Jadi Ibu Rumah Tangga Itu Menyenangkan, Loh

Jadi Ibu Rumah Tangga Itu Menyenangkan, Loh

Nama saya Gitan Anggraini asal Banyuwangi, pekerjaan mengasuh anak. Akhir-akhir ini juga aktif di media sosial termasuk Facebook. Mau curhat perihal ketakutan yang selama ini sangat mengkhawatirkan masa depan bagi seluruh warganet, khususnya di pelbagai media sosial (Medsos).

Hal yang sangat menakutkan dari “medsos jaman now” adalah banyaknya curhatan dari ibu rumah tangga yang seringkali mengeluh dengan mengurus rumah tangga, seperti masak, ngepel sampai ngurus anak, bahkan ada juga yang berujung pada perceraian.

Alasannya hampir merata sama “bosan, jenuh, suami yang tidak punya penghasilan banyak, dan lain-lain,” bagiku itu sungguh sangat melukai hati sang suami, dan menolak takdir Tuhan yang sudah dipastikan untuk hidup sederhana.

Bukannya cinta dan kebahagian itu sangat sederhana. Bisa makan dengan cukup dan beribadah tepat waktu juga bisa bahagia.

Pernah tidak ibu-ibu berpikiran ngurus rumah itu capek, ngurus anak itu bosan, kalau ibu berpikiran seperti itu berarti ibu-ibu itu calon ibu yang perhitungan banget. Tegas dan perhitungan sih boleh saja tapi jangan berlebihan. Entah kenapa aku sebel banget kalau ada orang ngomong ngurus anak, ngurus rumah tangga itu capek, ngebosenin lah..bla..bla..blaa…

Ibu-ibu yang terhormat….kodrat sebagai seorang perempuan bukannya memang seperti itu? Mengurusi kebutuhan rumah tangga, tidak baik untuk ngomel-ngomel terus di media sosial. Jadi begini ya bunda, jika mengurusi rumah tangga saja masih mengeluh bagaimana dengan suami bunda, pasti akan tambah ngomel tak karuan saat tahu bunda hanya sering marah dan mengomel.

Saran saya ya bunda, jika ibu masak, cuci baju, ngurus anak, dan mengurus semua pekerjaan rumah tangga, tetap pikirkan bagaimana cara agar rileks melakukannya. Kalau mungkin bisa menata lokasi jadi tempat yang nyaman akan lebih baik, jika capek silakan beristirahat sejenak sambil selonjoran di depan televisi menonton sinetron kesayangan.

Bayangkan juga bagaimana jika suami bunda bukan pekerja kantoran, ada juga yang suaminya bekerja di tempat yang panas, berada di bawah terik matahari, menghadapi hujan, menahan letih hingga waktu kerja selesai, pulang kerja bunda tinggal menagih banyak permintaan ke suami, pikirkan betapa capeknya dia yang telah bekerja seharian.

Bagaimana bunda bisa mengatakan jika momong anak itu membosankan, bukannya anak dilahirkan sebagai penghibur di dalam rumah tangga, sedangkan suami sebagai tempat bersandar yang paling nyaman untuk bunda.

Genggam tangannya bunda, lihat dan perhatikan sehalus tangan bunda atau tidak? Pandanglah mata suami dengan tajam, perhatikan dengan serius di sana bunda akan mengerti dan memahami jika suami bunda adalah tulang punggung yang selalu berani berkorban untuk diri bunda dan anak-anaknya.

Jangan katakan membosankan, karena itu tak adil rasanya jika menilai dari sebelah pihak…apalagi bunda belum pernah melakukan pekerjaannya walaupun hanya mengusap keringat kelelahannya sehabis pulang kerja.

Mungkin bunda kurang ikhlas, bunda terlalu perhitungan dalam mengurus anak sendiri, hingga sering bertengkar dengan suami hanya karena alasan mengurus rumah tangga yang melelahkan, anak nakal dan susah diatur, serta alasan klasik lainnya.

Padahal bisa saja karena bunda yang kurang telaten, bagi saya mengurus rumah tangga adalah kegiatan ibadah yang memang butuh kesabaran, intinya kita harus selalu sabar dan bersabar, pasti Tuhan memberikan cobaan atau pekerjaan sesuai dengan porsi yang tepat pada kita sesuai dengan kemampuan.

Buat bunda yang baik hati, mari kita belajar ikhlas untuk semua yang kita kerjakan di dalam rumah, karena itu pasti akan jadi lebih menyenangkan. Lelahnya menjadi ibadah, hidupnya menjadi tentram, rezekinya lancar dan anaknya jadi anak yang soleh serta soleha.

Seperti yang saya terapkan di dalam rumah tangga kami. Bisa makan dengan hasil keringat yang halal, bisa membuat anak sekolah, bisa membuat hati suami tanang setiap hari, adapun pekerjaan rumah tangga yang lainnya kami kerjakan bersama, tapi terkadang sebelum suami saya membantu, saya selesaikan terlebih dahulu.

Kedua, saya bisa membelikan anak susu dan suplemen, itu pun sudah membuat keluarga kami tidak pernah berhenti untuk melepas tawa, karena kami sadar semua harta yang kami punya hanyalah titipan semata dari Yang Maha Kuasa.

 

*Gitan Anggraini- Banyuwangi*

Comments

Close Menu