Istriku, Terimakasih Sudah Mengurus Rumah dan Anak-anak Sepenuh Hati

Istriku, Terimakasih Sudah Mengurus Rumah dan Anak-anak Sepenuh Hati

Dulu, aku tak tahu betapa lelahnya jadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak. Kukira pekerjaan itu sangatlah mudah. Sampai kau jatuh sakit dan aku mengambil alih seluruh pekerjaanmu. Mengurus rumah dan membesarkan anak-anak adalah pekerjaan hebat yang tidak mudah. Setelah kupikir, semua suami seharusnya berterima kasih pada istrinya.

Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, Istriku. Semua yang kau lakukan selama ini sudah menghabiskan tenaga dan waktumu. Dua anak kita tumbuh sehat dan bahagia berkat dirimu. Tapi aku sangat terlambat menyadari itu.

Kukira selama ini anak senang hanya karena aku bekerja keras dan memberi mereka uang jajan. Ya, aku memang melakukan itu. Tapi tanpa keberadaanmu bersama mereka, uang jajan sebanyak apa pun tidak akan ada artinya.

Kesediaanmu untuk selalu bersama mereka adalah hal paling membahagiakan. Aku membayangkan saat kau sakit kemarin dan mereka diurus oleh ayahnya. Betapa murung wajah mereka. Khawatir terhadap ibunya sehingga tak bisa tersenyum walau aku sudah mencoba membuat mereka tertawa.

“Ibu kapan sembuh, mau dimandiin sama ibu aja,” ucap anak kedua kita. Aku terenyuh mendengar itu. Kenapa mereka tak bisa sesenang saat dimandikan dirimu? Padahal aku mencoba sebaik mungkin memperlakukan anak-anak. Tapi hanya Kau, Istriku, yang mereka tunggu.

Anak-anak hanya menginginkan ibunya seorang, tiada yang lain.

Ibu adalah sumber kebahagiaan anak-anak. Tentu saja aku senang melihat anak kita tertawa dan bahagia. Mereka menghampiriku saat pulang kerja dengan riang. Aku tahu, itu bukan karena aku seorang melainkan karena ibunya sudah mengurus mereka dengan baik selama seharian.

Tanpa kau, istriku, anak-anak tak akan seceria saat ini. Sementara rasa lelahku hanya hilang saat melihat anak-anak tertawa. Kau adalah permata yang menyinari keluarga kecil kita. Sumber kebahagiaan bagi anak-anak maupun diriku.

Maafkan aku jika selama ini mengabaikanmu. Rasa lelah bekerja sering menyulut emosiku hingga tak peduli padamu. Membiarkanmu memasak dan membereskan rumah sendiri sementara aku memilih nonton televisi dan minum kopi.

Sungguh, betapa aku tak peduli pada kerja kerasmu. Aku abai selama ini, maafkan.

Aku kerap bersikap egois memikirkan kesenangan sendiri di atas semua keringatmu. Aku tak peduli pada aktivitasmu seharian di rumah, melupakannya, menganggapnya tak ada. Maafkan aku, ya.

Kamu adalah mata air kebahagiaan keluarga. Tidak ada yang sanggup menggantikanmu. Semoga cinta kita abadi. Aku ingin menjaga perasaan ini selamanya.

Terima kasih untukmu yang selama ini menjaga kesehatan anak-anak. Kau merawat anak-anak dengan sangat baik. kau harus tahu, aku ingin kebahagiaan selalu menyertaimu.

Cepat sembuh, Sayang. Anak-anak menantikan dirimu melebihi apa pun. Sebanyak apa pun, uang tak akan bisa membeli kebahagiaan mereka.

Ibu adalah sumber kebahagiaan. Melihat wajah anak yang cemberut, aku sadar tak bisa melakukan apapun tanpa dirimu. Terimakasih sudah menjadi bagian terbaik dalam hidupku. Kesediaanmu bersabar terhadap suami seburuk diriku ini sungguh luar biasa.

Aku akan tetap bekerja keras sembari meluangkan waktu untuk membantumu. Mendengarkan cerita-ceritamu sambil memandangi mata indah itu. Tapi Kau harus sembuh lebih dulu. Jangan pernah menyerah sampai penyakit yang Kau derita lenyap dari tubuhmu.

Semoga Kau cepat sembuh, Istriku. Kau berharap semuanya kembali baik seperti semula. Aku tulis surat cinta ini sebab mulutku sulit berkata sejujurnya. Kau tahu aku sulit mengatakan kalimat mesra di hadapanmu.

Kutuliskan surat ini sebagai bentuk cinta sekaligus janji bahwa aku akan jadi suami yang lebih baik. Suami yang mau membantu istri dan memperhatikannya dengan baik. Kau harus tahu, aku menyayangimu melebihi siapa pun.

Comments

Close Menu