Ini Penyebab Rusaknya Hubungan Suami Istri, Bunda Perlu Tahu

0
129
Ilustrasi
Ilustrasi

Sebenarnya lelaki hanya butuh satu hal supaya ia tetap menjadi lelaki yang setia dan bertanggung jawab pada istrinya. Perhatian dari istri, tidak ditekan oleh istri, dan istri bisa menjadi tempat yang nyaman di dalam setiap keadaan. Yakin jika itu terlaksana, pasti suami akan selalu merindukan rumah, serta anak-anaknya.

Jika hal itu bisa dimengerti oleh seorang istri, percayalah itu adalah cara yang paling mujarab untuk bisa menghindari perselingkuhan yang berujung pada kehancuran. Ini fakta di lapangan dan saya penting untuk bercerita soal ini, sebab ini saya alami sendiri di dalam rumah tangga saya.

Semoga dapat menjadi pelajaran buat setiap bunda di seluruh dunia dan yang membaca tulisan ini.

Tidak selamanya perempuan selalu benar. Bagi saya kebenaran itu adalah saling mengerti antara satu sama lainnya. Jika istri nyaman, maka suami pun harus merasa nyaman juga. Jangan jadikan kehidupan rumah tangga bunda berantakan karena sikap otoriter yang ditunjukkan oleh istri.

Waktu itu, saya orang yang paling otoriter dalam urusan rumah tangga, banyak orang bilang, suami saya kategori orang yang takut istri sebab jika dimarahi saya pasti cuma diam saja. Adapun semua kebutuhan dan aturan rumah, saya yang harus mengatur dan  apabila saya minta sesuatu harus pula terpenuhi.

Saya berpikir ini akan baik-baik saja di dalam rumah tangga saya, sebab saya merasa paling benar dan tahu menjaga hubungan, ternyata itu salah.

Tapi ternyata diam-diam suami saya bermain dengan wanita lain, bahkan sampir saja menikahinya. Saya tentu merasa kaget ketika waktu itu tanpa sengaja memegang hp suami di kamar dan kebetulan berdering nyaring di saat saya bersih-bersih. Kala itu suami saya sedang mandi karena persiapan pergi ke kantor di pagi hari.

“Mas, Kapan kita ketemu, aku sudah kangen mas, kenapa dua hari ini mas tidak nemuin aku?” pesan itu secara jelas terlihat di layar hp layar suami saya. Tak ada nama dalam pesan itu, tapi saya mencatat nomernya.

Tak lama kemudian berbunyi lagi pesan chat dan tertulis di layar “Mas, aku itu kangen sama kamu, aku gak kuat kalau kamu selalu bersikap seperti ini, hanya diam dan tak pernah memberi kabar,” pesan kedua diakhiri dengan emoticon sedih dan menangis.

Yang terjadi pada saya? Tentu hati ini langsung bergejolak dan panas, ingin rasanya menghajar perempuan itu karena sudah berani mengganggu suami orang lain yang tentu berpotensi juga merusak rumah tangga saya kelak.

Bersamaan dengan itu saya pun langsung berteriak memanggil suami, sambil membanting hpnya.

“Darrr…!!!”

Suami saya tentu kaget bukan kepalang, mukanya tampak pucat dan kaget luar biasa. Saya pun menghampiri dan menamparnya dengan sekuat tenaga. “Plakk!! “Kurang ajar kamu mas, kamu tega memperlakukan aku selama ini,”

“Sudah punya anak tapi masih saja main serong sama perempuan lain,” ujar saya sambil terisak.

Waktu itu perasaan saya kacau balau, tiba-tiba ruangan rumah hening, kemudian tangis saya menyusul memecah kebuntuan dalam ruang tengah. Suami hanya diam saja, setelah itu saya berdiri dari sofa,dan berkata  “Pergi.”

“Pergi kamu mas!! teriak saya nyaring. “Sana pergi jauh dari kehidupanku. Aku tak mau dengan kamu, aku sudah tidak mau melihat muka kamu lagi,” tambah saya.

“Ma, dengarkan penjelasanku,” katanya sambil menatap mata saya.

