat pola makan yang salah.

Saya tetap memilih menjadi ibu yang baik, dan anak sebagai tujuan hidup yang harus diutamakan. Tapi saya juga tetap bekerja agar bisa mencukupi kehidupan sehari-harinya.

Alhamdulillah dengan membiasakan makanan yang sehat dan bergizi, ia kembali pulih dan saya pada akhirnya selalu waspada agar ia bisa menjadi anak yang menjaga kesehatanya, dan tetap lahap makan sebagaimana anjuran kesehatan. 4 sehat 5 sempurna (susu+madu+sayur+daging+buah).

Comments

Close Menu