Istriku yang Terbaik Sampai Kapanpun Akan Menjadi yang Terbaik

Istriku yang Terbaik Sampai Kapanpun Akan Menjadi yang Terbaik

Baru kali ini aku mendengar keluh kesah seorang lelaki yang tangguh rapuh dalam pelukanku. Menyirat banyak kisah yang selama ini aku tidak dapat mengetahuinya. Tentu ini adalah perihal rasa dan kerinduan yang teramat sangat. Dari sepasang suami istri yang baru kali terungkap satu sama lainnya.

Aku terharu mendengar ceritanya….!!!

Suamiku bercerita jika selama ini jarak yang terbentang jauh tidak membuat ia bahagia. Walaupun fasilitas yang diberikan kantor memadai dan gaji lebih dari cukup, tapi tetap tidak bisa membuatnya merasa nyaman dan tenang,  itu tak lebih karena keluarga tidak ada di sampingnya.

“Kalian jauh di sana, istri dan anak-anakku, kita hanya bisa bercerita tentang harapan dan kerinduan yang kerap kali terucapkan dalam setiap waktu.” ungkap suamiku di suatu malam.

Malam itu yang ada hanyalah hening bersama sejuknya hati karena telah lama suamiku pergi, tapi sungguh aku hanya bisa mendengarnya dengan seksama, berapa bait bahasanya dituturkan dengan lembut penuh rasa dan perhatian, jadi membuat aku merintih karena takjub dan bahagia disertai kucuran air mata haru.

“Tahukah ma. Betapa hatiku dirindung pilu, setiap hari aku selalu ingin bersama istri, banyak waktu bersama Satria supaya ia mengenal lebih dekat tentang ayahnya.”

“Apakah sampean sudah bosan bekerja mas?” tanyaku.

“Bukan persolan saya harus berhenti kerja dan lepas tanggung jawab sayang, aku cuma ingin lebih dekat saja bersama keluarga,” jawabnya.

“Gunakan waktu sampean bersama keluarga di akhir pekan dengan maksimal mas,” sambungku.

“Saya tak kepikiran akhir pekan sebagai waktu yang luang bersama keluarga. Yang dipikirkan hanya ingin waktu luang tanpa batas bersamamu sayang,” balasnya.

Ada yang menarik dari penyampaian suamiku, di mana ia mendambakan hubungan keluarga yang lebih sempurna, pulang kerja selalu disambut bahagia oleh istri dan Anak.

“Betapa sempurnanya hidup seperti itu ma, bukanya kita juga tak memimpikan hidup  menjadi orang yang punya harta berlipat ganda, tapi yang kita cari adalah hidup bahagia sampai usia senja,” terangnya lagi.

“Akupun demikian pa, setiap kali perjalanan jauh, dan kau belum saja memastikan sampai tujuan, hatiku terasa gemeteran dan bimbang, apakah suamiku sampai tujuan dengan selamat apa belum?” kataku.

Tapi aku juga menegaskan hal lain pada dirinya. Lantas bagaimana kita akan bisa bertahan hidup jika dirinya berhenti kerja, satu sisi kita harus punya tanggung jawab membesarkan Satria sampai selesai kuliah.

“Untuk sementara waktu aku akan menjalani hari-hariku seperti biasa, akhir pekan akan dihabiskan punuh dengan keluarga, bermain air, traveling, pergi jauh bersama Satria anak semata wayang kebangaan ayah,” katanya mantap.

“Asyik, Satria sayang papa,” jerit Satria saat mendengar ucapan suamiku.

“Tapi satu hal lagi, aku juga tetap harus memikirkan bagaimana keluar dari kebosanan ini, dan menemukan jalan yang lain, di mana setiap waktu bisa melihat istriku yang cantik, pintar memasak dan perhatian pada suaminya,” tambahnya.

Sejak percakapan malam itu, aku dan suami saling menguatkan untuk ikut membantu memikirkan jalan keluarnya supaya kita bisa menjadi keluarga yang utuh setiap harinya. Bersama sampai usia tua menghadapi segala upaya dan perjalanan yang menyenangkan setiap waktunya.

“Serasa tidak sempurna jika seorang suami hanya bertugas menafkahi seorang istri dan anak semata, tanpa perlindungan secara fisik dan nyata,” jelasnya.

Akhirnya kami sekeluarga menjalani bisnis, saya sendiri membuka toko sembako di depan rumah dengan uang tambungan suami, dan suamiku juga menyewa sepetak tanah untuk dijadikan kolam ternak ikan Lele dan Nila.

Alhamdulillah di tengah perkampungan kecil di sebuah kecamatan Wadadi kabupaten Banjarnegara akhirnya kami hidup bahagia bersama suamiku tercinta. Dengan usaha apa adanya membuat kami bisa memenuhi kebutuhan keluarga sampai Satria sekolah.

“Seperti inilah kehidupan yang saya impikan sayang, selalu berdekatan, tanpa rasa kawatir dan takut, tapi kita bisa bertahan hidup. Daripada hidup berkecukupan dengan banyak uang tapi anak dan istri jauh dari kasih sayang, apalah arti kasih sayang,” ungkap suamiku.

“mMncintai seorang istri dengan iman, dan mendidik anak pada jalan yang benar, maka Tuhan akan selalu membingbingnya, baik di masa sulit maupun di masa senang. Aku percaya itu,” tuturnya menambahkan.

“Ketulusanmu adalah fatwa yang wajib saya ikuti sebagai istri mas, selama itu demi kebaikan keluarga kita ke depan,” balasku.

Comments

Close Menu