“Aku tak butuh penjelasan apapun dari kamu. Kamu jahat, pergi sekarang juga dari sini,” balas saya sambil terus menangis.

Seperti biasanya, ia selalu mengalah, ia pergi, ia menyadari kesalahannya. Tapi saya tak sempat mendengarkan penjelasannya lebih dalam. Hal itu yang sangat saya sesalkan selama hidup. Ia hanya meninggalkan surat pendek di atas meja.

“Maafin aku Ma, papa salah, tapi kesalahan itu tidak semua dariku, tapi juga mama,” tulisnya di surat itu.

“Papa sayang mama,” tegasnya di baris paling bawah.

Saya hanya bisa memandangi surat itu lama-lama hingga air mata ini kembali berderai penuh rasa sakit tak terhingga. Di sisi yang lain saya juga tak mau kehilangan dia, suami saya terlalu baik untuk bisa saya lupakan, saya suka karakternya, dan juga tanggung jawabnya kepada anak istri.

Saya coba merenung dan menyadari apa saja yang selama ini sudah saya lakukan sehingga membuat suami bisa berpaling dari saya. Memang beberapa hal yang sebenarnya tabu dilakukan seorang istri bisa membuat suami merasa direndahkan atau dilecehkan.

Pikiran saya tiba-tiba saja langsung dibayang-bayang dengan berbagai perangai buruk kepada suami seperti film yang berputar di otak. Saya pun teringat betapa saya selalu berkata yang kasar, berteriak padanya seolah saya paling berkuasa di rumah, langsung menyalahkan jika ada sesuatu yang terjadi di antara kami. Sementara suami saya begitu sabar dan pengertian dengan semua perangai saya.

Saya juga yang selalu memulai pertengkaran kecil yang sebenarnya hanya persoalan remeh, tanpa menyadari mungkin perkataan saya dapat melukai hati dan perasaannya. Tak terasa tiba-tiba air mata ini keluar lagi, mengingatkan tentang semua prilaku buruk saya.

Belum lagi kebiasaan yang tidak mau menerima pendapat dan saran suami jika ada masalah. Saya memang tak pernah menghargai setiap keputusan yang dia sampaikan. Selama ini menganggap remeh apa yang disampaikan suami. Padahal saya juga yang terkadang mengeluh atau menggerutu pada suami jika ada hal yang saya rasa kurang pas dengan saya.

Setelah saya mencari tahu penyebab rusaknya rumah tangga ini, saya pun bertekad ingin memperbaiki semuanya. Saya awali dengan berinisiatif menghubungi nomor kontak perempuan itu, tapi sayang tak bisa dihubungi. Akhirnya saya nekad untuk menemui suami di kantornya satu bulan setelah kejadian itu. Ternyata suami saya sudah memutuskan hubungan dengan perempuan tersebut, tentu di situ saya serasa kembali menemukan cinta dan harapan untuk kembali bersatu,  seperti dulu saat bertemu dan berkenalan pertama kali dengannya.

Iya, seperti yang saya sampaikan di atas bahwa ternyata salah saya banyak, saya termasuk istri yang terlalu menekan suami saya, saya tak bisa menjadikan diri ini sebagai tempat yang baik bagi dirinya. Ternyata hidup dalam rumah tangga itu sederhana, saling mengingatkan jika kita ada salah. Intinya rumah tangga adalah rumah bersama dan tempat tumbuh kembang anak yang baik. Apalagi jika ada masalah jangan pernah diulang-ulang hingga membuat pasangan merasa tidak nyaman.

Saya sependapat dengan, lirik lagu dari William Hoffa, yang menyatakan bahwa “Setiap perjalanan menyimpan pelajaran, apa pun inspirasi dan tujuannya. Namun, apa dan berapa banyak yang dipelajari sangat bergantung pada seberapa terbuka sang pengembara atas apa yang ia temukan dalam perjalanannya.”

Saya sadar jika suami tak selalu salah, dan saya sebagai perempuan harus selalu banyak belajar dan tidak boleh berhenti untuk belajar.

Mytha-Bandung

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here